Berandasehat.id – Pernah dengar ungkapan bahwa diabetes merupakan mother of disease? Ungkapan itu ada benarnya, sebab jika diabetes melitus tak dikelola dengan baik akan menyebabkan komplikasi beragam penyakit.

Sayangnya, jumlah penyandang diabetes di Indonesia terus meningkat, dan saat ini tak kurang dari 19 juta orang hidup dengan penyakit kronis yang bersifat progresif ini.Peningkatan ini sungguh meresahkan, didorong oleh urbanisasi, populasi yang menua, berkurangnya aktivitas fisik, dan peningkatan jumlah masyarakat yang gemuk.

Selain itu, masih banyak penyandang diabetes melitus tipe 2 yang tidak terdiagnosis, bukan hanya di dunia, namun juga di Indonesia. Data International Diabetes Federation (IDF) menyebut Indonesia negara tertinggi kelima dunia untuk urusan kasus diabetes yang tidak terdiagnosis. Peringkat pertama adalah Cina (65 juta kasus), India 44 juta kasus, disusul Amerika Serikat hampir 12 juta kasus, Pakistan (8,5 juta kasus) dan Indonesia. Data kasus diabetes di Indonesia ibarat fenomena gunung es, hanya ujungnya yang muncul di permukaan.

Ilustrasi pemeriksaan gula darah (dok. istimewa)

Dikutip dari laman Asosiasi Diabetes Amerika (ADA), ada alasan mengapa diabetes tipe 2 sering tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun karena hiperglikemia (gula darah tinggi) pada umumnya berkembang secara bertahap. 

Pada tahap awal, hiperglikemia memang kadang tidak cukup parah sehingga orang yang memiliki kondisi ini tidak memperhatikan atau mengalami gejala khas diabetes. Pada mereka dengan pradiabetes – gangguan toleransi glukosa – sebagai prekursor diabetes tipe 2 dapat memakan waktu bertahun-tahun untuk berkembang dan muncul tanpa gejala. Kalau pun muncul gejala, mungkin terabaikan sehingga saat diketahui sudah terlambat.

Selain kasus diabetes yang tidak terdiagnosis, akses pengobatan bagi sebagian orang masih belum memadai sehingga memunculkan tantangan dalam penanganan diabetes.

Hal lain yang menjadi tantangan dalam perawatan diabetes adalah masih banyak juga orang dengan diabetes yang tak berhasil mencapai target HbA1c yang sudah ditentukan atau tidak terkontrol. Singkatnya, HbA1c adalah hemoglobin yang berikatan dengan glukosa atau hemo. Dengan kata lain, tes HbA1C untuk diagnosis diabetes berfungsi mengetahui jumlah glukosa dalam darah secara rata-rata 3 bulan.

Menurut studi yang dilakukan Soetedjo et al (2018), lebih dari 70 persen orang dewasa dengan diabetes tipe-2 di Indonesia tidak berhasil mencapai target HbA1c di bawah 7 persen (sebagai kisaran target).  Sedihnya, jumlah penyandang diabetes dengan gula darah tak terkontrol terus meningkat.

Berdasarkan data Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (PKEKK FKM UI) dan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) pada tahun 2016, pemerintah menghabiskan 74 persen anggaran kesehatan untuk secara khusus mengobati komplikasi diabetes. Padahal, komplikasi diabetes dapat dihindari dengan mengontrol tingkat gula darah, salah satunya dengan terapi insulin.

Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI), Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD menyampaikan, ada berbagai cara pengelolaan diabetes melitus. “Bila pola hidup dan obat oral tidak mampu mencapai target kontrol gula darah, maka perlu diberikan terapi insulin,” ujar Prof Suastika menjawab Berandasehat.id, Rabu (15/12/2021).

Dengan kata lain, perawatan diabetes melitus tipe 2 umumnya dilakukan dengan minum obat oral, pengaturan pola makan dan olahraga. Namun bila hal itu tidak mampu mencapai kadar gula darah target, maka insulin menjadi bagian dari manajemen diabetes. Dikutip dari jurnal Diabetes Care (2009), terapi insulin dapat diberikan ketika HbA1c berada di level 7.0% setelah 2-3 bulan terapi oral ganda.

Bicara tentang efek samping obat diabetes, Ketua Umum PERKENI menambahkan pada dasarnya semua obat memiliki efek samping dan harus diketahui oleh dokter dan pasien. “Bila efek sampingnya serius maka perlu disampaikan ke pasien,” ujarnya.

Efek samping terapi insulin yang mungkin adalah kondisi hipoglikemia dan peningkatan berat badan. “Hipoglikemia terjadi bila gula darah turun < 70 mg/dL. Untuk itu  pasien perlu diedukasi tentang gejala dan cara menangani kalau terjadi hipoglikemia,” saran Prof Suastika. Misalnya dengan mengonsumsi karbohidrat yang bisa dengan cepat diubah menjadi asupan gula oleh tubuh, seperti biskuit, nasi, roti, sereal atau permen.

Namun jangan cemas, Asosiasi Diabetes Amerika (ADA) menyebut meski terapi insulin berpeluang meningkatkan risiko frekuensi hipoglikemia, namun insulin tertentu dapat membatasi penurunan gula darah secara tiba-tiba. Sementara itu terkait kemungkinan insulin dapat meningkatkan berat badan pada awalnya, tetapi ini bukan efek yang berkelanjutan. Tubuh pertama-tama perlu beradaptasi dengan suplementasi insulin dan selanjutnya mampu menyesuaikan diri.

Terapi Insulin untuk Diabetes Melitus Tipe 1

Meski penyandang diabetes melitus tipe 2 tak selalu membutuhkan terapi insulin, hal itu berbeda dengan diabetes tipe 1. Terapi insulin untuk perawatan diabetes tipe 1 (diabetes kongenital), harus dilakukan sesegera mungkin setelah pasien mendapatkan diagnosis.

Tak bisa dimungkiri, masih banyak mitos beredar bahwa memakai insulin merupakan ‘vonis akhir’ bagi penyandang diabetes, padahal ini bukan anggapan tepat. Sebaliknya insulin akan membantu orang dengan diabetes untuk mengontrol gula darah agar mengurangi risiko komplikasi.

Hal ini telah terbukti sejak insulin ditemukan 100 tahun yang lalu. Insulin tak pelak lagi merupakan temuan berharga sebagai  pengobatan pertama diabetes yang telah menyelamatkan banyak jiwa.  

Meskipun demikian, masih banyak tantangan yang harus kita dihadapi, bila mengingat juga tingginya prevalensi diabetes melitus tipe 1 pada anak di Indonesia. Menurut studi yang dilakukan Pulungan AB, Fadiana G, Annisa D berjudul  ‘Type 1 diabetes mellitus in children: experience in Indonesia’ (2021) yang dipublikasikan di Clinical Pediatric Endocrinology, disebutkan tingkat underdiagnosis dan misdiagnosis diabetes melitus tipe 1 pada anak-anak masih tinggi, demikian juga jumlah anak yang menderita ketoasidosis diabetik (DKA). 

Perlu diketahui, diabetes melitus  tipe 1 yang dialami sejak kecil merupakan penyakit kronis yang serius dan sampai saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan. Dalam waktu sepuluh tahun terakhir, prevalensi diabetes tipe 1 di Indonesia meningkat tujuh kali lipat, dari 3,88 per 100 juta penduduk pada tahun 2000 menjadi 28,19 per 100 juta penduduk pada tahun 2010.

Menurut Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, (K), FAAP, FRCPI (Hon.), pada tahun 2018, jumlah populasi anak di Indonesia diperkirakan mencapai 79 juta. Meski demikian, IDAI mencatat hanya 1.249 anak Indonesia yang terdiagnosis dengan diabetes tipe 1 selama periode 2017-2019. “Salah satu permasalahan yang kita hadapi terkait diabetes adalah data. Indonesia masih miskin dengan data,” ujarnya. 

Untuk memperbaiki situasi ini, IDAI bersama dukungan Novo Nordisk Indonesia akan membuat sistem registrasi melalui aplikasi, yang mencakup sistem registrasi, edukasi, rekomendasi pengobatan dan monitoring.

Aplikasi komprehensif diyakini akan menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang memiliki sistem yang tepat bagi anak-anak dengan diabetes tipe 1 dan membantu tiap aspek penanganannya.

Prof Aman Pulungan mengakui prognosis diabetes tipe 1 hampir tidak berubah sejak ditemukannya insulin. Dengan kata lain, masih banyak anak yang meninggal akibat diabetes melitus tipe 1 karena kurangnya pendidikan diabetes, layanan kesehatan khusus, peralatan untuk memantau diabetes, dan juga akses terhadap obat-obatan.

Ilustrasi injeksi insulin pada anak penyandang diabetes melitus tipe 1 (dok. istimewa)

Disampaikan Vice President & General Manager Novo Nordisk Indonesia Anand Shetty, anak-anak penyandang diabetes melitus tipe 1 sejatinya dapat hidup layak. “Dengan melakukan diagnosis dan penanganan secara dini, diabetes pada anak-anak dapat dikelola dengan baik. Hal inilah yang menjadi tujuan, menjadi pendorong utama dalam program kemitraan global Changing Diabetes in Children,” ujarnya. 

Anand Shetty menambahkan, misi utama program tersebut adalah mencegah kematian pada anak yang diakibatkan diabetes. Bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Novo Nordisk dan mitra globalnya menargetkan untuk menjangkau 3.000 anak dan remaja dengan diabetes dalam rencana tahap pertama program ini, yang dimulai pertengahan 2021 silam. 

Jelaslah bahwa akses pengobatan diabetes sangatlah penting karena orang dengan diabetes memerlukan perawatan dan dukungan yang berkelanjutan untuk mengelola kondisi mereka dan menghindari komplikasi. Sehingga tidak berlebihan bila akses pengobatan diabetes, menjadi tema utama dalam peringatan Hari Diabetes Sedunia 2021-2023. 

Genap satu abad sejak insulin ditemukan, inovasi ini tak pelak sudah menyelamatkan banyak jiwa. Selama 100 tahun terakhir, ada sejumlah insulin generasi baru yang dikembangkan dan dipasarkan untuk mengurangi beban pengobatan sehari-hari, menghadirkan prosedur pengobatan yang lebih fleksibel, dan membantu penderita diabetes dalam mengontrol gula darah dengan lebih mudah.

Mengelola diabetes dengan memastikan kontrol gula darah yang baik dan stabil akan mencegah komplikasi jangka pendek dan jangka panjang dari diabetes dan membantu orang dengan diabetes untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.  (BS)