Berandasehat.id – Anak terlahir prematur memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan serius dan jangka panjang. Karenanya, anak-anak yang terlahir dalam istilah awam – belum cukup bulan – perlu mendapat perhatian dan penanganan serius.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal Dr. dr. Rima Irwinda, Sp.OG(K) memaparkan, faktor risiko yang berpotensi menyebabkan kelahiran prematur dapat dikategorikan dalam tiga karakteristik, yakni ibu, nutrisi, dan kehamilan.

Karakteristik ibu terkait usia, kebiasaan merokok, dan kondisi psikologis ibu. Faktor risiko berdasarkan karakteristik nutrisi terkait indeks massa tubuh, kenaikan berat badan selama kehamilan, kebiasaan makan, kebiasaan minum kopi, dan konsumsi suplementasi. Sedangkan faktor risiko berdasarkan karakteristik kehamilan meliputi riwayat persalinan, riwayat memiliki anak kembar, masalah kesehatan selama kehamilan, dan riwayat pemeriksaan USG.

Ilustrasi kehamilan (dok. istimewa)

“Riwayat kelahiran dapat meningkatkan risiko prematur bagi ibu yang memiliki riwayat abortus memiliki risiko 1,9 kali,  riwayat persalinan prematur risikonya 3 kali dan riwayat persalinan sesar 2,9 kali lebih berisiko,” ujar Rima dalam temu media virtual yang dihelat Danone Specialized Nutrition Indonesia dalam menandai Hari Prematur Sedunia, Rabu (17/11).

Faktor risiko persalinan prematur lainnya, imbuh Rima adalah, usia ibu melahirkan kurang dari 19 atau lebih dari 35 tahun. “Stres kehamilan yang dialami ibu, dan jumlah cairan ketuban yang tidak normal juga dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur,” terang Rima.

Dia menambahkan, salah satu upaya untuk menurunkan risiko kelahiran prematur dapat dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi ibu hamil melalui suplementasi omega 3, zinc/seng, vitamin D3, atau multi-mikronutrien.

Menurut riset Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 1 dari 10 anak lahir prematur. Setiap tahun diperkirakan 15 juta anak di seluruh dunia lahir sebelum waktunya. Sedangkan situasi di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar 2019 (Riskesdas) menyebut 84% kematian pada anak yang baru lahir di Indonesia disebabkan oleh kelahiran prematur. Semakin pendek masa kehamilan, semakin besar risiko kematian dan morbiditas (kecacatan). 

Rima menambahkan, hal utama yang harus dilakukan adalah memberikan edukasi untuk mendukung kehamilan yang sehat, konsultasi kepada ahlinya, dan menekankan pentingnya memahami faktor risiko kelahiran prematur. (BS)