Berandasehat.id – Infeksi COVID-19 diketahui mempengaruhi orang lanjut usia lebih parah. Sebuah studi baru, yang diterbitkan dalam EMBO Reports, menemukan alasan di balik ini kemungkinan terkait dengan peningkatan reseptor sel virus, ACE2.

Selama proses penuaan, disfungsi telomer secara bertahap membangun dan mengaktifkan respons kerusakan DNA, yang menyebabkan peningkatan reseptor SARS-CoV-2, yakni ACE2. Peningkatan ekspresi ACE2 di paru dapat menjelaskan peningkatan keparahan infeksi COVID-19 pada orang tua.

Penelitian, yang dilakukan oleh ilmuwan Italia dan Amerika, mengonfirmasi adanya peningkatan ekspresi protein ACE2 pada paru manusia dan tikus yang menua. ACE2 sebagian besar ditemukan dalam sel epitel tipe II alveolar (ATII), yang kemungkinan menjadi target infeksi COVID-19. Para peneliti mencatat bahwa virus pertama kali menyerang paru, dan komplikasi paling umum di antara pasien COVID-19 adalah pneumonia (91% insiden).

Ilustrasi perawatan Covid (dok.istimewa)

Menggunakan model in vitro dan in vivo, para peneliti mereplikasi aspek penuaan, termasuk pemendekan telomer dan kerusakan jaringan. Telomer yang menjadi terlalu pendek mengaktifkan jalur respons kerusakan DNA. Para peneliti menghambat kerusakan DNA dengan menargetkan ATM dengan telomeric antisense oligonucleotides (tASO).

Untuk mengkonfirmasi peningkatan ACE2 dalam sel ATII, para peneliti melakukan imunofluoresensi penanda ganda untuk ACE2 dan penanda yang mengidentifikasi sel ATII (pro-SP-C pada tikus atau TTF-1 pada manusia) dalam sampel paru-paru pada berbagai usia. 

Imunofluoresensi menunjukkan bahwa ekspresi ACE2 pada pneumosit ATII meningkat seiring bertambahnya usia; peningkatan serupa diamati pada jenis sel lain. Temuan menunjukkan bahwa kemungkinan aktivasi respons kerusakan DNA, bukan pemendekan telomer, yang menyebabkan peningkatan regulasi gen dan protein ACE2.

Studi ini mencatat bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami apakah mengurangi ekspresi ACE2 juga mengurangi infeksi dan tingkat keparahan COVID-19. Karena ACE2 biasanya diekspresikan di organ lain serta paru, para peneliti melihat potensi temuan mereka melampaui sekadar COVID-19.  (BS)