Kata Ahli Ada 6 Kelompok Gejala Covid-19, Kamu Kesenggol yang Mana?

Berandasehat.id – COVID-19 mungkin bukan hanya satu penyakit, tetapi enam jenis berbeda, demikian klaim sebuah studi baru di Inggris. Setiap jenis COVID berbeda dalam tingkat keparahan dan kebutuhan untuk dukungan pernapasan selama rawat inap.

Batuk, demam, dan kehilangan penciuman adalah gejala umum COVID-19, tetapi berbagai gejalanya dapat mencakup sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, diare, kebingungan, kehilangan nafsu makan, sesak napas, dan banyak lagi.

Pada penelitian ini, para peneliti menganalisis data pada 1.600 orang yang melaporkan gejala mereka ke dalam sebuah aplikasi. Enam kelompok gejala secara berurutan dari yang paling ringan hingga yang paling parah dalam uraian berikut:

1. Sakit kepala, kehilangan penciuman (anosmia), nyeri otot, batuk, sakit tenggorokan, nyeri dada, tidak demam.

2. Sakit kepala, kehilangan penciuman, batuk, sakit tenggorokan, suara serak, demam, kehilangan nafsu makan.

3. Sakit kepala, kehilangan penciuman, kehilangan nafsu makan, diare, sakit tenggorokan, nyeri dada, tidak batuk.

4. Sakit kepala, kehilangan penciuman, batuk, demam, suara serak, nyeri dada, kelelahan.

5. Sakit kepala, kehilangan penciuman, kehilangan nafsu makan, batuk, demam, suara serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, kelelahan, kebingungan, nyeri otot.

6. Sakit kepala, kehilangan penciuman, kehilangan nafsu makan, batuk, demam, suara serak, sakit tenggorokan, nyeri dada, kelelahan, kebingungan, nyeri otot, sesak napas, diare, sakit perut.

Tiga jenis terakhir terkait dengan penyakit paling parah, catat para peneliti. Kisaran mereka yang memiliki gejala parah yang membutuhkan bantuan pernapasan berkisar antara 9% hingga 20%, sedangkan orang yang terinfeksi COVID yang memiliki gejala lebih ringan yang membutuhkan bantuan pernapasan berkisar antara 2% hingga 3%.

Peneliti menemukan hampir setengah dari pasien dengan gejala paling parah berakhir di rumah sakit, dibandingkan dengan 16% dari mereka yang memiliki gejala paling ringan, temuan menunjukkan.

Menggunakan campuran gejala, berat badan dan faktor lainnya, para peneliti mengembangkan model yang memprediksi pasien mana yang perlu dirawat di rumah sakit dan membutuhkan bantuan pernapasan.

“Temuan ini memiliki implikasi penting untuk perawatan dan pemantauan orang-orang yang paling rentan terhadap COVID-19 yang parah,” kata peneliti Dr. Claire Steves, dari King’s College London.

“Jika dapat memprediksi siapa orang-orang ini pada hari kelima, maka kita memiliki waktu untuk memberi mereka dukungan dan intervensi awal seperti memantau kadar oksigen dan gula darah, dan memastikan mereka terhidrasi dengan baik—perawatan sederhana yang dapat diberikan di rumah, mencegah rawat inap di rumah sakit dan menyelamatkan nyawa,” kata Steves dalam siaran pers perguruan tinggi dikutip MedicalXpress.

Laporan tersebut dipublikasikan secara online pada 28 Juli di medRxiv, server pracetak yang tidak menyertakan tinjauan sejawat. (BS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s