Berandasehat.id – Meningkatkan daya tahan tubuh tak hanya cukup dengan berolahraga, namun juga harus memperhatikan asupan yang dikonsumsi sehari-hari, termasuk pemenuhan vitamin, khususnya vitamin D. 

Meski tinggal di wilayah yang berlimpah cahaya matahari, namun karena minimnya informasi tentang cara yang tepat dalam memenuhi kebutuhan vitamin ini tak elak membuat kadar vitamin yang larut dalam lemak ini menjadi tidak optimal dan menimbulkan risiko kesehatan pada tubuh.

Studi menunjukkan, Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah dengan prevalensi defisiensi vitamin D tertinggi, yakni hingga 70%.

Ilustrasi sumber vitamin D (dok. istimewa)

DIsampaikan oleh dr. Adam Prabata, kandidat PhD di Medical Science yang tengah menempuh pendidikan di Jepang, kurangnya kadar vitamin D dalam tubuh, umum dialami oleh masyarakat, namun kebanyakan orang tidak menyadarinya akibat keluhan yang dirasakan sangat ringan, bahkan tanpa keluhan sama sekali. 

Menurut Adam, banyak faktor yang dapat menjadi penyebab defisiensi vitamin D, yakni: faktor fisiologis, seperti usia dan kondisi kesehatan, termasuk obesitas dan atau tubuh tidak dapat menyerap cukup nutrisi dari makanan; tidak mendapatkan paparan sinar matahari yang memadai – dilihat dari kebiasaan berpakaian, penggunaan tabir surya, dan gaya hidup dengan aktivitas luar ruangan yang terbatas.

“Kurangnya asupan makanan yang mengandung vitamin D. Tentu hal ini pada akhirnya berdampak pada kesehatan, khususnya daya tahan tubuh,” ujar Adam dalam diskusi virtual yang dihelat Combiphar menandai peluncuran Fortiboost D3 1000 IU, Kamis (13/1/2022).

Adam menyebut, ada sejumlah gejala defisiensi vitamin D yang dapat ditunjukkan oleh tubuh di antaranya daya tahan tubuh menurun sehingga lebih mudah terkena infeksi, sering merasa lelah, sakit tulang dan otot, serta penyembuhan luka terganggu atau lama. 

Tak hanya itu, kekurangan vitamin D juga dapat meningkatkan  risiko terhadap penyakit lain seperti gangguan autoimun, diabetes, penyakit kardiovaskular, kanker, hingga komplikasi terkait kehamilan. 

“Anak-anak yang mengonsumsi ASI dengan vitamin D yang tidak memadai pun memiliki risiko kemungkinan menderita rakitis,” ujar Adam.

Perlu diketahui, rakitis merupakan kelainan pertumbuhan tulang pada anak yang disebabkan oleh kekurangan vitamin D.

Untuk memastikan apakah asupan vitamin D terpenuhi, Adam mengatakan harus dilakukan cek kadar vitamin D secara berkala. Guna menghindari terjadinya defisiensi vitamin D ada sejumlah hal yang dapat dilakukan, di antaranya:

1. Lakukan pengecekan kadar vitamin D secara berkala – pemeriksaan kadar vitamin D rutin enam bulan sekali bisa untuk mengetahui kadar vitamin D dalam tubuh. Kadar normal vitamin D adalah 25-80 ng/mL.

2. Perbanyak kegiatan di luar ruangan dan mengonsumsi makanan dengan kandungan vitamin D – memperbanyak kegiatan di luar ruangan, seperti berolahraga, dapat membantu tubuh mendapatkan paparan sinar UV-B dari matahari. Diharapkan kulit yang diinduksi oleh sinar UV-B ini dapat memproduksi vitamin D. Pemenuhan vitamin D juga dapat berasal dari makanan yang kita konsumsi, seperti salmon, tuna, hati sapi, serta jamur.

3. Konsumsilah Mengonsumsi suplemen vitamin D – karena memastikan makanan yang dikonsumsi hanya dapat memenuhi 20% kebutuhan vitamin D dalam tubuh dan berjemur tidak cukup untuk memenuhi 80% sisa kadar vitamin D yang dibutuhkan sehari-hari secara optimal, maka suplementasi sangatlah dibutuhkan. Vitamin D3 lebih disukai sebagai suplemen dibandingkan D2, karena lebih lama bertahan di darah, serta mampu meningkatkan kadar vitamin D dan menjadikannya bentuk aktif untuk berbagai aksi penting bagi sel-sel tubuh.

Dengan sifat anti-peradangan dan imunoregulasinya, vitamin D berguna untuk aktivasi pertahanan sistem kekebalan tubuh, sehingga berperan penting dalam pencegahan terhadap infeksi, penyakit, dan gangguan terkait kekebalan tubuh. 

Ada studi yang menyebutkan secara spesifik bahwa pasien dengan kadar serum D3 yang optimal kurang lebih 50 ng/mL, berasosiasi dengan kemungkinan yang sangat kecil untuk mengalami konsekuensi fatal akibat Covid-19. 

“Berdasarkan riset, penggabungan vaksinasi dengan penguatan sistem kekebalan tubuh melalui konsumsi suplemen vitamin D3 secara konsisten berpotensi membantu mencegah risiko-risiko berat virus corona, terutama dengan masuknya varian Omicron sejak pertengahan Desember 2021,” tutur Adam.

Kesempatan yang sama Weitarsa Hendarto, selaku Senior Vice President Marketing & International Operations Combiphar mengatakan Fortiboost D3 mampu memenuhi kebutuhan vitamin D pada kondisi tertentu, seperti ibu hamil dan menyusui, kalangan lanjut usia, kalangan yang berisiko tinggi dan penderita penyakit infeksi atau autoimun.

“Formula bebas gluten yang dimiliki Fortiboost D3 juga menjadikan produk ini aman bagi masyarakat yang sensitif terhadap gluten, serta bisa menjadi pilihan masyarakat untuk perkuat daya tahan tubuh dan tetap mempertahankan kesehatan di tengah kondisi pandemi yang masih terus berlanjut dan ketika situasi kembali normal,” ujarnya. (BS)