Berandasehat.id – Kejadian gangguan fungsi pada retina perlu menjadi perhatian bersama karena menjadi ancaman kebutaan yang perlu diwaspadai.  Perlu diketahui, retina merupakan jaringan saraf di bagian belakang bola mata, yang memiliki peran sangat penting dalam proses melihat. Organ ini berfungsi menerima dan mengolah cahaya yang masuk ke mata kemudian meneruskannya ke otak untuk diterjemahkan. 

Karena fungsi vital inilah maka gangguan pada retina harus ditanggapi serius karena dapat berpotensi mengganggu penglihatan secara permanen alias kebutaan, misalnya akibat ablasio retina regmatogen (rhegmatogenous retinal detachment/RRD), yakni kondisi lepasnya lapisan retina yang diakibatkan oleh lubang atau robekan pada retina. 

Ilustrasi ablasio retina (dok. istimewa)

Disampaikan DR.Dr. Elvioza, SpM(K), Ketua Vitreo-Retina Service dan Dokter Spesialis Mata Subspesialis Vitreo-Retina JEC Eye Hospitals & Clinics, ablasio retina termasuk dalam kegawatdaruratan pada organ mata, karena berpotensi menyebabkan kebutaan. 

Guna mengetahui lebih jauh terkait gangguan mata ini, Elvioza melakukan studi yang tertuang dalam disertasi “Perbandingan Proses Penuaan Cairan Vitreus pada Pasien Ablasio Retina Regmatogen Usia Muda dengan Miopia Aksial dan Pasien Ablasio Retina Usia Lanjut Tanpa Miopia”.

Penelitian itu bertujuan membandingkan proses penuaan dini pada vitreus pasien RRD berusia muda yang menderita miopia dengan pasien RRD usia lanjut tanpa miopia. Untuk diketahui, vitreus merupakan bagian berstruktur seperti jeli di dalam organ mata yang berfungsi mempertahankan bentuk mata dan menahan retina. “Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tatalaksana ablasio retina regmatogen yang tepat sehingga diharapkan tercapai hasil terapi yang optimal,” ujar Elvioza dalam temu media daring yang dihelat JEC, baru-baru ini.

Riset berlangsung Maret 2020 hingga Agustus 2020 dengan melibatkan 40 subjek. Sementara, pemaparannya telah berlangsung secara virtual pada Ujian Terbuka, Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penjabaran secara rasional, sistematis dan empiris berhasil mengantarkan Elvioza meraih gelar doktor. 

Elvioza menyampaikan, risiko ablasio retina makin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Meski demikian, penderita miopia berusia muda ternyata memiliki risiko yang lebih tinggi terserang RRD.

Data jumlah operasi terkait gangguan retina di JEC Eye Hospitals & Clinics sepanjang 3 tahun terakhir bahkan mencapai 10.000 tindakan. Beberapa jenis gangguan retina yang kerap ditemukan di Indonesia, antara lain: Retinopathy Diabetic, Age-related Macular Degeneration (AMD) Degenerasi Makula, Ablasio Retina dan Retinoblastoma.

Memahami fungsi krusial retina dan mengakomodir kebutuhan masyarakat terhadap penanganan retina secara menyeluruh, JEC Eye Hospitals & Clinics telah memiliki JEC Vitreo-Retina Service sejak 1984 (dari awal perusahaan berdiri)

Diperkuat teknologi diagnostik hingga tindakan operasi termutakhir, JEC Vitreo-Retina Service ini bukan hanya sentra pelayanan spesialisasi retina terkemuka  di Indonesia ini, bahkan diklaim menjadi yang terlengkap di Asia Tenggara. (BS)