Berandasehat.id – Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan secara holistik kian berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Belakangan ini kerap kita dengar istilah wellness tourism. Mungkin sebagian masih ada rancu dengan medical tourism karena istilah ini lebih dulu populer.

Menurut dr. Andry Edwin Dahlan, seorang pakar wellness tourism, sejatinya gaya hidup ini mulai jadi tren pada akhir 2020 di masyarakat. “Mereka tidak hanya ingin hidup enak melainkan juga dying well atau meninggal dalam kondisi berkualitas. Jadi, kita nggak harus sakit-sakitan menderita di rumah sakit terus sampai meninggal,” ujar dalam Live Instagram Asah Kebaikan bertajuk Trend Terkini Wellness Tourism, Sabtu (30/10).

Andry menuturkan, kondisi tersebut bukan hal mustahil, bahkan untuk orang yang telah mengalami penyakit tertentu. Bisa dibilang, wellness tourism merupakan konsep orang sehat pergi ke suatu tempat dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatannya, pencegahan penyakit dan rehabilitasi pasca sakit. “Wellness tourism diartikan sebagai aktivitas kesehatan tanpa menggunakan pisau (bedah),” ujar Andry.

Ilustrasi spa wellness tourism (dok. istimewa)

Tak dimungkiri, masyarakat mungkin belum terlalu familiar dengan wellness tourism dibandingkan medical tourism. Namun sejatinya, keduanya menginduk pada health tourism. “Bedanya, kalau medical tourism umumnya pergi ke suatu tempat dalam skala nasional maupun internasional dalam upaya kuratif atau pengobatan, sedangkan wellness tourism merupakan langkah untuk memperoleh kesehatan secara holistik, sosial maupun konsep spiritualnya,” beber Andry. 

Konsep kesehatan holistik tidak lain dari kata well yang diambil dari wellbeing dan ness dari fitness. Andry menambahkan wellness tourism dapat dilakukan dengan berbagai cara dengan tujuan well. “Ini sebenarnya konsep holistik gaya Timur. Oleh karena itu, konsep holistik wellness itu banyak berkembang di negara-negara yang menganut budaya Timur, pengobatan Timur. Sekarang ini, orang banyak trennya meditasi,” ujar Head of Project Indonesia Medical & Health Tourism yang dikembangkan oleh PT Medical Advance Indonesia.

Andry menyampaikan, di Indonesia wellness tourism dilakukan di alam karena potensi alam Indonesia luar biasa besar. Dia mencontohkan, pemanfaatan hutan untuk wellness tourism telah dikenal di Jepang sejak, 1982. “Mereka mengemas dalam hutan kecil. Peserta yang ikut tidak boleh melakukan workout (olahraga) keras. Mereka hanya berjalan, melakukan keheningan, merasakan energi tumbuh-tumbuhan masuk ke dalam tubuh ditambah gerakan olah napas,” tutur Andry.

Dia menambahkan, dari beberapa riset kedokteran menyatakan bahwa wellness tourism mampu meningkatkan metabolisme tubuh karena adanya keterlibatan plant energy (energi tumbuh-tumbuhan). Beberapa manfaat yang bisa dipetik, yaitu tekanan darah menurun, kadar gula darah menurun, tubuh terisi penuh energi (recharging energy). “Nah, itu ada beberapa risetnya,” ujar dokter yang menekuni wellness tourism sejak 5 tahun silam.

Andry menekankan, wellness tourism ada bukti ilmiahnya bukan sekadar isapan jempol. Hal ini telah dilakukannya beberapa tahun belakangan, Andry menggabungkan wisata alam/geowisata dan melakukan program wellness. “Orang-orang dapat recharge energy dengan melakukan wellness tourism. Dan beberapa peserta yang kita tanya setelah itu, efektifitas kerjanya meningkat. Itu tujuannya ke sana,” terangnya.

Potensi Wellness Tourism Indonesia Besar

Andry menyampaikan, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan wellness tourism. Di antaranya, Indonesia memiliki 127 gunung berapi yang di dalamnya mengandung geothermal atau sumber mata air panas bumi. 

“Geothermal ini memiliki efek kesehatan. Di beberapa Onsen atau tempat berendam sumber air panas di Jepang sudah ada riset bahwa berendam di sumber air panas dapat meningkatkan kelancaran aliran darah. Selain itu, pembuluh darah menjadi rileks sehingga tekanan darah ikut turun. Manfaat lainnya, beberapa penyebab kelelahan, seperti asam laktat, bisa pecah. Kemudian berendam di sumber air panas juga membangkitkan serotonin atau hormon anti stres yang membuat happy,” bebernya.

Bahkan sejumlah geothermal di Indonesia memiliki manfaat lain. Dalam perjalanannya, Andry menemukan geothermal di Belitung yang mengandung selenium. Dalam dunia kedokteran, mineral selenium banyak digunakan untuk anti-aging medicine atau peremajaan.

Selenium juga bermanfaat dalam perawatan sakit sendi/artritis maupun rematik/radang sendi. “Belum semua kita mapping (petakan). Kalau kita menemukan sumber mineral lain dari rangkaian geothermal, kita bisa buat satu geothermal center untuk geothermal therapy,” ujar dia.

Andry mencontohkan New Zealand yang menjadi kunjungan dunia untuk berendam di air panas dan air mineral. “Banyak turis melakukan wellness tourism di geothermal di New Zealand untuk menyembuhkan kelainan saraf, kelainan pasca stroke maupun lansia yang mengalami kesulitan berjalan,” tandasnya. (BS)