Berandasehat.id – Anak yang mengalami gagal ginjal akut bisa sembuh. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan parameter kesembuhan kasus gagal ginjal akut progresif atipikal yang banyak dialami anak-anak, dan bahkan menyebabkan ratusan korban meninggal.

Disampaikan juru bicara Kemenkes Mohammad Syahril, anak penderita gagal ginjal akut dapat dinyatakan sembuh apabila frekuensi dan volume buang air kecil tidak lagi mengalami penurunan. Dengan kata lain, kriteria sembuh secara klinis frekuensi buang air kecil dan volume buang air kecil sudah normal kembali.

Sedangkan gejala lain seperti demam hingga batuk pilek tidak lagi dirasakan oleh anak tersebut. Selain itu,  Syahril menyebut, anak dengan penyakit gagal ginjal akut tak perlu lagi melakukan cuci darah apabila sudah dinyatakan sembuh.

“Gejala-gejala lain seperti demam, diare, batuk pilek sudah tidak ada lagi dan secara umum anak ini kondisinya baik. Dan tidak perlu lagi cuci darah,” ujar Syahril dalam temu media di Kantor Kemenkes Jakarta, Jumat (21/10/2022).

Ilustrasi pasien anak (dok. istimewa)

Per 18 Oktober 2022, total kumulatif kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal di Indonesia mencapai 241 orang, sebanyak 133 orang di antaranya dinyatakan meninggal dunia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan mayoritas pasien penyakit yang masih belum diketahui penyebabnya ini berasal dari golongan anak-anak, dengan pasien paling banyak bayi di bawah lima tahun (balita).

Kemenkes mencatat gejala paling banyak dialami adalah oliguria (air kencing sedikit) atau anuria (tidak ada air kencing sama sekali). Orang tua lebih waspada dengan cara terus memantau jumlah dan warna urine yang pekat atau kecoklatan pada anak. Apabila urin berkurang atau berjumlah kurang dari 0,5ml/kg BB/jam dalam 6-12 jam atau tidak ada urin selama 6-8 jam, maka pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit.

Sementara itu, pemerintah belum menetapkan kasus gagal ginjal akut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). (BS)

Advertisement