Berandasehat.id – Penelitian baru mengungkap memiliki gaya hidup aktif dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2, bahkan pada orang dengan risiko genetik tinggi untuk mengembangkan kondisi medis tersebut. Para peneliti mengatakan penelitian menunjukkan tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi harus dipromosikan sebagai strategi utama untuk pencegahan diabetes tipe 2.
Diabetes adalah masalah kesehatan masyarakat global. Pada tahun 2021, ada 537 juta orang dewasa yang hidup dengan diabetes di seluruh dunia.
Studi yang dipimpin University of Sydney menemukan tingkat aktivitas fisik total yang lebih tinggi – terutama aktivitas fisik intensitas sedang hingga kuat – memiliki hubungan yang kuat dengan risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2, demikian berdasar temuan yang dipublikasikan di British Journal of Sports Medicine.
Studi melibatkan 59.325 orang dewasa dari UK Biobank, yang memakai akselerometer (pelacak aktivitas yang dikenakan di pergelangan tangan) pada awal studi dan kemudian diikuti hingga tujuh tahun untuk melacak hasil kesehatan.
UK Biobank adalah basis data biomedis berskala besar dan sumber daya penelitian yang berisi informasi genetik, gaya hidup, dan kesehatan yang dianonimkan dari setengah juta peserta di Inggris. Ini termasuk penanda genetik yang terkait dengan risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2. Orang dengan skor risiko genetik tinggi memiliki risiko 2,4 kali lipat terkena diabetes tipe 2 jika dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor risiko genetik rendah.
Studi tersebut menunjukkan lebih dari satu jam aktivitas fisik intensitas sedang hingga kuat per hari dikaitkan dengan risiko 74% lebih rendah terkena diabetes tipe 2 bila dibandingkan dengan peserta yang melakukan aktivitas fisik kurang dari lima menit. Hasil ini diperoleh bahkan ketika faktor lain, termasuk risiko genetik, diperhitungkan.
Temuan menarik lainnya adalah bahwa peserta dengan risiko genetik tinggi, tetapi berada dalam kategori paling aktif secara fisik, sebenarnya memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2 jika dibandingkan dengan mereka yang memiliki risiko genetik rendah tetapi dalam kategori paling tidak aktif.

Penulis senior Associate Professor Melody Ding dari Charles Perkins Center and the Faculty of Medicine and Health mengatakan meskipun peran genetika dan aktivitas fisik dalam timbulnya diabetes tipe 2 sudah mapan, sampai sekarang sebagian besar data dilaporkan sendiri dan hanya ada sedikit bukti apakah risiko genetik dapat dilawan dengan aktivitas fisik.
“Kita tidak dapat mengendalikan risiko genetik dan riwayat keluarga, tetapi temuan ini memberikan berita yang menjanjikan dan positif bahwa melalui gaya hidup aktif, seseorang dapat ‘melawan’ banyak risiko berlebihan untuk diabetes tipe 2,” ujar Associate Professor Ding dilaporkan MedicalXpress.
Dia menambahkan, aktivitas fisik intensitas sedang menggambarkan gerakan yang membuat kita berkeringat dan sedikit kehabisan napas, seperti jalan cepat dan berkebun.
Contoh aktivitas fisik intensitas tinggi termasuk berlari, menari aerobik, bersepeda menanjak atau dengan kecepatan tinggi, dan berkebun berat seperti menggali, termasuk dalam hal ini semua aktivitas yang membuat kita kehabisan napas atau membuat kita bernapas dengan berat. (BS)