Berandasehat.id – Orang dewasa yang menggunakan rokok elektronik/elektrik memiliki risiko 15% lebih tinggi mengalami stroke pada usia yang lebih muda jika dibandingkan dengan orang dewasa yang merokok tradisional meskipun mereka berisiko tinggi terkena stroke dengan merokok tembakau, menurut penelitian awal yang akan dipresentasikan di Sesi Ilmiah Asosiasi Jantung Amerika 2021.

Merokok tembakau merupakan faktor risiko utama yang diketahui untuk stroke dan serangan jantung dan perilaku ini merenggut hampir 480.000 nyawa sebelum waktunya (kematian dini) setiap tahun di AS.

Penggunaan rokok elektrik secara global – merupakan perangkat bertenaga baterai yang mengirimkan nikotin bersama dengan bahan kimia lain dalam bentuk aerosol – telah meningkat secara substansial dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pengetahuan tentang keamanan, risiko, dan potensi rokok elektrik sangat terbatas untuk membantu orang berhenti merokok.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang dampak serebrovaskular dari penggunaan rokok elektrik, para peneliti memeriksa Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional dari 2015 hingga 2018 untuk mengidentifikasi 79.825 orang dewasa dengan riwayat stroke yang menggunakan rokok tradisional atau rokok elektrik. 

Ilustrasi rokok konvensional vs rokok elektrik (dok. istimewa)

Di antara peserta, 7.756 (9,72%) menggunakan rokok elektrik; 48.625 (60,91%) menggunakan rokok tradisional; dan 23.444 (39,37%) menggunakan keduanya.

Para peneliti menemukan bahwa meskipun stroke lebih umum di kalangan perokok tradisional, perokok elektrik memiliki risiko 15% lebih tinggi terkena stroke pada usia yang lebih muda.

“Masyarakat perlu mengetahui bahwa keamanan rokok elektrik belum terbukti aman dan tidak boleh dianggap sebagai alternatif dari rokok tradisional terutama di kalangan orang-orang dengan faktor risiko yang ada seperti riwayat serangan jantung, tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi,” kata penulis utama studi tersebut Urvish K. Patel, MD, MPH, peneliti dan kepala petugas pendidikan di departemen kesehatan masyarakat dan neurologi di Icahn School of Medicine di Mount Sinai di New York City.

Temuan penting studi antara lain:

Orang dewasa yang menggunakan rokok elektrik pertama kali terkena stroke di usia lebih muda, rata-rata 48 tahun, dibandingkan dengan usia 59 tahun untuk orang yang merokok rokok tradisional dan usia 50 tahun untuk mereka yang menggunakan keduanya.

Stroke jauh lebih umum di kalangan perokok tradisional daripada pengguna rokok elektrik atau orang yang menggunakan keduanya, masing-masing 6,75% dibandingkan 1,09% dan 3,72%.

Di antara wanita yang mengalami stroke, 36,36% menggunakan rokok elektrik dibandingkan dengan 33,91% yang merokok rokok tradisional.

Di antara peserta studi Meksiko-Amerika, 21,21% menggunakan rokok elektrik dan 6,02% merokok rokok tradisional; 24,24% peserta Hispanik Amerika non-Meksiko menggunakan rokok elektrik dan 7,7% merokok rokok tradisional.

“Banyak orang yang mengetahui bahwa nikotin adalah bahan kimia dalam produk vaping seperti halnya pada rokok konvensional, namun ada banyak bahan kimia lain yang termasuk yang secara langsung dapat mempengaruhi lapisan pembuluh darah,” jelas peneliti. 

“Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah yang diakibatkan aterosklerosis, tetapi juga dapat menyebabkan cedera yang melemahkan kekuatan pembuluh darah, predisposisi pembentukan bekuan dan dapat merusak pembuluh darah dari waktu ke waktu, sehingga individu berisiko terkena stroke iskemik dan hemoragik,” terang Karen L. Furie, MD, MPH, seorang ahli sukarelawan American Heart Association dan ketua Departemen Neurologi di Warren Alpert Medical School Brown University di Providence, Rhode Island. 

“Sangat mungkin bahwa paparan pada usia yang lebih muda dapat menyebabkan kerusakan permanen pada pembuluh darah di seluruh tubuh dan terutama di otak. Saya pikir penting bagi kaum muda untuk memahami bahwa rokok elektrik bukanlah alternatif yang aman, dan bahwa cara terbaik untuk menjaga kesehatan otak dan mencegah stroke adalah dengan menghindari semua produk rokok dan nikotin,” tuturnya.

“Temuan ini memiliki implikasi yang jelas bagi dokter, pembuat kebijakan perawatan kesehatan, dan otoritas pengatur produk tembakau yang mengadvokasi peraturan baru tentang akses, penjualan, dan pemasaran rokok elektrik,” kata rekan penulis, Neel Patel, MD, seorang sarjana penelitian di departemen kesehatan masyarakat di Icahn School of Medicine di Mount Sinai di New York City. 

“Orang-orang perlu diperingatkan bahwa rokok elektrik tidak boleh dipromosikan sebagai pilihan alternatif untuk merokok rokok tradisional yang mudah terbakar,” bebernya.

Keterbatasan penelitian ini adalah bahwa para peneliti tidak memiliki data tentang jenis atau tingkat keparahan stroke peserta dan masih banyak yang harus dipelajari tentang mengapa penggunaan rokok elektrik dikaitkan dengan usia yang lebih muda untuk stroke pertama. 

Para peneliti mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih mengevaluasi efek jangka panjang dari rokok elektrik dan perannya dalam kesehatan jantung dan stroke, demikian laporan MedicalXpress. (BS)