Berandasehat.id – Pandemi Covid-19 turut mendorong percepatan proses digitalisasi, tak terkecuali di industri kesehatan. Fasilitas konsultasi jarak jauh (telemedicine) kian digencarkan dalam dua tahun terakhir terkait upaya pencegahan penularan Covid-19 dengan adanya beragam pembatasan tatap muka saat kasus tinggi. 

Sejatinya, uji coba layanan telemedicine dilakukan antara lain untuk konsultasi dan diagnosis jarak jauh berbasis tele-radiologi, tele-ultrasonografi, dan tele-elektrokardiologi sudah dikenalkan di Indonesia sejak 2017.

Tahun ini, layanan telemedicine semakin banyak digunakan karena berkaitan dengan track and trace system di bidang kesehatan dan farmasi. Tren digitalisasi di industri kesehatan makin terasa dan kian dibutuhkan masyarakat, khususnya di masa pandemi untuk mengakses layanan kesehatan/konsultasi dokter secara lebih aman.

Ilustrasi konsultasi telemedicine (dok. istimewa)

Disampaikan CEO KlikDokter Hendra Heryanto Tjong, pandemi Covid-19 turut mendorong pertumbuhan KlikDokter naik hingga 55% sejak 2020. Telemedicine lebih didominasi dari pemeriksaan kandungan dan kesehatan anak. Inilah yang menjadikan layanan HalloBumil, sebagai unit KlikDokter, justru berkembang pesat di masa pandemi.

HalloBumil merupakan aplikasi kehamilan dan parenting interaktif di bawah KlikDokter. “Saat ini lebih dari 1,5 juta pengguna HalloBumil dengan lebih dari 300.000 pengguna aktif tiap bulannya,” tutur Hendra dalam webinar Peran Digitalisasi dalam Pengembagan Inovasi dan Bisnis di Industri Farmasi yang digelar secara virtual, Rabu (17/11). 

Tak dimungkiri, kepedulian orang tua terhadap anak, khususnya balita, menjadi salah satu pendorong perkembangan HalloBumil, sebut Hendra.

Heryanto optimistis digitalisasi industri kesehatan agar berkembang pesat di tahun-tahun mendatang, termasuk dalam hal ini telemedicine yang dijalankan KlikDokter. “Layanan telemedicine akan bersifat melengkapi layanan konvensional bukan menggantikannya,” ujarnya.

Dia menambahkan, telemedicine akan digunakan sebagai langkah awal pengguna mencari informasi dasar sebelum pengguna datang ke klinik/rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih mendalam.

Kesempatan sama, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menyampaikan, layanan digital menjadi penting untuk menjaga keamanan dan kenyamanan berbagai pihak, khususnya selama menjalani isolasi mandiri.

Terkait perkembangan tersebut, Hermawan mendorong pelaku pelaku bisnis di industri farmasi untuk memaksimalkan penggunaan telemedicine ini. “Pelaku usaha harus mampu membawa transformasi digital yang dapat dirasakan oleh masyarakat secara seamless. Dengan banyaknya masyarakat yang isolasi mandiri kala pandemi melanda, peran telemedicine menjadi andalan untuk mencari informasi, konsultasi dengan dokter, dan membeli obat-obatan yang dibutuhkan,” bebernya.

Hermawan menambahkan, tujuan dari digitalisasi bidang kesehatan dan farmasi adalah menjaga akses layanan dan biaya yang terjangkau oleh berbagai kalangan.  Pelayanan kesehatan berbasis telemedicine, sudah mencangkup konsultasi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE); konsultasi klinis (anamnesa/tanya jawab dokter-pasien, pemeriksaan fisik tertentu) yang dilakukan melalui audiovisual; juga pemberian anjuran/nasihat yang dibutuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang dan/atau hasil pemeriksaan fisik tertentu, dan sebagainya.

Hendra menambahkan, perkembangan farmasi digital ditandai dengan tiga hal, yakni perubahan ke digital dimana platform jual-beli online telah banyak digunakan untuk membeli produk farmasi, perubahan perilaku konsumen yang membeli berbagai produk melalui omnichannel, dan komunikasi marketing kini langsung dilakukan oleh merek sendiri.

Bicara potensi pasar, CEO KlikDokter menambahkan Indonesia merupakan pasar terbesar di ASEAN. Per tahun 2020, populasi di Indonesia mencakup 25% Generasi Y dan 28% Generasi Z yang mengerti teknologi dan antusias terhadap kesehatan. “Hal ini membentuk market size senilai Rp60 triliun,” tandasnya. (BS)