Berandasehat.id – Banyak pasien COVID-19 melaporkan kehilangan indera perasa serta indra penciuman mereka, tetapi para ilmuwan skeptis karena kedua indera tersebut terkait erat dan relatif jarang orang kehilangan indra perasa sebelum pandemi COVID, menurut studi the Monell Chemical Senses Center, sebuah lembaga penelitian nirlaba di Philadelphia.

Tetapi analisis Monell Center baru menemukan bahwa 37% – atau sekitar empat dari setiap 10 – pasien COVID-19 benar-benar kehilangan indera perasa dan bahwa laporan kehilangan rasa sebenarnya ‘asli’ dan dapat dibedakan dari kehilangan penciuman.

Disfungsi rasa dapat berupa kehilangan rasa total, kehilangan sebagian rasa, dan distorsi rasa. Ini adalah gejala ‘diremehkan’ yang dapat membantu dokter merawat pasien COVID dengan lebih baik, sebut Monell Center dalam rilis berita.

Ilustrasi wanita kehilangan penciuman (dok. istimewa)

“Sudah waktunya untuk beralih ke lidah guna mempelajari mengapa rasa terpengaruh dan untuk memulai tentang cara membalikkan atau memperbaiki kehilangan itu,” jelas Mackenzie Hannum, PhD, penulis laporan dan rekan pascadoktoral di lab Danielle Reed.

Para peneliti mengamati data 138.785 pasien COVID dari 241 penelitian yang menilai kehilangan rasa dan diterbitkan antara 15 Mei 2020 hingga 1 Juni 2021. 

Dari jumah pasien tersebut, 32.918 mengatakan mereka mengalami beberapa bentuk kehilangan rasa. Lebih lanjut, pasien wanita lebih mungkin kehilangan indera perasa dibandingkan pria, dan orang-orang berusia 36-50 tahun memiliki tingkat kehilangan indera perasa tertinggi.

Informasi tersebut diperoleh berasal dari laporan diri dan laporan langsung.

“Laporan diri lebih subjektif dan bisa dalam bentuk kuesioner, wawancara, catatan kesehatan, misalnya,” kata Hannum. 

“Di sisi lain, ukuran rasa langsung lebih objektif, yakni dilakukan dengan menggunakan alat uji yang berisi berbagai larutan manis, asin, dan terkadang pahit dan asam yang diberikan kepada peserta melalui tetes, strip, atau semprotan,” imbuhnya. 

Meskipun laporan diri bersifat subjektif, hal itu terbukti sama baiknya dengan laporan langsung dalam mendeteksi kehilangan rasa, menurut studi tersebut.

“Di sini laporan diri didukung oleh tindakan langsung, membuktikan bahwa hilangnya rasa adalah gejala nyata dan berbeda dari COVID-19 yang tidak sama dengan kehilangan bau,” kata rekan penulis studi Vicente Ramirez, seorang ilmuwan tamu di Monell dan seorang mahasiswa doktoral di University of California, Merced, demikian dilaporkan WebMD. (BS)