Berandasehat.id – Ketika divonis terpapar kanker, tak hanya perjuangan pasien yang dibutuhkan, tetapi juga dukungan dari keluarga. Namun, dukungan keluarga yang berlebihan dapat menimbulkan toxic positivity.  Contohnya, ketika terus-menerus memberikan motivasi positif yang membuat pasien kanker merasa tidak dipahami, karena mereka memiliki ketakutan.

“Ini sebenarnya fenomena yang cukup sering. Saat kita menemani keluarga atau teman kita yang berobat, kita harus dengar dulu pasien perlunya apa. Bukan kita berusaha menutupi ketakutan dengan membombardir memberikan motivasi positif, yang justru itu menjatuhkan mental pasien,” ujar pakar Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM dalam acara bincang virtual yang dihelat Kalbe Farma dengan topik ‘Beyond Physical: Mental and Emotional Impact.’

Ilustrasi toxic positivity (dok. istimewa)

Kesempatan sama,  Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI), Prof. Dr. dr. Aru W Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FACP menerangkan mengapa kanker bisa terjadi pada orang tertentu, sementara yang lain tidak. “Kita pakai kata random. Kanker itu akibat peristiwa mutasi. Tubuh kita itu selnya selalu membelah, berganti baru. Dalam rangka pembelahan sel itu selalu terjadi mutasi dan ada yang namanya random mutation. Jadi tidak ada penyebab apa-apa,” terangnya.

Mengapa kita tidak kena kanker? “Itu karena kita mempunyai sistem repair, di dalam tubuh kita seperti ada satpam yang keliling-keliling kalau menemukan ada sel yang sedang tidak benar membelah sel, kita akan reparasi, dimatikan,” terang Prof Aru.

Prof Aru menambahkan, pada keadaan seimbang itu, maka tubuh manusia dinyatakan masih sehat. Namun, di dalam tubuh manusia selalu mengalami berjuta-juta mutasi. “Apabila ‘montirnya’ itu dilemahkan dengan cara kita hidup, maka akan terjadi kerusakan,” bebernya. 

Tak heran sejumlah penyebab kanker tidak berdasarkan faktor genetik maupun lifestyle. Lalu, bagaimana cara mencegahnya? “Random kesalahan yang kebetulan itu tidak direparasi dengan sistem tubuh, karena ada yang kita tidak ketahui. Memang untuk mencegah itu penting tapi tidak ada tolak ukurnya. Akhirnya yang penting itu deteksi dini. Itu pun nggak gampang, karena beberapa tumor seperti kanker ginjal dan kanker pankreas, sebelum dia menekan saraf, sebelum dia membuat gangguan fungsi, itu tidak akan ketahuan gejalanya,” tandas Prof Aru. (BS)