Berandasehat.id – Fenomena yang pertama kali diidentifikasi di India awal tahun ini, yakni pasien yang telah atau sedang berupaya pulih dari COVID-19 yang kemudian tertular infeksi jamur mematikan yang dikenal sebagai mucormycosis – juga dikenal sebagai “jamur hitam” – kini menyebar ke belahan benua lain.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan kasus-kasus penyakit itu menyerang pasien COVID di Amerika Serikat.

“Selama 17-24 September 2021, tiga dokter secara independen memberi tahu Departemen Kesehatan [ADH] Arkansas tentang banyak pasien dengan mucormycosis setelah diagnosis COVID-19 baru-baru ini,” menurut peneliti CDC, dikutip laman MedicalXpress, 16 Desember 2021.

Ilustrasi parasit penyebab jamur hitam (dok. istimewa)

CDC menjelaskan, kondisi ini disebabkan oleh berbagai jamur alami yang biasanya tidak berbahaya, tetapi dapat memicu penyakit pada orang yang sistem kekebalannya menurun karena penyakit, termasuk COVID-19.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India pada Mei 2021, para ahli di sana menjelaskan bahwa orang dapat terkena mucormycosis karena bersentuhan dengan spora jamur di lingkungan [tanah atau daun yang membusuk].

Kondisi itu juga dapat berkembang pada kulit setelah jamur memasuki kulit melalui luka, goresan, luka bakar atau jenis trauma kulit lainnya. “Mucormycosis mulai bermanifestasi sebagai infeksi kulit di kantong udara yang terletak di belakang dahi, hidung, tulang pipi, dan di antara mata dan gigi kita,” tambah agensi India. 

“Kemudian menyebar ke mata, paru-paru dan bahkan bisa menyebar ke otak. Ini menyebabkan hidung menghitam atau berubah warna, penglihatan kabur atau ganda, nyeri dada, kesulitan bernapas dan batuk darah,” imbuhnya.

Setelah terbentuk di dalam tubuh manusia, penyakit “jamur hitam” ini sulit diobati. Seperti yang dijelaskan oleh para ahli India, pengobatan melibatkan pembedahan untuk mengangkat semua jaringan yang mati dan terinfeksi. Pada beberapa pasien, hal ini dapat mengakibatkan hilangnya rahang atas atau kadang-kadang bahkan mata. 

Penyembuhan juga dapat melibatkan terapi antijamur intravena selama 4-6 minggu. Karena mempengaruhi berbagai bagian tubuh, pengobatan memerlukan tim ahli mikrobiologi, spesialis penyakit dalam, ahli saraf intensif, spesialis THT, dokter mata, dokter gigi, ahli bedah dan sebagainya.

Dilaporkan dalam jurnal Morbidity and Mortality Weekly Report edisi 17 Desember 2021, peneliti yang dipimpin oleh ahli epidemiologi CDC Dr. Jeremy Gold mengatakan mereka mengidentifikasi 10 kasus penyakit jamur hitam yang dikonfirmasi laboratorium pada pasien yang dirawat di enam rumah sakit Arkansas antara 12 Juli hingga 28 September 202. Sembilan dari 10 pasien tinggal di negara bagian, semuanya berkulit putih, tujuh adalah laki-laki dan rata-rata usia pasien adalah 57 tahun.

Semua telah dites positif COVID dalam dua bulan sebelumnya, dan delapan dari 10 pasien juga menderita diabetes — faktor risiko lain yang dicatat untuk tertular mucormycosis, catat para peneliti.

Banyak kasus yang parah, yakni empat pasien menunjukkan penyakit yang telah menyebar ke hidung dan mulut, dengan tiga pasien juga terkena di bagian otak. “Dalam dua kasus, penyakit menyerang paru-paru, dan dalam satu kasus sistem pencernaan terpengaruh,”  kata tim Gold.

Semua pasien yang terkena diketahui tidak mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Selain berjuang melawan mucormycosis, delapan pasien menderita kasus COVID-19 parah sehingga mereka membutuhkan oksigen tambahan atau ventilasi mekanis untuk bernapas, kata para peneliti

Sebagian besar pasien tidak selamat dari cobaan berat. “Lima pasien menerima perawatan bedah untuk memotong jaringan yang terkena mucormycosis, dan enam dari 10 pasien meninggal selama rawat inap atau dalam waktu satu minggu setelah keluar,” keterangan CDC.

Tim mencatat bahwa wabah kasus ‘jamur hitam’ di Arkansas bertepatan dengan lonjakan kasus COVID-19 di seluruh negara bagian pada pertengahan musim panas, didorong oleh kemunculan dan penyebaran varian Delta.

Dengan tidak adanya COVID-19, mucormycosis sangat jarang terjadi di Arkansas atau negara bagian lain. Namun, berdasarkan wabah musim panas, Departemen Kesehatan Arkansas mengkoordinasikan panggilan di seluruh negara bagian pada 11 Oktober 2021 untuk pencegahan infeksi untuk kasus mucormycosis terkait COVID-19.

Dr. Amesh Adalja adalah sarjana senior di Pusat Keamanan Kesehatan di Johns Hopkins di Baltimore. Dia tidak terlibat dalam laporan baru, tetapi mengatakan tidak heran bahwa mucormycosis juga dapat menginfeksi pasien COVID-19 yang memiliki disregulasi kekebalan yang parah.

Saat mereka berjuang melawan COVID-19, beberapa dari pasien ini mungkin juga menerima obat yang menekan sistem kekebalan, misalnya deksametason atau tocilizumab, dan banyak dari mereka yang sudah menderita kerusakan paru. “Itu membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi jamur seperti mucormycosis,” kata Adalja. 

Adalja menambahkan, banyak tragedi yang diuraikan dalam laporan Arkansas dapat dengan mudah dihindari.”Pencegahan terbaik adalah tidak memiliki kasus COVID-19 yang parah sejak awal yaitu dengan divaksinasi,” tandasnya. (BS)