Berandasehat.id – Omicron – yang kini sudah berada di setidaknya 77 negara – memicu kekhawatiran baru. Namun ada sedikit angin segar. Berbagai penelitian laboratorium menunjukkan bahwa vaksin – terutama vaksin booster (penguat), dapat menawarkan perlindungan terhadap hasil terburuk dari varian virus corona Omicron yang menyebar cepat. 

Namun demikian virus yang sangat bermutasi ini memiliki kemampuan untuk menyebabkan banyak infeksi terobosan pada orang yang divaksinasi dan pada mereka yang telah terinfeksi dengan versi virus pendahulu.

Pada pertemuan Organisasi Kesehatan Dunia, Rabu (15/12/2021), para ilmuwan melaporkan beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa sel T pada orang yang divaksinasi dapat memberikan pertahanan yang kuat terhadap varian Omicron – hal ini diyakini dapat membantu mencegah penyakit parah, rawat inap, dan kematian.

Ilustrasi vaksinasi (dok. istimewa)

Di hari yang sama, penasihat medis utama Presiden Biden untuk tanggapan virus corona, Dr. Anthony S. Fauci, membagikan data awal dari analisis institutnya tentang vaksin Moderna. “Sementara dua suntikan menghasilkan respons antibodi dapat diabaikan terhadap Omicron di laboratorium, perlindungan meningkat setelah dosis ketiga,” ujarnya.

Peneliti lain di pertemuan WHO menyajikan hasil serupa, menunjukkan bahwa suntikan booster dari vaksin mRNA Moderna atau Pfizer-BioNTech mengangkat antibodi kembali ke level yang diyakini cukup tinggi untuk menawarkan perlindungan yang kuat terhadap infeksi.

Meskipun penelitian ini didasarkan pada pengamatan awal sel-sel di laboratorium, namun hasil ini disambut baik terutama di tengah ‘semburan’ data baru yang mengkhawatirkan tentang Omicron. 

Selama seminggu terakhir, semakin jelas bahwa Omicron dapat dengan cekatan menghindari antibodi – bagian dari garis pertahanan pertama tubuh – yang mungkin menjelaskan mengapa infeksi dengan varian tersebut ‘meledak’ di banyak negara. Tetapi antibodi bukan satu-satunya pemain penting dalam respons kekebalan seseorang terhadap virus. Sel T memiliki perannya masing-masing.

“Kabar baiknya adalah bahwa respons sel T sebagian besar dipertahankan terhadap Omicron,” kata Wendy Burgers dari University of Cape Town selama presentasi penelitian baru yang dilakukannya bersama kolega dalam beberapa hari terakhir.

Infeksi Omicron lebih sering terjadi pada dua kelompok orang yang membawa antibodi: Mereka yang telah menerima suntikan vaksinasi, serta mereka yang tidak divaksinasi tetapi telah pulih dari infeksi virus corona sebelumnya.

Minggu ini, para ilmuwan di Afrika Selatan melaporkan bahwa dua dosis vaksin Pfizer 33 persen efektif melawan infeksi Omicron, turun dari sekitar 80 persen selama apa yang disebut Dr. Fauci sebagai “era pra-Omicron.” 

Studi tersebut menemukan bahwa dua dosis vaksin Pfizer menawarkan 70 persen perlindungan terhadap rawat inap yang parah dan kematian, turun dari sekitar 95 persen – sebelum Omicron terdeteksi.

Di pertemuan WHO, satu demi satu ilmuwan mempresentasikan temuan laboratorium serupa yang menunjukkan bahwa antibodi yang diinduksi vaksin bekerja jauh lebih buruk terhadap Omicron daripada terhadap varian lainnya.

Tetapi suntikan penguat (booster) tampaknya memberikan antibodi ekstra yang cukup untuk mengurangi infeksi ini. Dr Fauci menjelaskan eksperimen di National Institutes of Health, di mana para ilmuwan mengambil serum darah dari orang-orang yang mendapatkan dua dosis vaksin Moderna serta dari orang lain yang memiliki dosis ketiga. Para peneliti kemudian mencampur serum dengan virus yang direkayasa untuk membawa protein permukaan Omicron.

“Virus semu” ini menghindari banyak antibodi dari orang-orang yang telah menerima dua dosis Moderna, tetapi penguatnya menghasilkan antibodi tingkat tinggi sehingga virus dapat dihalangi dari upaya menyerang sel.

“Jadi pesannya tetap jelas: Jika Anda tidak divaksinasi, dapatkan vaksinasi, dan khususnya di arena Omicron, jika telah divaksinasi lengkap, maka segeralah dapatkan suntikan booster,” saran Dr. Fauci.

Peringatan Dr. Fauci datang ketika pejabat pemerintah Biden bersiap untuk gelombang potensial infeksi Omicron yang dapat membanjiri sistem perawatan kesehatan. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) baru-baru ini memperingatkan bahwa persentase kasus virus corona di Amerika Serikat yang disebabkan oleh varian Omicron telah meningkat tajam dan mungkin menandakan lonjakan infeksi yang signifikan pada bulan depan. Varian Delta sejauh ini tetap menjadi versi dominan di seluruh Amerika Serikat.

Untuk mengantisipasi gelombang itu, pemerintah berusaha mendorong semua orang Amerika yang memenuhi syarat (mereka yang berusia 16 tahun ke atas yang menerima dosis vaksin kedua setidaknya enam bulan lalu) — untuk mendapatkan suntikan penguat. 

CDC menyampaikan, sekitar 27 persen orang Amerika yang divaksinasi lengkap juga mendapat suntikan booster.

Banyak negara yang bergegas untuk memberikan suntikan booster di populasinya, namun Omicron menyebar begitu cepat sehingga mungkin melampaui upaya ini, demikian dilaporkan NY Times. (BS)