Berandasehat.id – Kanker masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Penyakit ini tercatat merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi kedua setelah penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Data Global Burden of Cancer Study (Globocan) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kasus kanker di Indonesia pada 2020 total mencapai 396.914 dengan kematian sebesar 234.511 kasus. 

Di antara berbagai jenis kanker, kanker payudara memiliki jumlah kasus baru tertinggi di Indonesia sebesar 65.858 kasus atau 16,6% dari total 396.914 kasus kanker. Sedangkan kanker serviks (leher rahim) menempati urutan kedua dengan jumlah 36.633 kasus atau 9,2% dari total kasus kanker.

Dengan membaiknya sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), makin banyak warga yang dapat mengakses layanan kesehatan. Sayangnya, di antara pasien kanker banyak yang datang ke dokter sudah dalam stadium lanjut. Saat berada di stadium lanjut, bukan saja pengobatan menjadi lebih mahal, namun harapan sembuh juga makin kecil.

Ilustrasi pasien kanker (dok. istimewa)

Disampaikan Marketing Deputy Director One Onco Kalbe Farma, dr. Selvinna, M.Biomed, penyakit kanker membutuhkan perawatan medis dengan berbagai proses. Pengobatannya panjang, karena membutuhkan ketahanan yang luar biasa. Karena adanya ketakutan ini, banyak orang yang didiagnosis kanker menunda pengobatan medis dan memilih terapi alternatif. Saat terapi alternatif tak berhasil, mereka datang ke dokter dengan kondisi kanker stadium lanjut.

“Ketakutan pasien kanker itu tentang operasi dan kemoterapi. Sehingga tidak heran, iklan-iklan obat di luar sana menyebutkan pengobatan kanker dengan tuntas tanpa operasi dan kemoterapi,” beber dr. Selvinna dalam webinar yang diadakan One Onco Kalbe Farma berkolaborasi dengan Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC). PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) melalui layanan OneOnco.co.id, Sabtu (12/2/2022).

“Padahal, sudah ada bukti bahwa obat-obatan yang tidak berdasarkan penelitian dokter itu tidak tepat. Banyak juga yang kalau dihitung-hitung biayanya justru lebih mahal dibandingkan dengan perawatan medis,” terang dr. Selvinna.

Adanya pandemi COVID-19 juga cenderung membuat akses pasien kanker terhadap pengobatan menjadi terbatas. Seperti diketahui, pasien kanker memiliki kekebalan yang lemah sehingga rentan mengalami sakit parah jika terpapar virus corona penyebab COVID-19. Terkait hal ini, Prof. Dr. dr. Soehartati Argakosoema Gondhowiardjo, Sp.Rad. (K), Onk.Rad, menekankan sejumlah hal yang harus diwaspadai oasien kanker, khususnya di tengah melonjaknya varian Omicron.

“Lakukan konsultasi dengan layanan telemedicine. Jangan memaksakan datang ke rumah sakit saat kasus COVID-19 melonjak. Lakukan protokol kesehatan personal yang ketat, bagaimana tidak mendekatkan diri pada faktor risiko,” tutur Prof. Tati.

Bukan hanya faktor medis yang perlu diperhatikan para pejuang kanker, namun juga juga faktor psikososial yang merupakan satu kata kunci dalam penanganan kanker. Perlu diketahui, di Amerika Serikat, lebih dari 60 persen pasien kanker mengalami gangguan kejiwaan akibat pandemi COVID-19.

“Oleh sebab itu, dukungan psikososial sangat membantu meredakan gejala psikologis bagi para pasien maupun penyintas kanker. Di tengah pandemi ini, mari kita bersama-sama memberikan dukungan kepada penyintas maupun pasien kanker,” psikolog Yohana Domikus di kesempatan sama. “Dan ini harus ditekankan dalam diri para pejuang kanker. Kalau memang jalan hidup yang harus dijalani kita itu seperti ini, maka menyalahkan diri sendiri dan orang lain itu tidak baik.”

Dengan kata lain, Yohana menekankan, adanya support system menjadi hal yang tak bisa dipandang sebelah mata dalam perawatan kanker. “Apalagi pengobatan kanker bersifat jangka panjang,” ujarnya.

Mengingat konsultasi dokter merupakan salah satu rutinitas wajib bagi pejuang kanker, di masa pandemi hal ini bisa dilakukan melalui daring, misalnya melalui OneOnco.co.id, sebuah ekosistem digital yang memang bertujuan menjadi support system bagi pihak terkait, antara lain pejuang, penyintas dan caregiver/pendamping pasien kanker.

“OneOnco.co.id merupakan ekosistem digital supaya kita bisa mengatasi cancer gap (kesenjangan kanker). Harapan kami, dengan platform ini kita bisa membantu para penyintas, pendamping, pemerintah, untuk close the cancer care gap,” terang dr. Selvinna.

Selvinna menyampaikan, di laman OneOnco.co.id pengguna dapat mengakses informasi seputar kanker yang valid dan tepercaya, serta akses layanan konsultasi seputar kanker secara daring. “Termasuk dalam hal akses untuk deteksi dini kanker yang lengkap dan terjangkau serta juga informasi seputar fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan serta komunitas kanker di Indonesia,” tandasnya. (BS)