Berandasehat.id – Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada 2016, tingkat kematian akibat penyakit jantung sebesar 122 orang per 100 ribu populasi. Angka ini lebih tinggi dibandingkan penyebab lainnya, seperti stroke, tuberkulosis TB/TBC), atau diabetes melitus.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka kejadian penyakit jantung di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun dengan prevalensi penyakit sebesar 1,5%. Itu artinya, 15 dari 1.000 orang Indonesia menderita penyakit jantung. Tak hanya pada penduduk usia tua, penyakit ini pun telah banyak menyerang kelompok usia muda.

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Eko Saputra MBiomed SpJP,  ada lima faktor penyebab gangguan jantung, yaitu tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol, merokok dan obesitas,” kata Ketua The 20th Annual Progress in Cardiovascular Disease (APICD) 2021 dalam temu media di Mega Kuningan, Jakarta selatan, Sabtu 6 November 2021

APICD 2021 digelar oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Banten. Topik yang diangkat tahun ini mengenai gagal jantung. Bicara tentang gagal jantung, dr Eko menjelaskan ada beragam penyebab dan hal-hal yang berisiko menimbulkan kondisi itu. 

Ilustrasi The 20th Annual Progress in Cardiovascular Disease (APICD) 2021 PERKI Banten (dok. istimewa)

Gagal jantung (heart failure) merupakan kondisi ketika jantung tidak mampu memompa darah dan oksigen secara efektif ke seluruh organ tubuh yang membutuhkan. Akibatnya, banyak fungsi organ tubuh akan terganggu.

“Gagal jantung tidak terjadi secara mendadak, namun berkembang seiring waktu antara lain bengkak di pergelangan kaki, mudah lelash, napas ngos-ngosan bahkan saat naik tangga hanya beberapa tingkat,” ujarnya.

Untuk gejala yang tidak khas gagal jantung disertai perasaaan berdebar. Bila merasakan keluhan seperti itu, Eko menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis jantung untuk memastikan penyebabnya.

Untuk diketahui, gagal jantung adalah kondisi yang terjadi akibat adanya suatu penyakit kronis yang membuat jantung kaku, lemah, bekerja terlalu keras dalam jangka panjang, atau mengalami kerusakan struktural, misalnya pada otot atau katup jantung. Sejumlah kondisi yang dapat menyebabkan gagal jantung di antaranya hipertensi dan diabetes melitus yang tidak terkontrol.

Meluruskan Mitos, Menangkal Hoax Sakit Jantung

Harus diakui, di masyarakat banyak beredar mengenai mitos dan hoax terkait sakit jantung. “Kami dari PERKI Banten berusaha mengendalikan pencetus munculnya sakit jantung seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol, merokok dan obesitas,” ujarnya.

Eko menambahkan, jika hal itu dapat dikendalikan maka angka penderita jantung jadi menurun. Salah satu caranya adalah memberikan informasi yang benar di masyarakat. “Banyak mitos yang tersebar jadi kami ingin meluruskan,” ujarnya.

Hoax dan mitos yang berkembang pesat di masyarakat yang membuat orang semakin takut mendengar penyakit jantung. Karenanya, APICD berusaha untuk menyediakan sarana bagi para ahli jantung untuk menangkal atau mengklarifikasi informasi hoax atau mitos tersebut.

Salah satu caranya adalah merilis buku yang ditulis oleh 70 dokter dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang tergabung dalam organisasi PERKI BANTEN. Buku untuk awam ini berjudul “70 Mitos atau Fakta seputar Penyakit Jantung” yang  dirilis November tahun ini.

Di kesempatan yang sama, Dr.dr. Pudjo Rahasta Sp.PJ(K)  menyampaikan, ada 70 materi mitos -fakta dan hoax terkait penyakit jantung dan pembuluh darah yang dikupas oleh dokter ahli jantung dilengkapi dengan jurnal ilmiah. “Misalnya, apakah makan durian boleh dikonsumsi oleh penyandang diabetes? Boleh, asalkan kadar gula darahnya terkobtrol,” ujar dr Pudjo yang menjadi salah satu penyunting buku yang diperuntukkan bagi masyarakat awam.

Dia menambahkan, buku ini diharapkan mampu mencerdaskan masyarakat Indonesia untuk menangkal hoax dan meluruskan mitos.

Selain buku untuk awam, APICD juga menerbitkan buku untuk membantu dokter umum memahami masalah jantung. “Buku kami susun menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dilengkapi kajian ilmiah terpercaya,” imbuhnya.

Untuk diketahui, APiCD 2021 merupakan rangkaian kegiatan ilmiah tahunan yang diselenggarakan oleh PERKI Banten diselenggarakan pada 6-7 November dan 13-14 November 2021 bekerja sama dengan Alomedika dan Pengelolaan Nama Domain Internet Indonesia (PANDI).

APICD berusaha untuk menyediakan sarana bagi para ahli jantung untuk menangkal atau mengklarifikasi informasi hoax atau mitos tersebut. Secara konsisten APICD telah dilaksanakan setiap tahun, dan tahun ini memasuki edisi  ke 20. 

Rangkaian acara APICD ini meliputi konferensi pers, simposium, workshop, lomba poster, lomba video edukasi kesehatan jantung, sekaligus peluncuran website banten.perki.id dan peluncuran buku serial yang mengupas gagal jantung bagi tenaga kesehatan dan buku mitos fakta seputar penyakit jantung bagi masyarakat awam. (BS)