Ternyata Ini Kontributor Utama Kematian pada Pasien Covid-19

Berandasehat.id – Jumlah virus corona yang tinggi di organ paru adalah kontributor utama kematian pada pasien COVID-19, demikian menurut penelitian baru.

Temuan ini menantang teori sebelumnya bahwa infeksi simultan seperti pneumonia atau reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh merupakan faktor signifikan dalam kematian COVID-19, catat para peneliti.

Untuk sampai pada kesimpulan itu, para peneliti menganalisis sampel bakteri dan jamur dari paru 589 pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit yang sakit parah dan membutuhkan ventilasi mekanis.

Rata-rata, pasien yang meninggal memiliki 10 kali jumlah virus di saluran napas bawah mereka daripada mereka yang selamat dari penyakit itu.

“Temuan kami menunjukkan bahwa kegagalan tubuh untuk mengatasi sejumlah besar virus yang menginfeksi paru sebagian besar bertanggung jawab atas kematian COVID-19 dalam pandemi ini,” kata penulis utama studi Dr. Imran Sulaiman, seorang profesor di departemen kesehatan NYU Langone Health.

Tidak ada bukti infeksi bakteri sekunder sebagai penyebab kematian, tetapi ini mungkin karena pasien menerima antibiotik dalam jumlah besar, kata penulis studi yang dipublikasikan secara online pada 31 Agustus di jurnal Nature Microbiology.

Pedoman dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) tidak menganjurkan pemberian antivirus seperti remdesivir kepada pasien COVID-19 yang sakit parah dengan ventilasi mekanis, tetapi temuan ini menunjukkan bahwa obat ini sebenarnya dapat bermanfaat bagi pasien ini, kata Sulaiman dalam rilis berita NYU Langone.

Menurut penulis senior studi Dr. Leopoldo Segal, seorang profesor di departemen kedokteran NYU Langone, hasil ini menunjukkan bahwa masalah dengan sistem kekebalan adaptif mencegahnya memerangi virus corona secara efektif. “Jika dapat mengidentifikasi sumber masalah ini kita mungkin dapat menemukan pengobatan yang efektif yang bekerja dengan memperkuat pertahanan tubuh sendiri,” ujarnya.

Segal mencatat bahwa penelitian ini hanya mencakup pasien yang selamat dari dua minggu pertama rawat inap, jadi ada kemungkinan infeksi bakteri atau reaksi autoimun dapat memainkan peran lebih besar dalam kematian COVID-19 yang terjadi lebih awal.

Langkah tim peneliti selanjutnya adalah menyelidiki bagaimana komunitas mikroba dan respons imun di paru-paru pasien COVID-19 berubah dari waktu ke waktu, kata Segal.

Tingkat kematian pasien COVID-19 AS yang harus memakai respirator mekanis mencapai sekitar 70%. (BS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s