Berandasehat.id – Varian Omicron telah sampai ke Indonesia. Varian virus corona penyebab Covid-19 ini memiliki kemampuan menginfeksi sekitar 70 kali lebih cepat daripada varian Delta dan galur Covid-19 asli, meskipun tingkat keparahan penyakitnya cenderung jauh lebih rendah, demikian menurut sebuah penelitian Universitas Hong Kong yang menambah bobot pada pengamatan awal di lapangan dari dokter Afrika Selatan.

Riset menunjukkan Omicron memiliki kecepatan penyebaran ‘super’ di bronkus manusia yang ditemukan 24 jam setelah infeksi.

Studi yang dilakukan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Michael Chan Chi-wai, menemukan bahwa varian yang masuk kategori Variant of Concern (VoC) bereplikasi kurang efisien – 10 kali lebih rendah – di jaringan paru-paru manusia daripada galur asli yang mungkin menandakan ‘keparahan penyakit yang lebih rendah’.

Ilustrasi virus corona (dok. istimewa)

Riset yang menunjukkan bahwa Omicron ‘melompat’ lebih cepat dari satu orang ke orang lain tetapi tidak merusak jaringan paru sebanyak varian pendahulunya, saat ini sedang ditinjau oleh rekan sejawat untuk dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

Seiring upaya para ilmuwan yang berpacu dengan waktu untuk menentukan seberapa menular, ganas, dan perlunya menghindari Omicron — varian ini telah melakukan perjalanan ke setidaknya 77 negara dalam waktu tiga minggu setelah pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan. Penelitian baru dari Hong Kong dapat menambah ‘pemberat’ pada deskripsi oleh beberapa orang dokter bahwa sebagian besar infeksi Omicron sejauh ini sebagian besar ringan dan tidak memerlukan rawat inap.

Banyak peneliti sekarang mengamati apakah varian virus corona yang paling bermutasi itu akan menyingkirkan jenis lain dan membuka jalan bagi pandemi untuk perlahan surut sebagai endemi di mana dunia belajar untuk hidup bersama-sama dengan patogen.

Pengamatan awal menunjukkan bahwa sebagian besar pasien tidak memerlukan oksigen atau perawatan intensif untuk infeksi Covid-19, tetapi banyak pakar dan badan kesehatan masyarakat, termasuk Organisasi Kesehatan Dunia, telah mendesak agar semua pihak untuk berhati-hati. 

Sejauh ini banyak terobosan dan kasus infeksi ulang telah ditemukan bersama dengan infeksi pada orang muda tanpa faktor risiko yang signifikan.

Negara-negara di seluruh dunia telah bereaksi dengan penuh kewaspadaan, termasuk memberlakukan pembatasan perjalanan di tengah kekhawatiran yang meluas bahwa Omicron akan memicu lonjakan infeksi baru dan menambah beban rumah sakit.

Bahkan jika Omicron secara meyakinkan terbukti tidak terlalu parah, penyebarannya dapat meluas dan menjadi tantangan bagi fasilitas kesehatan di seluruh dunia. Studi universitas Hong Kong juga memperingatkan agar tidak menganggap enteng varian baru itu.

“Dengan menginfeksi lebih banyak orang, virus yang sangat menular dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah dan kematian meskipun virus itu sendiri mungkin kurang patogen,” kata Chan, penulis utama studi tersebut.

Mengingat bahwa varian Omicron sebagian dapat lolos dari kekebalan dari vaksin dan infeksi masa lalu, para ahli kesehatan menyebut ancaman keseluruhan dari varian Omicron kemungkinan akan sangat signifikan. (BS)