Berandasehat.id – Orang dewasa penyandang disabilitas (kecacatan) memiliki hasil yang lebih buruk ketika dirawat di rumah sakit karena COVID-19 daripada pasien tanpa kecacatan. Juga lebih mungkin untuk dirawat di rumah sakit lebih lama dan peningkatan risiko masuk kembali ke RS, demikian temuan penelitian baru di CMAJ (Canadian Medical Association Journal).

“Pertimbangan kebutuhan terkait disabilitas sebagian besar tidak ada dalam tanggapan COVID-19, dengan kelayakan vaksin terutama didorong oleh usia dan komorbiditas medis. Selain itu, akomodasi terbatas yang dibuat untuk pasien penyandang disabilitas yang berada di rumah sakit, dan data disabilitas kerap tidak dicantumkan dan dimasukkan dalam program pengawasan,” tulis Dr. Hilary Brown, University of Toronto Scarborough, bersama rekan penulis.

Ilustrasi virus corona (dok. istimewa)

Penulis menekankan, perbedaan hasil itu terutama terlihat pada orang yang berusia di bawah 65 tahun.

Studi tersebut mencakup data pada 1279 pasien berusia 18 tahun atau lebih yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 di tujuh rumah sakit pendidikan di Toronto dan Mississauga, Ontario, antara 1 Januari hingga 30 November 2020. 

Para peneliti menemukan bahwa penyandang disabilitas memiliki masa rawat inap lebih lama 36% dan 77% lebih mungkin untuk dirawat kembali di rumah sakit dalam waktu 30 hari setelah rawat inap pertama mereka. Tingkat yang lebih tinggi ini bertahan setelah para peneliti memperhitungkan usia dan faktor lain yang mungkin menjelaskan perbedaan itu.

Risiko tertinggi untuk hasil yang buruk adalah pada pasien dengan cedera otak traumatis, cacat intelektual atau perkembangan, dan cacat ganda.

“Temuan kami menunjukkan kebutuhan terkait disabilitas harus dimasukkan dalam rencana respons COVID-19, khususnya untuk mendukung pasien di rumah sakit dan segera setelah rawat inap. Termasuk dalam hal ini dukungan masyarakat untuk memastikan transisi yang aman ke rumah dan mengurangi risiko kembali ke rumah sakit yang tidak direncanakan,” kata Amol Verma, dari Rumah Sakit St. Michael, Unity Health Toronto.

Temuan ini konsisten dengan penelitian dari Amerika Serikat dan Inggris yang menunjukkan hasil yang lebih buruk dari COVID-19 pada penyandang disabilitas.

Pendukung disabilitas menyambut baik kontribusi data baru untuk menyoroti pentingnya mendukung penyandang disabilitas selama pandemi.

“Ada dua setengah juta orang Ontarian yang memiliki disabilitas, yang merupakan proporsi signifikan dari populasi, dan termasuk anggota keluarga kami, teman kami, rekan kerja kami, dan orang-orang di komunitas kami,” kata advokat disabilitas Sandi Bell, ketua Komite Pengembangan Standar Perawatan Kesehatan Accessibility for Ontarians with Disabilities Act (AODA) dan anggota Dewan Direktur Pusat Hukum Disabilitas ARCH. 

“Namun selama COVID-19, penyandang disabilitas dibuat ‘merasa tidak terlihat’. Kami menjadi lebih rentan, karena manuver [melalui] sistem perawatan kesehatan menjadi sulit, membingungkan, dan menakutkan. Ada permintaan yang tulus untuk jenis data ini. untuk membantu memprioritaskan kebutuhan penyandang disabilitas, yang kami yakini ingin dilihat oleh orang Kanada,” tuturnya.

Langkah-langkah untuk memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas termasuk akomodasi bagi pasien yang membutuhkan pendamping, pelatihan dokter tentang kebutuhan dan hak penyandang disabilitas, memperkenalkan perencanaan pemulangan pasien ke rumah dan pencantuman data terkait disabilitas dalam pengawasan COVID-19.

“Upaya seperti itu harus diprioritaskan dalam respons pandemi untuk memastikan perawatan yang adil bagi pasien penyandang disabilitas yang terpapar COVID-19,” imbau penulis seperti dilaporkan MedicalXpress. (BS)