Berandasehat.id – Jumlah kematian global resmi dari COVID-19 berada di ambang melampaui 6 juta, hal ini menggarisbawahi bahwa pandemi – yang kini memasuki tahun ketiga – masih jauh dari selesai.

Tonggak sejarah ini adalah pengingat menyedihkan tentang sifat pandemi yang tidak diketahui kapan akan berakhir. Jumlah data korban tewas – yang disusun oleh Universitas Johns Hopkins – mencapai 5.996.882 pada Minggu pagi (6/3/2022) dan diperkirakan akan melewati angka 6 juta dalam waktu yang tidak lama lagi.

Pulau-pulau terpencil di Pasifik, yang isolasinya telah melindungi mereka selama lebih dari dua tahun, baru saja bergulat dengan wabah dan kematian pertama di wilayah itu didorong oleh varian Omicron yang sangat menular.

Ilustrasi virus corona (dok. istimewa)

Hong Kong, yang mengalami lonjakan kematian,  sedang menguji seluruh populasi 7,5 juta – tiga kali bulan ini – demi berpegang teguh pada strategi “nol-COVID” Cina daratan.

Tingkat kematian tetap tinggi di Polandia, Hongaria, Rumania, dan negara-negara Eropa Timur lainnya, ditambah lebih dari 1 juta pengungsi tiba dari Ukraina yang dilanda perang. Ukraina tercatat sebagai negara dengan cakupan vaksinasi yang buruk dan tingkat kasus/kematian tinggi.

Mirisnya, terlepas dari kekayaan dan ketersediaan vaksin COVID, Amerika Serikat sendiri mendekati 1 juta kematian yang dilaporkan.

“Tingkat kematian di seluruh dunia masih tertinggi di antara orang yang tidak divaksinasi terhadap virus tersebut,” kata Tikki Pang, seorang profesor tamu di sekolah kedokteran Universitas Nasional Singapura dan ketua bersama Koalisi Imunisasi Asia Pasifik dilaporkan The Associated Press.

“Ini adalah penyakit yang tidak (bisa hilang dengan) divaksinasi. Lihat apa yang terjadi di Hong Kong sekarang, sistem kesehatan sedang kewalahan,” kata Pang, mantan direktur kebijakan penelitian dan kerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “(Namun demikian) Sebagian besar kematian dan kasus parah berada di segmen populasi yang tidak divaksinasi dan rentan.”

Dunia membutuhkan waktu tujuh bulan untuk mencatat satu juta kematian pertama akibat virus setelah pandemi dimulai pada awal 2020. Empat bulan kemudian, satu juta orang lainnya telah meninggal, dan 1 juta telah meninggal setiap tiga bulan sejak itu, hingga jumlah kematian mencapai 5 juta pada akhir Oktober 2020. 

Sekarang diperkirakan telah mencapai 6 juta kematian, jumlah ini melebihi gabungan populasi Berlin dan Brussel, atau seluruh negara bagian Maryland.

Namun terlepas dari besarnya angka tersebut, dunia tidak diragukan lagi telah mencapai kematian ke enam juta beberapa waktu lalu. Pencatatan dan pengujian yang buruk di banyak bagian dunia telah menyebabkan rendahnya jumlah kematian akibat virus corona, di samping kematian berlebih yang terkait dengan pandemi tetapi bukan karena infeksi COVID-19 yang sebenarnya – misalnya orang yang meninggal karena penyebab yang dapat dicegah tetapi tidak dapat menerima perawatan karena rumah sakit penuh.

Edouard Mathieu, kepala data untuk portal Our World in Data, mengatakan ketika angka kematian berlebih negara-negara dipelajari, maka sebanyak hampir empat kali lipat jumlah kematian yang dilaporkan kemungkinan meninggal karena pandemi.

Analisis kelebihan kematian oleh tim di The Economist memperkirakan jumlah kematian akibat COVID-19 antara 14 juta hingga 23,5 juta.

“Kematian yang dikonfirmasi mewakili sebagian kecil dari jumlah kematian sebenarnya akibat COVID, sebagian besar karena pengujian terbatas, dan tantangan dalam atribusi penyebab kematian,” kata Mathieu kepada The Associated Press. “Di beberapa, sebagian besar negara kaya, negara yang fraksinya tinggi dan penghitungan resminya dapat dianggap cukup akurat, tetapi di negara lain itu sangat diremehkan.”

Amerika Serikat memiliki angka kematian resmi terbesar di dunia, tetapi jumlahnya cenderung menurun selama sebulan terakhir.

Dunia telah menyaksikan lebih dari 445 juta kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, dan kasus mingguan baru telah menurun baru-baru ini di semua wilayah kecuali Pasifik Barat, yang mencakup di antaranya Cina, Jepang dan Korea Selatan, berdasar laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia.

Meskipun angka keseluruhan di pulau-pulau Pasifik yang mengalami wabah pertama mereka kecil dibandingkan dengan negara-negara besar, namun terlihat signifikan di antara populasi kecil dan menjadi ancaman ‘membanjiri’ sistem perawatan kesehatan yang rapuh.

“Mengingat apa yang kita ketahui tentang COVID, kemungkinan akan menyerang mereka setidaknya untuk tahun depan atau lebih,” prakiraan Katie Greenwood, kepala delegasi Palang Merah Pasifik. (BS)