Berandasehat.id – Masalah malnutrisi pada anak-anak dan persoalan lingkungan hidup yang cukup serius masih terus berlangsung hingga saat ini di Indonesia. Terkait malnutrisi, hasil penelitian South East Asian Nutrition Survey (SEANUTS) II yang dilakukan oleh FrieslandCampina bekerja sama dengan universitas dan lembaga penelitian terkemuka di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam menyoroti persoalan tiga beban malnutrisi masih menjadi masalah.
“Studi SEANUTS II yang melibatkan hampir 14.000 anak, dengan rentang usia antara 6 bulan hingga 12 tahun, secara khusus menyoroti ‘triple burden of malnutrition’, yang terdiri dari kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, dan kelebihan berat badan/obesitas,” ujar Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro dalam temu media daring “Peningkatan Status dan Literasi Gizi serta Penerapan Gaya Hidup Aktif dan Berkelanjutan di Sekolah Dasar untuk Indonesia yang Sehat, Sejahtera, dan Selaras” di Jakarta, Kamis (4/8/2022).
Studi menemukan, di wilayah Jawa-Sumatera, kasus anak berperawakan pendek atau stunted masih banyak ditemukan pada anak-anak, dengan prevalensi sebesar 28,4% pada anak di bawah 5 tahun. Sementara, hampir 15% anak usia 7-12 tahun memiliki kelebihan berat badan/obesitas. “Selain itu, sebagian besar anak-anak tidak memenuhi kebutuhan rata-rata asupan kalsium dan vitamin D, sehingga masalah gizi ini menjadi hal yang sangat penting,” terang Andrew.

Selain permasalahan kesehatan, saat ini Frisian Flag juga menyoroti masalah lingkungan hidup yang cukup serius. “Kami ingin berkontribusi untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan,” ujar Andrew..
Sebagai produsen produk nutrisi berbasis susu, Frisian Flag Indonesia berkomitmen melakukan berbagai inovasi dalam upaya mengoptimalkan pertumbuhan fisik dan perkembangan anak, serta berpartisipasi menanggulangi permasalahan lingkungan hidup., di antaranya melalui Program Gerakan Nusantara.
“Program Gerakan Nusantara tahun ini bertujuan untuk mengedukasi keluarga Indonesia mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang, minum susu setiap hari, dan mempromosikan gaya hidup sehat, aktif, dan berkelanjutan,” papar Andrew.
Hal itu dilakukan berkolaborasi dengan guru dan sekolah untuk meningkatkan kesadaran siswa akan asupan gizi seimbang, melakukan aktivitas fisik yang aktif, berperilaku hidup bersih, dan menjaga lingkungan.
Andrew menyampaikan, ada banyak kebiasaan baik yang bisa dilakukan untuk menjaga bumi dan melestarikan alam, semua itu dapat diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini, seperti menghemat penggunaan air dan listrik, penghijauan, kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, memisahkan barang daur ulang, dan sebagainya.
Pendiri Yayasan Nara Kreatif dan PT Nara Sinergi Lingkungan, Nezatullah Ramadhan, memaparkan masalah sampah timbul karena banyak yang membuang namun sedikit yang mengurus. Sementara di sisi lain, kemampuan pelayanan dalam mengelola sampah yang dihasilkan masyarakat masih sangat terbatas, membuat tempat pengelolaan/penampungan sampah yang tidak mampu lagi menampungnya.
“Kami berharap program Gerakan Nusantara 2022 dapat menjadi salah satu solusi untuk menjawab permasalahan yang ada. Literasi mengenai lingkungan dapat diterapkan kepada anak sejak dini dengan menanamkan rasa cinta kepada alam dan memahami esensi alam yang merupakan bagian dari kehidupan manusia,” ujar Nezatullah.
Dia mengatakan, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk turut menjaga bumi dan melestarikan alam. Kebiasaan baik tersebut dapat diperkenalkan dan dilakukan sejak awal yaitu dengan melakukan upaya penghijauan di lingkungan rumah dan sekolah, menerapkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, mengurangi timbunan sampah, memisahkan barang yang dapat diolah kembali atau dipakai kembali, serta mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai.
“Kami yakin prinsip gaya hidup berkelanjutan ini dapat dimulai dari usia dini dan dari hal yang sederhana, Gerakan Nusantara 2022 dapat menjadi salah satu platform untuk mewujudkan hal tersebut,” imbuh Nezatullah.
Kesempatan sama, Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan FKM Universitas Indonesia, Ir. Ahmad Syafiq, MSc, PhD., menuturkan bahwa Gerakan Nusantara 2022 adalah sebuah solusi di tengah krisis kesehatan yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. “Program ini dapat menjadi langkah awal untuk memberikan literasi gizi kepada anak-anak di sekolah dasar sebagai bekal di kemudian hari,” ujarnya.
Ahmad mengatakan, Pedoman Gizi Seimbang dan ‘Isi Piringku’ yang diajarkan di sekolah mencakup pemahaman dasar tentang gizi seimbang, termasuk pentingnya konsumsi minimal segelas susu setiap hari untuk memenuhi kebutuhan gizi bagi perkembangan otak dan fisik yang optimal bagi anak-anak usia prasekolah dan sekolah.
“Protein hewani dan zat gizi lainnya yang dikandung susu sangat penting untuk membantu menjaga imunitas tubuh keluarga selama masa pandemi. Kami berharap, Gerakan Nusantara 2022 dapat mendorong perubahan perilaku yang inovatif untuk melatih anak agar terbiasa dalam menerapkan gaya hidup sehat, aktif dan berkelanjutan,” bebernya.
Gerakan Nusantara diluncurkan sejak 2013 dan hingga 2021, program ini telah menjangkau 4.999 Sekolah Dasar dengan jangkauan 2.554.458 siswa, dan telah melatih 7.336 guru melalui kegiatan training of trainers. (BS)