Berandasehat.id – Ditindas dapat menyebabkan masalah kesehatan mental segera setelah seseorang mendapatkan intimidasi, seperti memiliki citra diri yang negatif atau merasa tertekan atau kesepian. 

Tim peneliti dari Tilburg University, University of Antwerp dan Open University Heerlen telah menunjukkan bahwa ada juga konsekuensi jangka panjang seperti kecemasan, citra manusia yang kurang positif pada orang dewasa muda yang diintimidasi baik online maupun offline selama masa remaja.

Ilustrasi korban perundungan (dok. istimewa)

Para peneliti mensurvei lebih dari 1.600 orang dewasa muda Belanda dan Flemish antara usia 18 dan 26 tahun tentang pengalaman intimidasi mereka antara usia 10 dan 18 tahun dan kesehatan mental mereka saat ini.

“Generasi dewasa muda saat ini adalah generasi pertama yang dapat diintimidasi baik secara online maupun offline selama masa kanak-kanak dan remaja dan ini membuat mereka menjadi kelompok yang menarik untuk diteliti terkait konsekuensi jangka panjangnya,” ujar Dr. Sara Pabian, peneliti utama ini projek di Tilburg School of Humaniora dan Ilmu Digital.

Selama masa dewasa, mantan korban memiliki citra diri yang kurang positif, lebih takut melakukan kontak sosial, dan kurang puas dengan kehidupannya dibandingkan dengan orang dewasa yang tidak mengalami penindasan.

“Secara khusus, persepsi saat ini tentang dampak negatif dari peristiwa yang tidak menyenangkan ini tampaknya menjelaskan hubungan antara keparahan pengalaman intimidasi online dan offline dan kesejahteraan mental selama masa dewasa,” kata Pabian. 

“Mereka yang telah diganggu lebih sering dan mengalami dampak negatif yang lebih besar hari ini, yang pada gilirannya dikaitkan dengan kesejahteraan mental yang lebih rendah,” imbuhnya.

Mantan korban menggambarkan tidak hanya dampak pada kesejahteraan mental, tetapi juga dampak negatif pada kepribadian mereka (siapa mereka hari ini) dan kesehatan fisik. Selain dampak negatif, beberapa responden juga menggambarkan dampak positif, seperti lebih tahan banting, merasa fisik dan mentalnya lebih kuat, serta menjalin persahabatan yang erat dengan individu yang membela mereka, demikian menurut artikel yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Aggressive Behavior. (BS)