Berandasehat.id – Indonesia akhirnya ‘kebagian’ infeksi virus Omicron yang memiliki mutasi mencapai 50, melebihi Delta yang saat ini menjadi varian global. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa varian Omicron sudah terdeteksi masuk di wilayah RI. Pasien N sebut  BGS, terinfeksi Omicron pada 15 Desember 2021.

Dalam keterangan pers terkait perkembangan pandemi Covid-19 secara virtual, Kamis (16/12/2021), Menkes menyampaikan data sudah disampaikan ke GISAID dan dikonfirmasi benar adanya itu varian Omicron berdasarkan data genom sequencing.

Studi menunjukkan, varian Omicron diyakini berkembang 70 kali lebih cepat dari versi asli corona dan varian Delta dalam 24 jam. Namun BGS menekankan masyarakat tidak perlu panik menyikapi hal ini. “Tidak usah panik, tetap hidup seperti normal, patuhi protokol kesehatan, patuhi surveilans, lakukan vaksinasi lebih cepat lagi,” tuturnya.

Ilustrasi virus corona (dok. istimewa)

Pasien yang terinfeksi varian Omicron menunjukkan gejala mudah lelah, batuk, hidung tersumbat/pilek, demikian menurut data mingguan yang dirilis Pusat Pengendalian Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) bertajuk ‘Morbidity and Mortality Weekly Report’.

Dalam laporan mingguan edisi 1-8 Desember 2021, CDC melaporkan bahwa mayoritas pasien yang terinfeksi Omicron mengeluhkan gejala batuk, mencakup 89 persen. Selain batuk, gejala lain yang umum dirasakan penderita Covid-19 varian Omicron adalah mudah lelah. Efek samping ini dirasakan 65% penderita Covid-19 varian baru tersebut. Keluhan pilek atau hidung tersumbat dilaporkan oleh 59% pasien.

CDC menyampaikan,berdasarkan laporan tahap awal, banyak kasus infeksi akibat varian Omicron diikuti dengan gejala ringan. Namun demikian – seperti varian Covid-19 sebelumnya, biasanya ada jeda antara infeksi dan gejala parah yang akan mengikuti. “Diharapkan gejala ikutan akibat Omicron lebih ringan jika dialami orang yang sudah divaksinasi dan eks penderita SARS-CoV-2,” tulis CDC dalam laporan tersebut, Minggu (12/12/2021).

Penelitian yang sama juga mengungkap, hampir seluruh penderita Covid-19 akibat varian Omicron mengalami gejala penyerta. Jumlah penderita Covid-19 varian Omicron yang mengalami gejala penyerta mencapai 93%. Sementara hanya 7% pengidap yang tidak diikuti gejala penyerta.

CDC mengingatkan, meski gejala yang dialami akibat infeksi Omicron terbilang ringan, namun varian ini berpotensi mengganggu sistem kesehatan karena sifatnya yang mudah menular. 

Karenanya seluruh pihak untuk memperkuat sistem pengawasan dan pertukaran informasi seputar Omicron untuk menekan laju penularan varian ini. “Karakter dari kasus-kasus yang disebutkan dalam laporan ini mungkin tidak bisa digeneralisasi, karena kasus yang ditemukan bisa jadi banyak dipengaruhi faktor individu,” pesan CDC.

Selain tiga gejala utama tadi, penyakit ikutan yang dialami penderita Covid-19 varian Omicron berdasarkan penelitian CDC adalah demam (38%), mual atau muntah (22%), sesak napas (16%), diare (11%), dan anosmia atau hilangnya kemampuan penciuman (8%).

CDC melaporkan, varian Omicron banyak menyerang kelompok umur 18-39 tahun (58%), kelompok 40-64 tahun (23%), kelompok umur 65 tahun ke atas (9%) dan 18 tahun ke bawah (9%). (BS)