Berandasehat.id – Subvarian COVID-19 XBB.1.5 menyebar begitu cepat sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan masyarakat untuk memakai masker dalam situasi tertentu, termasuk di ruang yang ramai, tertutup, dan berventilasi buruk, terlepas dari tingkat infeksi lokal.

Pengumuman itu datang tiga hari setelah WHO merekomendasikan agar orang-orang memakai masker pada penerbangan jarak jauh, demikian dilaporkan Reuters.

Dua ahli di Universitas Northeastern mengatakan subvarian Omicron baru sangat menular sehingga berpeluang menyebabkan gelombang penyakit, tetapi mereka tidak mengantisipasi hal itu akan membuat rumah sakit dan ruang gawat darurat kewalahan. “Ini mengikuti tren yang lebih menular, kurang mematikan,” kata Jared Auclair, Direktur Bioinovasi di Kantor Rektor Northeastern.

“Kita pasti akan, pasti memiliki gelombang lain,” kata Mauricio Santillana, seorang profesor fisika Universitas Northeastern dan pakar pembelajaran mesin yang merupakan bagian dari tim yang memantau kasus COVID-19 di AS. “Kami melihat ledakan kasus, tidak akan seburuk gelombang sebelumnya.”

Santillana menambahkan, perlindungan dari vaksinasi dan infeksi COVID-19 sebelumnya kemungkinan menawarkan perlindungan terhadap subvarian baru yang menyebabkan penyakit parah. “Tubuh kita telah melihat setidaknya satu versi (varian virus),” ujarnya.

Infeksi COVID-19 saat ini sedang berkecamuk di Cina, yang kini ini memiliki kebijakan nol toleransi terhadap infeksi dan memiliki rekam jejak yang lebih buruk daripada negara maju lainnya dalam memvaksinasi orang lanjut usia yang lebih rentan terhadap penyakit parah akibat COVID-19.

Kasus COVID di AS Meroket

Di Amerika Serikat, persentase kasus COVID-19 yang disebabkan oleh XBB.1.5 meroket. Untuk pekan yang berakhir 14 Januari, 43% dari semua kasus AS berasal dari subvarian baru, dibandingkan dengan hanya 2,3% untuk pekan yang berakhir 3 Desember 2022.

Bagian terbesar dari kasus XBB.1.5 berada di Timur Laut, terhitung hampir semua kasus COVID-19 di New England dan New York, 81,7% dan 82,7%, menurut CDC.

Subvarian Omicron baru bertanggung jawab atas lebih sedikit kasus COVID-19 di Barat, yakni 15,8% di California, Nevada, dan Arizona, dan 8,1% di Washington, Oregon, dan Idaho — tetapi negara bagian Barat akan segera menyusul, prediksi para ilmuwan.

“Penilaian awal menunjukkan XBB.1.5 lebih menular daripada subvarian Omicron lainnya karena mengikat lebih erat ke sel, meningkatkan kemungkinan penyerapan,” ujar Auclair.

Dia mengakui, sulit untuk mengetahui berapa banyak peningkatan kasus yang disebabkan oleh perjalanan liburan dan pertemuan dan berapa banyak yang disebabkan oleh peningkatan penularan XBB.1.5. “Jauh lebih sedikit orang yang mendapatkan tes PCR yang hasilnya positif dilaporkan ke pejabat kesehatan masyarakat,” kata Auclair.

Selain itu, banyak orang dengan gejala mengandalkan tes antigen cepat di rumah, dan beberapa orang memiliki gejala ringan sehingga mereka menganggap infeksi mereka flu biasa dan tidak repot-repot melakukan tes sama sekali.

Auclair mengatakan, pada Januari 2022 labnya di Burlington sedang memproses 8.000 tes COVID-19 dari universitas dan sekolah umum serta mitra dalam periode 24 jam; sekarang lab melakukan 100 tes seminggu,.

“Januari lalu, lonjakan Omicron asli sangat intens. Saya tidak berharap untuk melihatnya dengan varian ini karena berbagai alasan,” termasuk terapi yang lebih baik,” bebernya.

Meski begitu, orang yang sudah lanjut usia dan memiliki kekebalan yang lemah tetap berisiko tinggi mengalami penyakit parah dan kematian, kata Santillana.

Dia mengatakan penting bagi orang yang memiliki gejala atau yang sakit memakai masker wajah untuk mengurangi penyebaran penyakit dan melakukan tes cepat jika mengalami gejala. “Saya ingin orang lebih bertanggung jawab,” tutur Santillana.

Sejak Februari, pemerintah federal mewajibkan orang yang bekerja atau mengunjungi gedung federal untuk memakai masker saat tingkat infeksi COVID-19 komunitas tinggi.

WHO memasukkan tingkat infeksi lokal ke dalam pedoman pemakaian masker, dengan memperbarui pedoman untuk menyarankan pemakaian masker dalam situasi tertentu – terlepas dari situasi epidemiologi lokal, mengingat penyebaran COVID-19 saat ini secara global.

Badan PBB itu menyebut pemakaian masker direkomendasikan sebagai berikut: Setelah paparan COVID-19 baru-baru ini, ketika seseorang memiliki atau mencurigai mereka memiliki COVID-19, ketika seseorang berisiko tinggi terkena COVID-19 parah, dan untuk siapa pun di tempat yang ramai, tertutup, atau ruang berventilasi buruk.

Sebelumnya, rekomendasi WHO didasarkan pada situasi epidemiologis.

“Ini saat yang tepat untuk mengingatkan orang-orang untuk melakukan semua hal yang kita lakukan setahun yang lalu, dan yang mungkin telah dikendurkan. Pastikan Anda mendapatkan suntikan penguat, mencuci tangan, dan pakai masker,” pungkas Auclair. (BS)

Advertisement