Berandasehat.id – Teknik MRI (Magnetic Resonance Imaging) baru, yakni pemeriksaan organ tubuh yang dilakukan dengan menggunakan teknologi magnet dan gelombang radio, dapat mendiagnosis dan membuahkan pengobatan yang lebih cepat untuk orang-orang dengan multiple sclerosis, sebuah gangguan saraf yang melemahkan.

Teknik ini dapat mendeteksi perubahan biokimia di otak orang-orang dengan MS di awal penyakitnya, demikian menurut temuan yang diterbitkan 4 Januari 2022 di jurnal Radiology.

“MRI neurokimia memungkinkan deteksi perubahan di otak pasien multiple sclerosis di daerah yang tampak tidak mencolok pada MRI konvensional,” kata penulis senior studi Wolfgang Bogner, dari High Field MR Center di Medical University of Vienna. 

Ilustrasi multiple sclerosis (dok. istimewa)

“Perubahan yang divisualisasikan dalam neurokimia dari jaringan otak yang tampak normal berkorelasi dengan kecacatan pasien,” imbuh Bogner seperti dilaporkan WebMD.

MS, penyakit sistem saraf pusat, mempengaruhi hampir 3 juta orang di seluruh dunia. Penyakit MS sejauh ini tidak ada obatnya, dan dapat menyebabkan kelelahan, nyeri dan gangguan koordinasi. Terapi fisik dan obat-obatan dapat memperlambat perkembangannya namun tidak menyembuhkan.

Saat ini, MS dapat dideteksi pada lesi di materi putih otak pada MRI standar. Lesi ini terkait dengan hilangnya lapisan pelindung di sekitar serabut saraf yang dikenal sebagai mielin. Ini adalah kerusakan jaringan yang terlihat dengan mata telanjang tetapi menemukan kerusakan saat masih mikro atau pada tahap biokimia akan lebih baik bagi pasien.

Menurut peneliti, teknik pencitraan canggih – yang disebut spektroskopi MR proton – dapat mendeteksi zat yang dihasilkan selama metabolisme yang memiliki relevansi potensial untuk MS.

Tim peneliti menggunakan cara ini untuk membandingkan perubahan biokimia di otak 65 orang dengan MS dengan 20 orang sehat. Mereka menggunakan pemindai MRI dengan magnet 7-Tesla (T) yang kuat.

Tim menemukan penurunan kadar turunan asam amino yang disebut N-acetylaspartate (NAA) pada pasien dengan MS. Tingkat NAA yang lebih rendah telah dikaitkan dengan gangguan integritas neuron di otak.

Pasien MS juga menunjukkan peningkatan kadar myo-inositol (MI), senyawa yang terlibat dalam pensinyalan sel. Tingkat yang lebih tinggi dapat menunjukkan aktivitas penyakit peradangan yang substansial.

Para peneliti mengatakan hasil menunjukkan peran potensial untuk teknik MRI baru dalam memvisualisasikan patologi MS di luar lesi demielinasi.

“Beberapa perubahan neurokimia, terutama yang terkait dengan peradangan saraf, terjadi di awal perjalanan penyakit dan mungkin tidak hanya berkorelasi dengan kecacatan, tetapi juga menjadi prediksi perkembangan lebih lanjut seperti pembentukan lesi multiple sclerosis,” kata penulis utama studi Eva Heckova, juga dari High Field MR Centre.

Dia mengatakan perubahan yang terdeteksi melalui teknik pencitraan baru ini mungkin memiliki aplikasi klinis yang signifikan.

“Jika dikonfirmasi dalam studi klinis longitudinal, teknik neuroimaging baru ini bisa menjadi alat pencitraan standar untuk diagnosis awal bagi perkembangan penyakit dan pemantauan terapi pasien multiple sclerosis. Bersama dengan MRI yang sudah mapan, mungkin berkontribusi pada strategi pengobatan ahli saraf,” Bogner kata dalam rilis berita jurnal. (BS)