Berandasehat.id – Ada temuan penting dalam hal makanan terkait dengan kesehatan jantung. Riset terkini menemukan bahwa konsumsi terlalu banyak makanan yang mengandung asam amino belerang/sulfur – terutama ditemukan dalam protein seperti daging sapi, ayam, dan susu – dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian.

Asam amino sulfur diketahui sangat penting untuk metabolisme dan kesehatan secara keseluruhan, tetapi rata-rata orang di Amerika Serikat mengonsumsi jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan, yakni hingga dua setengah kali perkiraan kebutuhan rata-rata.

“Ini mungkin memberikan sebagian alasan mengapa orang yang mengonsumsi makanan yang menekankan makanan nabati yang sehat memiliki tingkat penyakit kardiovaskular yang lebih rendah daripada mereka yang makan daging dan produk susu dalam jumlah besar,” kata Laila Al-Shaar, asisten profesor epidemiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri di Hershey, Pennsylvania dikutip MedicalXpress. 

Ilustrasi daging sapi panggang (dok. istimewa)

Laila Al-Shaar memimpin penelitian yang dipresentasikan di konferensi American Heart Association’s Epidemiology and Prevention, Lifestyle and Cardiometabolic Health di Chicago.

Untuk sampai pada kesimpulan itu, peneliti menganalisis data dari 120.699 orang dalam dua studi nasional jangka panjang, yakni Studi Kesehatan Perawat dan Studi Tindak Lanjut Profesional Kesehatan. Peserta menyelesaikan kuesioner kesehatan terperinci, termasuk pertanyaan tentang diet/pola makan setiap dua hingga empat tahun.

Rata-rata, peserta makan lebih dari dua kali jumlah asam amino belerang yang direkomendasikan setiap hari, sebagian besar dari daging sapi, ayam, dan susu. Setelah menyesuaikan dengan faktor risiko jantung lainnya, para peneliti menemukan bahwa dibandingkan dengan mereka yang makan paling sedikit, responden yang paling banyak mengonsumsi asam amino belerang memiliki 12% peningkatan risiko tahunan terkena penyakit kardiovaskular dan 28% peningkatan risiko kematian akibat penyakit jantung selama masa studi 32 tahun. 

Untuk dicatat, hasil studi ini dianggap awal sampai temuan lengkap diterbitkan dalam jurnal peer-review (yang ditinjau rekan sejawat).

Sebagian besar peserta, setidaknya 94%, adalah pria dan wanita kulit putih non-Hispanik, dan karena mereka adalah profesional kesehatan. Dengan demikian status sosial ekonomi mereka mungkin tidak mewakili populasi secara keseluruhan. “Ini berarti hasilnya mungkin tidak dapat digeneralisasikan ke kelompok lain,” ujar Al-Shaar. 

“Jadi, penelitian lain harus melibatkan populasi dengan perilaku diet yang berbeda, khususnya mereka yang asupan proteinnya terutama dari sumber nabati,” imbuhnya.

Menunda Penuaan dan Memanjangkan Umur

Beberapa penelitian pada hewan dalam beberapa dekade terakhir telah menunjukkan bahwa membatasi jenis asam amino sulfur, terutama metionin dan sistein, dapat menunda proses penuaan dan membantu hewan hidup lebih lama. Namun menerjemahkan manfaat tersebut kepada manusia terbukti sulit.

Sebuah studi dari kelompok penelitian Penn State yang sama yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet’s eClinicalMedicine pada tahun 2020 mengaitkan konsumsi asam amino sulfur yang lebih tinggi dengan risiko penyakit kardiometabolik yang lebih tinggi. Tapi itu didasarkan pada perkiraan diet dari peserta yang mengisi hanya satu atau dua kuesioner tentang diet mereka selama 24 jam sebelumnya. 

Penelitian baru ini didasarkan pada studi itu, dengan keuntungan menggunakan data diet jangka panjang yang dinilai dengan kuesioner frekuensi makanan berulang dan data hasil kesehatan.

Hal itu juga didasarkan pada studi yang dipimpin Al-Shaar sebagai peneliti pascadoktoral di Harvard T.H. Chan School of Public Health, Boston. Diterbitkan di British Medical Journal (BMJ) pada tahun 2020, studi menunjukkan bahwa mengganti makanan nabati berkualitas tinggi seperti kacang-kacangan, polong-polongan atau kedelai untuk daging merah dapat mengurangi risiko penyakit jantung koroner pada pria.

Al-Shaar mengatakan setiap orang bisa mendapatkan prakiraan kebutuhan rata-rata asam amino belerang, yakni 15 miligram per kilogram berat badan per hari, melalui sumber nabati atau ikan. Untuk orang dewasa seberat 150 pon (setara 68 kg), misalnya. itu berarti setara 1 cangkir tahu dan 1 cangkir lentil sehari. Itu juga bisa dipenuhi dengan mengonsumsi 3 ons fillet tuna.

“Karena daging merah telah ditemukan terkait dengan hasil kesehatan yang lebih buruk, akan lebih baik untuk fokus pada sumber protein yang lebih sehat untuk memenuhi kebutuhan rata-rata asam amino belerang,” kata Al-Shaar.

Penelitian baru menambahkan fokus pada cara makan orang dewasa secara keseluruhan di AS dan menyoroti bahwa diet sehat harus memasukkan lebih banyak buah dan sayuran, komentar Judith Wylie-Rosett, seorang profesor epidemiologi dan kesehatan populasi di Albert Einstein College of Medicine di New York.

“Kita semua perlu melihat pola diet karena pola diet Amerika jauh dari rekomendasi,” kata Wylie-Rosett, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut. “Tapi penelitian ini tidak memberikan bukti bahwa kita harus fokus hanya pada dua asam amino itu.”

Studi ini juga cocok dengan penelitian terkini tentang metabolisme dan biomarker spesifik, yang dikenal sebagai ‘metabolomik’ yakni alat yang mendukung pengobatan presisi yang disesuaikan untuk pasien tertentu.

“Kami bergerak menuju nutrisi presisi,” kata Wylie-Rosett. “Dengan demikian, kami menjadi jauh lebih canggih dalam melihat gizi. Ini adalah studi yang cukup sederhana tetapi dapat membantu menginformasikan studi masa depan tentang beberapa cara yang lebih kompleks dalam melihat nutrisi dan metabolisme.” (BS)