Berandasehat.id – Indonesia sempat ‘geger’ dengan adanya cemaran bahan kimia dalam sirup obat beberapa waktu lalu, yang menelan beberapa korban jiwa, khususnya pada anak-anak. Dalam penanganan kasus cemaran etilen glikol/dietilen glikol (EG/DEG) yang ditemukan dalam sirup obat sejak Oktober 2022, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah melakukan langkah-langkah antisipatif, seperti intensifikasi surveilans mutu produk, penelusuran dan pemeriksaan terhadap sarana produksi dan distribusi.

Selain itu, BPOM juga meeakukan upaya penindakan pemberian sanksi administratif, termasuk melakukan verifikasi pemastian mutu terhadap sirup obat yang beredar, demikian disampaikan Direktur Standardisasi Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor & Zat Adiktif (ONPPZA) dan Plt. Direktur Registrasi Obat BPOM Dra. Tri Asti Isnariani, Apt, M. Pharm dalam diskusi media yang digelar di Jakarta, Selasa (21/3/2023).

Diskusi media itu digelar sebagai upaya penyebaran informasi yang akurat, pasti dan tepercaya mengenai keamanan penggunaan sirup obat atau yang umumnya disebut obat sirup, kepada orang tua dan dokter spesialis anak, Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) bersama dengan Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan Pakar Farmakologi menyelenggarakan acara Dialog Interaktif Kesehatan: Sirup Obat Aman Untuk Anak yang diadakan di Royal Kuningan Hotel, Jakarta,hari ini..

“Upaya-upaya penindakan juga terus dilakukan terhadap sarana produksi dan distribusi jika terdapat unsur pidana bidang kesehatan. Daftar produk sirup obat yang aman untuk dikonsumsi selama mengikuti aturan pakai, kini bisa dilihat di website /sosmed BPOM atau melalui kanal publikasi resmi BPOM lainnya,” ujar Tri Asti.

Dia mengimbau masyarakat, pasien, fasilitas layanan kesehatan dan dokter diminta untuk tidak lagi khawatir dan ragu terkait penggunaan obat sirup.

Untuk diketahui, Gagal Ginjal Akut Pada Anak (GGAPA) adalah gangguan yang sudah ada sejak lama, namun belakangan ini semakin meresahkan ketika untuk pertama kalinya dalam sejarah di Indonesia terjadi lonjakan penderita secara massal selama periode Januari 2022 hingga Oktober 2022. 

Dialog Interaktif Kesehatan: Sirup Obat Aman Untuk Anak di Jakarta, 21 Maret 2023 (dok. Berandasehat.id)

Sejak kasus GGAPA yang disebabkan oleh tercemarnya sirup obat diumumkan pada Oktober 2022, seluruh instansi dan organisasi terkait telah melakukan investigasi dan evaluasi ulang secara menyeluruh dan menyimpulkan bahwa satu-satunya penyebab kasus GGAPA yang terjadi adalah karena adanya cemaran bahan pelarut EG dan DEG. oleh satu oknum perusahaan pemasok kimia.

Dalam kaitannya dengan GGAPA, Guru Besar farmakologi – Farmasi Klinis, Institut Teknologi Bandung, Prof. apt. I Ketut Adnyana, Msi., Ph.D, mengatakan  bahwa kasus GGAPA pada tahun lalu terjadi karena adanya intoksikasi obat yang tercemar oleh EG/DEG yang melebihi ambang batas sehingga berdampak masal. 

“Namun perlu diketahui bahwa GGAPA bisa disebabkan oleh berbagai faktor lainnya (multifactorial) seperti status kesehatan pasien (riwayat penyakit), alergi terhadap suatu bahan tertentu, infeksi (termasuk Covid-19), status nutrisi (dehidrasi), obat, makanan, logam berat, toksikan (EG/DEG dari berbagai sumber), dan lain sebagainya,” ujar Prof Ketut Adnyana.

Kesempatan sama, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) menyampaikan bahwa GGAPA sudah ada sejak lama, sehingga perlu investigasi mengenai penyebabnya apabila kasus yang terjadi hanya individual. “Fakta sudah berbicara bahwa hasil verifikasi ulang produk sirup obat oleh BPOM per November 2022 lalu sudah aman, sehingga produk sirup obat yang sudah dirilis kembali oleh BPOM, bisa diresepkan kembali oleh dokter dan bisa dikonsumsi masyarakat dengan tenang selama mengikuti aturan pakai,” terangnya.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia, apt. Noffrendi Roestram, S.Si mengemukakan pengalaman apoteker dalam menerima keluhan masyarakat yang kesulitan mendapatkan akses sirup obat yang belum boleh beredar dan panjangnya proses mendapatkan obat puyer, selama periode penarikan sementara sirup obat tahun lalu. “Tidak adanya lagi kasus GGAPA massal sejak dirilisnya produk sirup obat oleh BPOM pada Desember silam, membuktikan keamanan produk tersebut,” ujarnya.

Noffrendi menambahkan, dengan demikian pasien dan orang tua tidak perlu lagi khawatir dan dianjurkan untuk membeli sirup obat di apotek resmi, baik yang berdasarkan resep dokter ataupun untuk pembelian obat bebas.

Sementara itu, Ketua Umum GP Farmasi Tirto Kusnadi menyampaikan sejumlah kesimpulan dari hasil Dialog Interaktif Kesehatan yang digelar hari ini. Pertama, ada dua faktor penyebab GGAPA, yakni GGAPA individu yang terjadi karena faktor medis individu tersebut; selanjutnya, gagal ginjal anak massal yang ditandai dengan terjadinya sejumlah besar kasus secara bersamaan, yang disebabkan karena terjadinya pencemaran. 

“Kesimpulan kedua, dengan dinyatakannya oleh otoritas kesehatan yang berwenang bahwa sirup obat yang sudah melalui verifikasi ulang dan sudah dirilis oleh BPOM adalah sirup obat yang aman, maka dokter spesialis anak tidak perlu ragu lagi untuk meresepkan sirup obat kepada pasien dan masyarakat dengan mengikuti aturan pakai,” ujar Tito.

Terakhir, Tirto Kusnadi kembali mengingatkan agar tetap disiplin dalam menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Benar (CPOB) dan Cara Distribusi Obat yang Benar (CDOB) kapada para anggotanya. (BS)

Advertisement