Berandasehat.id – Ribuan orang yang mengalami gejala yang melemahkan sebagai imbas Long COVID melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mencari perawatan yang mahal tetapi tidak terbukti seperti terapi ‘cuci darah’, menurut penyelidikan yang dilakukan oleh The BMJ dan ITV News.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa antara 10% hingga 20% pasien menderita gejala setidaknya selama dua bulan setelah infeksi COVID-19 akut, fenomena yang umumnya dikenal sebagai Long COVID atau sindrom pasca infeksi.

Menurut data resmi terbaru, pada 1 Mei 2022, ada hampir dua juta orang di Inggris yang melaporkan sendiri gejala Long COVID,  mencakup kelelahan, kelemahan otot, kesulitan bernapas dan tidur, masalah memori, kecemasan atau depresi, nyeri dada., dan kehilangan bau atau rasa. Saat ini, tidak ada jalur pengobatan yang disepakati secara internasional untuk kondisi tersebut.

Ilustrasi pasien long Covid (dok. istimewa)

Pasien Long COVID itu bepergian ke klinik swasta di Siprus, Jerman dan Swiss untuk apheresis, yakni perawatan penyaringan darah yang biasanya digunakan untuk pasien dengan gangguan lipid yang tidak menanggapi obat dan terapi anti-pembekuan darah. Tetapi para ahli mempertanyakan efektivitas terapi invasif tanpa bukti yang cukup.

Sebagai bagian dari penyelidikan, ITV News mengunjungi sebuah klinik swasta di Siprus dan berbicara dengan salah satu pendirinya Marcus Klotz dan beberapa pasien.

Terapi Cuci Darah

Apheresis melibatkan jarum yang dimasukkan ke setiap lengan dan darah dilewatkan melalui filter, memisahkan sel darah merah dari plasma. Plasma disaring sebelum digabungkan kembali dengan sel darah merah dan dikembalikan ke tubuh melalui vena yang berbeda.

Investigasi mencakup perincian orang-orang yang telah mencoba pengobatan, seperti Gitte Boumeester, seorang psikiater magang di Almelo, Belanda, yang, setelah tertular virus, mengembangkan gejala Long COVID yang parah dan lama. Dia terpaksa berhenti dari pekerjaannya pada November 2021, setelah dua kali gagal untuk kembali bekerja.

Boumeester mengetahui tentang perawatan ‘cuci darah’ apheresis dari grup Facebook untuk pasien Long COVID. Setelah mengunjungi The Long COVID Center di Siprus untuk menerima perawatan, dengan biaya lebih dari €50.000 (setara 42.376 poundsterling atau sekira Rp750 juta), dia kembali ke rumah namun gejalanya tidak membaik. Dia menerima enam putaran apheresis, serta sembilan putaran terapi oksigen hiperbarik, dan infus vitamin di klinik swasta Poseidonia, di sebelah Center.

Boumeester diminta untuk menandatangani formulir persetujuan di Long COVID Center sebelum menjalani apheresis, yang menurut para pengacara dan dokter tidak memadai.

Dia juga disarankan untuk membeli hydroxychloroquine sebagai paket perawatan awal jika dia terinfeksi ulang dengan COVID-19, meskipun ulasan Cochrane yang diterbitkan pada Maret 2021 menyimpulkan bahwa tidak mungkin obat tersebut memiliki manfaat dalam pencegahan COVID-19.

“Kami sebagai klinik tidak mengiklankan, atau mempromosikan. Kami menerima pasien yang memiliki masalah mikrosirkulasi dan ingin dirawat dengan HELP apheresis. Jika pasien membutuhkan resep, itu dinilai secara individual oleh dokter kami atau pasien dirujuk ke dokter khusus lainnya jika diperlukan,” ujar Marcus Klotz, salah satu pendiri Long COVID Center mengatakan kepada The BMJ.

Seorang juru bicara klinik Poseidonia mengatakan semua perawatan yang ditawarkan selalu didasarkan pada evaluasi medis dan klinis oleh dokter dan ahli gizi klinis mereka, termasuk diagnosis melalui tes darah dengan tindak lanjut laboratorium sesuai praktik medis yang baik.

Habiskan Dana Besar

Sementara beberapa dokter dan peneliti percaya obat apheresis dan antikoagulasi mungkin merupakan pengobatan yang menjanjikan untuk Long COVID, yang lain khawatir pasien yang putus asa menghabiskan dana besar untuk perawatan invasif yang belum terbukti.

Shamil Haroon, dosen klinis dalam perawatan primer di University of Birmingham dan seorang peneliti pada uji coba Therapies for Long COVID in Non-hospitalized patient (TLC), percaya bahwa pengobatan eksperimental semacam itu hanya boleh dilakukan dalam konteks uji klinis.

“Tidak mengherankan bahwa orang yang sebelumnya sangat berfungsi, yang sekarang lemah, tidak dapat bekerja, tidak dapat menghidupi diri sendiri secara finansial, akan mencari perawatan di tempat lain,” katanya. “Ini adalah respons yang sepenuhnya rasional untuk situasi seperti ini. Tetapi orang-orang berpotensi bangkrut karena mengakses perawatan ini, yang tidak ada bukti efektivitasnya.”

Pada Februari tahun lalu, Dr. Beate Jaeger, seorang dokter penyakit dalam, mulai merawat pasien Long COVID dengan apheresis di kliniknya di Mulheim, Jerman, setelah membaca laporan bahwa COVID menyebabkan masalah dengan pembekuan darah. Dia mengatakan kepada BMJ bahwa hingga kini telah merawat ribuan orang di kliniknya, dengan kisah sukses menyebar di media sosial dan dari mulut ke mulut.

Jaeger menerima bahwa pengobatan itu eksperimental untuk Long COVID tetapi mengatakan uji coba memakan waktu terlalu lama ketika pandemi telah membuat pasien sakit parah.

Asosiasi Medis Rhine Utara, yang memeriksa apakah dokter telah melanggar kode etik profesional mereka, mengatakan kepada The BMJ bahwa pihaknya belum menerima keluhan apa pun tentang Jaeger atau kliniknya dari pasien atau organisasi lain tetapi akan menyelidiki jika memang demikian.

Penyelidikan juga menemukan bahwa apheresis dan biaya perjalanan terkait sangat mahal sehingga pasien membuat halaman penggalangan dana di situs web seperti GoFundMe untuk mengumpulkan uang.

Chris Witham, seorang pengusaha berusia 45 tahun dan penderita LongCOVID dari Bournemouth yang menghabiskan sekitar £7.000 )setara Rp105 juta) untuk perawatan apheresis (termasuk biaya perjalanan dan akomodasi) di Kempten, Jerman, tahun lalu. “Saya akan menjual rumah dan melakukan terapi, tanpa berpikir dua kali,” ujarnya.

Penelitian yang ada menunjukkan bahwa “gumpalan mikro” yang ada dalam plasma orang dengan Long COVID dapat bertanggung jawab atas gejala COVID menetap yang mereka alami. Tetapi para ahli yang dihubungi oleh The BMJ dan ITV News mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana gumpalan mikro terbentuk dan apakah memang menjadi biang penyebab Long COVID.

Ahli yang lain juga khawatir tentang kurangnya perawatan lanjutan untuk pasien ketika mereka meninggalkan klinik setelah diberi resep obat antikoagulan.

“Gumpalan mikro mungkin menjadi biomarker penyakit, tetapi bagaimana kita tahu bahwa itu adalah penyebab,” kata Robert Ariens, profesor biologi vaskular di Fakultas Kedokteran Universitas Leeds.

Dia percaya bahwa klinik yang menawarkan terapi apheresis dan antikoagulasi memberikan pengobatan sebelum waktunya berdasarkan hipotesis yang membutuhkan penelitian lebih ilmiah. 

“Jika kita tidak mengetahui mekanisme pembentukan gumpalan mikro dan apakah itu penyebab penyakit atau tidak, tampaknya terlalu dini untuk merancang pengobatan untuk menghilangkan gumpalan mikro, karena baik apheresis dan antikoagulasi rangkap tiga bukannya tanpa risiko,” tandasnya. (BS)