Berandasehat.id – Belum lama ini, Monuman Nasional (Monas) di Jakarta Pusat berhiaskan cahaya biru sebagai simbol global akan kesadaran terhadap diabetes. Monas yang bertaburkan sinar biru itu sebagai bagian dari ‘Blue Monument Challenge’ yang digelar setiap tahun untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap diabetes.

Kita tahu, Hari Diabetes Sedunia diperingati setiap 14 November. Khusus tahun ini terasa istimewa, karena sekaligus menandai 100 tahun penemuan insulin sebagai bagian terapi diabetes melitus.

Nah, menandai Hari Diabetes Sedunia dan penemuan satu abad insulin, raksasa farmasi asal Denmark, yakni Novo Nordisk, bersama Kemenkes RI, dan Kedutaan Besar Denmark berkolaborasi menggelar serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap diabetes.

Monas bertaburkan bahaya biru sebagai bagian peringatan Hari Diabetes Sedunia (dok. istimewa)

Sejumlah kegiatan yang digelar di antaranya penyediaan booth di Stasiun Kereta Tanah Abang Jakarta Pusat. Di area ini para komuter  dapat melakukan tes gula darah.  Kegiatan serupa juga dilakukan di Pasar Tanah Abang, yang melibatkan ratusan pedagang dan karyawan Pasar Tanah Abang dapat menjalani pemeriksaan kesehatan untuk  mengecek risiko diabetes. 

Duta Besar Denmark untuk Indonesia, H.E. Lars Bo Larsen menyampaikan, Hari Diabetes Sedunia merupakan kegiatan tahunan yang menunjukkan bahwa masih ada organisasi global, regional, dan komunitas yang senantiasa mendukung upaya pengentasan penyakit.

Hal senada diungkapkan Vice President & General Manager Novo Nordisk Indonesia, Anand Shetty. Sebagai perusahaan farmasi yang peduli dengan masalah diabetes, Novo Nordisk berkomitmen untuk bekerja sama dengan otoritas kesehatan dan mitra terkait di Indonesia untuk mencegah dan mengobati penyakit ini. “Bersama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kami akan meningkatkan dan memperkuat upaya untuk menyediakan pengobatan diabetes yang berkelanjutan di Indonesia dengan memberikan diagnosis dini dan pengendalian yang optimal,” ujar Anand Shetty.

Banyak penderita diabetes, khususnya diabetes tipe 1, harus mengasup insulin agar tetap sehat dan produktif.  Insulin adalah hormon yang membantu mengatur jumlah gula, atau glukosa, dalam darah. Insulin memiliki mitra yang disebut glukagon, hormon yang bekerja dengan cara yang berlawanan.

Tubuh menggunakan insulin dan glukagon untuk memastikan kadar gula darah tidak terlalu tinggi atau rendah dan sel-sel menerima cukup glukosa untuk digunakan sebagai energi. Ketika gula darah terlalu rendah, pankreas mengeluarkan glukagon, yang menyebabkan hati melepaskan glukosa ke dalam aliran darah. Penyandang diabetes diabetes mungkin perlu mengambil insulin tambahan untuk membantu menjaga kadar gula darah mereka dalam kisaran normal.

Genap 100 tahun sejak insulin ditemukan dan inovasi ini telah menyelamatkan jutaan nyawa. Sebelum insulin ditemukan pada tahun 1921, penderita diabetes tidak berumur panjang, karena  tidak banyak yang bisa dilakukan dokter untuk merawat dan menyelamatkan mereka. 

Saat itu, pengobatan yang paling efektif adalah menerapkan pasien diabetes dengan diet yang sangat ketat dengan asupan karbohidrat dibatasi secara ketat. Upaya ini dapat memberi pasien beberapa tahun usia tambahan tetapi sayangnya tidak dapat menyelamatkan mereka. 

Menurut Asosiasi Diabetes Amerika (ADA), tak jarang diet yang sangat ketat itu – beberapa pasien diabetes bahkan hanya diperbolehkan mengonsumsi 450 kalori sehari (bandingkan 2000 kalori bagi orang tanpa diabetes) kadang-kadang bahkan menyebabkan pasien meninggal karena kelaparan.

Jadi bagaimana terobosan yang luar biasa ini berkembang? Mari kita melakukan kilas balik perjalanan insulin dalam kurun 100 tahun.

Ilustrasi injeksi insulin (dok. istimewa)

Pada 1889, dua peneliti Jerman, Oskar Minkowski dan Joseph von Mering, menemukan bahwa ketika kelenjar pankreas diambil dari anjing, hewan tersebut mengembangkan gejala diabetes dan mati tak lama kemudian. Percobaan ini mengarah pada gagasan bahwa pankreas adalah tempat di mana “zat pankreas” (insulin) diproduksi.

Eksperimen kemudian mempersempit pencarian ini ke pulau Langerhans (nama kelompok sel khusus di pankreas). Pada tahun 1910, Sir Edward Albert Sharpey-Shafer menunjukkan hanya satu bahan kimia yang hilang dari pankreas pada penderita diabetes. Dia memutuskan untuk menyebut insulin kimia ini – yang berasal dari kata Latin ‘insula’ – yang berarti ‘pulau’.

Selanjutnya, pada tahun 1921, seorang ahli bedah muda bernama Frederick Banting dan asistennya Charles Best menemukan cara untuk menghilangkan insulin dari pankreas anjing. Kolega mereka yang skeptis ‘mengejek’ bahwa benda itu tampak seperti “kotoran cokelat kental” dan hanya sedikit yang mereka tahu bahwa ini akan membawa ‘kehidupan’ dan harapan bagi jutaan orang dengan diabetes.

Dengan ramuan keruh ini, Banting dan Best memelihara anjing lain yang menderita diabetes parah selama 70 hari—anjing itu mati hanya ketika tidak tersedia ekstrak lagi. Dengan keberhasilan ini, para peneliti, bersama dengan bantuan rekan J.B. Collip dan John Macleod, melangkah lebih jauh. Bentuk insulin yang lebih halus dan murni dikembangkan, kali ini dari pankreas sapi.

Pada Januari 1922, Leonard Thompson, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun dengan berat badan hanya 29 kg, menjadi orang pertama yang menerima suntikan insulin. Setelah menerima suntikan dari ekstrak Banting dan Best (yang digambarkan sebagai kotoran cokelat kental), dalam 24 jam, kadar glukosa darah Leonard yang sangat tinggi turun ke tingkat yang mendekati normal. 

Berita tentang insulin menyebar ke seluruh dunia seperti kobaran api. Pada tahun 1923, Banting dan Macleod menerima Hadiah Nobel dalam Kedokteran, yang mereka bagikan dengan Best dan Collip. 

Segera setelah itu, perusahaan farmasi memulai produksi insulin dalam skala besar. Tidak lama kemudian ada cukup insulin untuk memasok seluruh benua Amerika Utara. 

Sebelum dikembangkan seperti sekarang, insulin dari sapi dan babi digunakan selama bertahun-tahun untuk mengobati diabetes dan menyelamatkan jutaan nyawa. Sayangnya, insulin ini tidak sempurna, karena menyebabkan reaksi alergi pada banyak pasien. Sehingga kemudian diciptakan insulin sintetis pertama yang direkayasa secara genetik.

Pada tahun 1923,  Nordisk Insulinlaboratorium mengkomersialkan produksi insulin setelah teknik ekstraksi dan pemurnian dibawa kembali ke Denmark dari Kanada pada bulan Agustus.  Pada dekade berikutnya, produsen mengembangkan berbagai insulin yang bekerja lebih lambat, yang pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan farmasi Novo Nordisk Pharmaceuticals, Inc., pada tahun 1936.

Dikutip dari laman resmi Novo Nordisk, pada tahun 1946, Hans Christian Hagedorn menemukan insulin NPH (Neutral Protamine Hagedorn), yang memperpanjang efek insulin. Dengan demikian penyandang diabetes dapat mengurangi frekuensi suntikan.

Pada tahun 1980, insulin menjadi protein terapeutik pertama yang dibuat menggunakan teknologi DNA rekombinan. ‘Insulin manusia’ ini identik dengan insulin yang diproduksi oleh tubuh kita, sangat murni dan dapat diproduksi dalam jumlah tak terbatas, sehingga meluaskan cakupan akses bagi penderita diabetes. Pertama kali dikembangkan pada tahun 1960-an, pompa insulin tersedia secara luas pada tahun 1980-an, memastikan penderita diabetes dapat memperoleh manfaat dari pelepasan insulin mereka saat – dan bila diperlukan – sepanjang hari. 

Inovasi terkait insulin masih berlanjut. Pada 1985, pena insulin pertama dipercaya dapat meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes dengan menghilangkan kebutuhan akan jarum suntik kaca yang rumit. 

Dan kurang lebih satu dekade kemudian, tepatnya pada 1996, insulin analog – serangkaian formulasi kerja cepat, kerja panjang, dan campuran awal – dibuat untuk lebih meniru pola alami tubuh dalam melepaskan insulin. Insulin analog memiliki modifikasi yang memastikan penyerapan lebih dapat diprediksi, sehingga memudahkan penyandang diabetes untuk merencanakan waktu makan, menghindari kadar gula darah rendah dan mengurangi risiko kenaikan berat badan.

Pada 2010, dengan profil yang ditingkatkan, insulin analog generasi baru menawarkan fleksibilitas yang lebih besar dan mengurangi beban harian perawatan diabetes. Insulin aksi ultra-panjang mengurangi jumlah suntikan dan risiko hipoglikemia dengan cara melepaskan obat dengan sangat lambat, sementara insulin aksi ultra-cepat menawarkan kemudahan dengan mengurangi kebutuhan untuk merencanakan sekitar waktu makan.

Dan pada 2020-an, pengobatan baru dan inovasi perangkat untuk terapi diabetes akan membawa fleksibilitas yang lebih besar dan pendekatan yang lebih holistik. Insulin basal sekali seminggu, insulin yang peka terhadap glukosa dan melindungi jantung, perawatan oral generasi berikutnya, solusi kesehatan digital baru, terapi sel induk transformasional dan bahkan harapan untuk perawatan kuratif suatu hari nanti adalah bagian dari upaya untuk mengalahkan diabetes di masa mendatang.

Penyandang Diabetes Melitus Bisa Tetap Aktif

Penyandang diabetes melitus tipe 1 tetap dapat hidup produktif dan berkualitas, misalnya Mandy Marquardt, tim sepeda Novo Nordisk yang bermukim di Amerika Serikat.

Contoh lain adalah perenang Olimpiade Gary Hall Jr, merupakan perenang kompetitif yang ulung ketika dia didiagnosis menderita diabetes tipe 1 pada tahun 1999. Dengan empat medali Olimpiade yang sudah di tangan, dokter mengatakan kepadanya bahwa karir renangnya telah berakhir.

Tapi Hall bertekad untuk membuktikan bahwa mereka salah. Ia harus belajar meningkatkan staminanya tanpa merasa lelah, yang mengharuskannya keluar dari air dan memeriksa kadar gula darahnya setiap 45 menit, demikian menurut laporan Verywell Health.

Pada tahun 2000, ia diakui sebagai perenang tercepat di dunia dan pada tahun 2008, Hall pensiun dengan 10 medali Olimpiade, lima di antaranya emas.

Hall adalah anggota JRDF (organisasi nirlaba terbesar dunia yang mendanai riset diabetes melitus tipe 1) dan secara teratur berbicara kepada orang-orang muda dengan diabetes, menekankan bahwa tujuan mereka dapat dicapai meskipun mereka hidup dengan diabetes. 

Terapi insulin telah berkembang pesat. Insulin mungkin bukan obat untuk menyembuhkan diabetes, tetapi ini benar-benar penyelamat hidup. Tak dimungkiri, insulin merupakan keajaiban medis di dunia diabetes dan banyak orang berterima kasih atas temuan berharga ini. (BS)