Berandasehat.id – Zebra Technologies Corporation merilis sejumlah temuan menarik dari Pharmaceutical Supply Chain Vision Study. Hasil studi menunjukkan, ada ketidakpercayaan pasien terhadap obat yang mereka terima, segmentasi di dalam supply chain (rantai pasok) farmasi, termasuk pihak yang memproduksi, mendistribusikan, meresepkan dan mengeluarkan obat-obatan tersebut. 

Mengutip hasil survei, Christanto Suryadarma, Southeast Asia (SEA) Sales Vice President, Zebra Technologies Asia Pacific, menyampaikan sebanyak 43 persen pasien mengatakan takut akan timbulnya penyakit lain dan/atau kematian yang disebabkan oleh obat yang sudah terkontaminasi atau tercemar, tanpa adanya upaya untuk memperbaiki rantai pasok.

Ilustrasi obat (dok. istimewa)

“Melihat sumber ketakutan pasien, mereka melihat bahwa efikasi/khasiat dan keamanan obat ada di urutan pertama bagi pasien. Sebanyak 3 dari 4 pasien menyatakan mereka agak atau sangat khawatir terhadap ketidakefektifan obat dalam mengobati kondisi atau penyakit mereka,”ujar Christanto mengutip hasil survei dalam temu media daring, Rabu (15/12/2021).

Survei mengungkap, 7 dari 10 pasien khawatir saat menerima: Dosis obat yang tidak sesuai karena kesalahan dalam pelabelan, dan bahaya yang bisa mengintai mereka, juga obat hasil pencurian, terkontaminasi, tercemar, kadaluarsa, atau palsu, serta obat yang tidak ditangani/disimpan dengan benar selama masa transit dan kemungkinan mengalami kerusakan atau efikasinya hilang.

Studi mengungkap bahwa pasien mengetahui rantai pasok di bawah standar akan berisiko pada kualitas obat dan khasiatnya. “Pasien ingin lebih diyakinkan bahwa obat yang mereka konsumsi aman dan asli,” ujar Christanto.

Selanjutnya, sebanyak 9 dari 10 pasien mengatakan akan cukup atau sangat penting jika mereka bisa memverifikasi keaslian obat,  memastikan bahwa obat tidak dirusak dan ada jaminan bahwa obat yang sensitif terhadap suhu tetap disimpan di kisaran suhu yang disarankan.

Menurut survei ini, pasien juga mengharapkan produsen obat menunjukkan cara mereka memproduksi/menangani obat (81 persen) dan pengangkutan/penyimpanan obat (82 persen). Sebanyak 80 persen mengatakan penting untuk memverifikasi sumber bahan-bahan obat, termasuk negara asal dan standar lokal obat itu sendiri. 

Selain itu, 79 persen dari responden mengatakan ingin tahu obat mereka berasal dari sumber yang berkelanjutan dan mengonfirmasi bahwa produsen menggunakan teknik yang memperhatikan kelestarian lingkungan, perlindungan hewan dan komunitas manusia, serta kesehatan masyarakat.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa industri farmasi harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa mereka menempatkan kepentingan pasien di urutan teratas, apabila mereka ingin mendapatkan kepercayaan dan kesetiaan konsumen dalam skala besar,” imbuh Christanto.

Dia menambahkan, meskipun pemenuhan standar regulasi adalah fokus para pemimpin industri farmasi, perubahan kebutuhan pasien ini menunjukkan bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan. “Penting sekali adanya kerja sama dari manufaktur, instansi pemerintah, farmasi, dan layanan kesehatan, untuk meraih kepercayaan konsumen terhadap supply chain,” tandas Christanto.

Survei juga mengungkap, lebih dari 8 dari 10 pasien setuju bahwa pemerintah/regulator dan perusahaan farmasi harus bekerja sama dengan lebih baik lagi untuk melindungi pasien dan memastikan obat yang mereka terima aman dan efektif. Dan lebih dari 40 persen pasien serta pembuat keputusan dalam industri farmasi mengatakan bahwa regulator, perusahaan farmasi dan produsen memiliki tanggung jawab paling besar untuk memerangi obat palsu, pencurian obat dan obat terkontaminasi. 

Namun, tanggung jawab untuk menerapkan protokol keamanan yang terpercaya ada di pundak mereka yang memproduksi, merilis, dan mengedarkan obat, di mana 57 persen pasien menganggap beban terbesar ada di pundak rumah sakit.

“Sangat penting bagi industri farmasi di Asia Pasifik untuk memastikan ada peningkatan dalam traceability dan transparansi di seluruh supply chain,” imbuh Aik Jin Tan, Vertical Solutions Lead, Zebra Technologies Asia Pacific, di kesempatan sama. 

“Dengan bantuan transparansi yang technology-driven, kekhawatiran mengenai kualitas dan kontrol temperatur, obat yang tepat maupun obat yang di bawah standar, bisa diatasi dan hasilnya adalah terciptanya kepercayaan dalam jangka panjang,” pungkasnya. (BS)