Berandasehat.id – Riset tentang COVID-19 membuahkan hasil yang dinamis dan cenderung berubah seiring waktu. Riset terbaru misalnya menemukan bahwa mereka yang pernah terpapar COVID-19 maka akan memiliki antibodi alami yang dapat bertahan selama 20 bulan.

Meskipun hasil ini meyakinkan, para ahli dengan cepat memperingatkan bahwa temuan baru itu bukan garansi semua orang yang pernah kena COVID-19 akan terlindungi dari infeksi ulang. Ditekankan, vaksin tetap menjadi bagian penting dari strategi pencegahan COVID-19.

“Studi ini memberi tahu kita bahwa orang memiliki antibodi yang bertahan setelah infeksi COVID-19, tetapi tidak memberi tahu kita apa pun tentang kekebalan karena kita tidak tahu tingkat antibodi alami apa yang dibutuhkan untuk perlindungan,” kata Dr. Otto Yang, seorang ahli imunologi di University of California, Los Angeles, David Geffen School of Medicine yang mengulas temuan tersebut dilansir MedicalXpress. “Orang-orang dapat terinfeksi ulang bahkan saat mereka memiliki antibodi COVID-19 alami.”

Ilustrasi mantan penderita Covid-19 (dok. istimewa)

Untuk studi ini, para peneliti mengukur kadar antibodi dalam darah 816 orang dewasa AS yang tidak divaksinasi. Para peneliti menemukan antibodi pada 99% dari mereka yang mengatakan bahwa mereka memiliki hasil tes COVID-19 yang positif. Sebanyak 55% orang yang percaya bahwa mereka pernah terpapar COVID-19 tetapi tidak pernah diuji; dan 11% merasa tidak pernah terinfeksi COVID-19.

“Hampir semua orang dengan infeksi COVID-19 yang terdokumentasi memiliki antibodi, dan antibodi ini tampaknya bertahan cukup lama,” kata penulis studi Dr. Dorry Segev, ahli bedah transplantasi di Universitas Johns Hopkins, di Baltimore. “Kita benar-benar perlu mulai memasukkan antibodi dari kekebalan alami ke dalam konteks evaluasi kekebalan, beralih dari verifikasi vaksin ke verifikasi kekebalan.”

Namun, dia memperingatkan, tidak ada tingkat antibodi yang menjamin seseorang tidak akan terinfeksi ulang. “Tentu ada bukti bahwa tingkat antibodi berkorelasi dengan perlindungan klinis.”

Temuan Segev dipublikasikan secara online pada 3 Februari 2022 di Journal of American Medical Association.

Penelitian lain menunjukkan bahwa antibodi alami COVID-19 berkurang seiring waktu, sering kali dalam waktu sekitar enam bulan, catat Yang. 

Studi baru melihat data pada sekelompok orang pada satu titik waktu. “Studi yang mengikuti orang yang sama di beberapa titik waktu telah menunjukkan bahwa antibodi alami memang turun,” tambah Yang.

“Penting diketahui, karena memiliki antibodi alami tidak berarti Anda terlindungi dari infeksi ulang,” tegas Dr. Len Horovitz, ahli paru di Lenox Hill Hospital di New York City.

“Antibodi dapat bertahan dalam darah selama berbulan-bulan, tetapi kami tidak tahu seberapa banyak hal itu memberikan perlindungan,” tandas Horovitz, yang tidak terlibat dalam studi baru tersebut.

Orang yang mengalami penyakit COVID-19 lebih parah memang memiliki tingkat antibodi yang lebih tinggi, namun hal itu tidak melindungi mereka selamanya. “Bila Anda selamat dari COVID-19, maka akan memiliki kekebalan yang diperantarai sel, tetapi ini berbeda dari jenis kekebalan dan antibodi yang didapatkan dari vaksin, dan akan lebih ideal untuk memiliki keduanya,” jelas Horovitz.

Antibodi terhadap protein nukleokapsid pada SARS-CoV-2 hanya muncul jika seseorang telah pulih dari COVID, jelas Horovitz, sementara vaksin dan infeksi alami menghasilkan antibodi terhadap protein spike virus.

“Dapatkan vaksinasi dan booster saat tersedia, pakai masker di tempat umum, jaga jarak sosial, dan tinggal di rumah ketika sakit,” pesan Horovitz. (BS)