Berandasehat.id – Mengapa ada sejumlah perokok yang lolos dari kanker paru? Studi terkini menyebut, beberapa perokok mungkin tidak terkena kanker paru karena DNA mereka. Orang-orang ini memiliki gen yang membantu membatasi mutasi, atau perubahan, pada DNA yang akan mengubah sel menjadi ganas dan membuatnya tumbuh menjadi tumor, kata para peneliti.

Para ilmuwan telah lama menduga bahwa merokok menyebabkan kanker paru dengan memicu mutasi DNA pada sel-sel sehat. Tetapi sulit bagi mereka untuk mengidentifikasi mutasi pada sel sehat yang mungkin membantu memprediksi risiko kanker di masa depan, demikian disampaikan  Jan Vijg, PhD, penulis senior studi dan peneliti di University School of Medicine di Shanghai, Cina.

Ilustrasi paru (dok. istimewa)

Timnya menggunakan proses yang disebut sekuensing seluruh genom sel tunggal untuk memeriksa sel-sel yang melapisi paru 19 perokok dan 14 bukan perokok mulai dari usia pra-remaja hingga pertengahan 80-an. 

Sel-sel tersebut berasal dari pasien yang sampel jaringannya diambil dari paru mereka selama pengujian diagnostik yang tidak terkait dengan kanker. 

Para peneliti secara khusus melihat sel-sel yang melapisi paru karena sel-sel ini dapat bertahan selama bertahun-tahun dan membangun mutasi dari waktu ke waktu yang terkait dengan penuaan dan merokok.

“Dari semua jenis sel paru, ini adalah yang paling mungkin menjadi kanker,” kata Simon Spivack, MD, penulis senior studi dan profesor di Albert Einstein College of Medicine di New York City. Studi terbaru ini telah dipublikasikan di Nature Genetics.

Perokok memiliki lebih banyak mutasi gen yang dapat menyebabkan kanker paru daripada bukan perokok, menurut analisis tersebut.

“Ini secara eksperimental menegaskan bahwa merokok meningkatkan risiko kanker paru dengan meningkatkan frekuensi mutasi, seperti yang dihipotesiskan sebelumnya,” kata Spivack. “Ini mungkin salah satu alasan mengapa begitu sedikit orang yang bukan perokok terkena kanker paru, sementara 10 hingga 20 persen perokok seumur hidup mengalaminya.”

Di antara perokok, orang telah merokok maksimal 116 yang disebut pack-years, setara dengan merokok satu bungkus sehari selama setahun. Jumlah mutasi yang terdeteksi pada sel paru perokok meningkat sebanding dengan jumlah bungkus tahunan yang mereka isap.

Tetapi setelah 23 pack-years, sel-sel paru pada perokok tampaknya tidak menambah lebih banyak mutasi, para peneliti melaporkan, menunjukkan bahwa beberapa gen orang mungkin membuat mereka lebih mungkin untuk melawan mutasi.

“Perokok terberat tidak memiliki beban mutasi tertinggi,” kata Spivack. “Data kami menunjukkan bahwa orang-orang ini mungkin bertahan begitu lama meskipun mereka merokok berat karena mereka berhasil menekan akumulasi mutasi lebih lanjut.”

Meskipun mungkin temuan ini suatu hari nanti dapat membantu dokter menemukan cara yang lebih baik untuk menyaring kanker paru dan mengobati penyakitnya, itu masih jauh. Lebih banyak tes laboratorium dan penelitian yang lebih besar akan diperlukan untuk menentukan perokok mana yang lebih rentan terhadap kanker paru berikut alasannya, demikian laporan WebMD. (BS)