Berandasehat.id – Dalam sebuah penelitian yang belum ditinjau sejawat atau layak/diterima untuk dipublikasikan, para peneliti di Universitas Bristol di Inggris telah menemukan bukti yang menunjukkan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 menjadi kurang menular dalam waktu lima menit setelah terpapar udara. 

Tim telah menerbitkan makalah di server pra-cetak MedRxiv yang menjelaskan tes yang dirancang untuk mensimulasikan perilaku virus setelah dipaparkan ke udara oleh orang yang terinfeksi.

Sejak pandemi pertama kali dimulai, pejabat perawatan kesehatan telah meminta orang-orang di seluruh dunia untuk memakai masker. Tujuan utama masker tersebut untuk bukan petugas kesehatan adalah untuk memperlambat kecepatan penularan virus ke udara saat seseorang menghembuskan napas, bersin atau batuk. Pemikirannya adalah bahwa memakai masker membantu melindungi orang-orang di sekitar orang yang terinfeksi. 

Ilustrasi virus corona (dok. istimewa)

Dalam upaya baru ini, para peneliti menemukan bukti yang menunjukkan bahwa virus, setelah dipaparkan/ditularkan ke udara, hanya memiliki waktu lima menit untuk mulai kehilangan kemampuannya dalam menginfeksi orang lain. 

Jika temuan itu terbukti akurat, maka pemakaian masker menjadi lebih penting. Mencegah virus dari ‘berlayar’ melintasi ruang terbuka ketika hanya memiliki lima menit untuk menginfeksi seseorang akan mengurangi penularannya secara drastis.

Para peneliti memilih metode simulasi yang belum pernah digunakan oleh peneliti lain—alih-alih menggunakan drum Goldberg – mereka menciptakan alat yang menghasilkan dan menerbangkan virus di antara cincin listrik. Sampel virus dengan demikian disimpan dalam keadaan di mana penularannya dapat diukur.

Para peneliti menemukan bahwa penularannya mulai menurun dalam waktu lima menit setelah terpapar udara. Pengamatan lebih dekat menunjukkan bahwa hal ini terjadi karena (virus) mulai mengering dan kekurangan karbon dioksida. Studi menemukan bahwa setelah 20 menit, penularan virus berkurang hingga 90 persen. 

Saat ini, belum jelas seberapa cocok metode tersebut dengan kondisi di lingkungan alam. Selain itu, metode baru ini tidak memperhitungkan ventilasi, ukuran ruangan, atau viral load orang yang terinfeksi. Dan akhirnya, masih belum diketahui tingkat penularan virus yang harus dimiliki untuk dapat menginfeksi manusia, demikian MedicalXpress. (BS)