Berandasehat.id – Didiagnosis kanker menjadi hal berat untuk ditanggung, bukan hanya bagi pasien, namun juga keluarga besar. Hal ini juga dirasakan content creator Hada Kusumonegoro, putri Indro Warkop, ketika mendampingi ibunda saat didiagnosis kanker paru dan menjalani pengobatan untuk melawan penyakit yang bisa merenggut nyawa bila diketahui di stadium lanjut dan terlambat ditangani.
Hada mengakui, menjadi pendamping keluarga yang didagnosis kanker tidak mudah. Hal itu dia alami saat menjadi caregiver ibunya, Nita Octobijanthy yang didiagnosis kanker paru pada 2017 dan berpulang pada 2018 setelah berjuang melawan kanker mematikan dalam kurun satu tahun dua bulan.
Sebagai caregiver, Hada berusaha tampil selalu ceria di hadapan ibunda semasa hidupnya. Hal yang sama dilakukan keluarga besarnya. “Keluarga aku sangat kompak untuk menjalani satu tahun dua bulan itu. Kami sepakat untuk selalu bisa support dan tidak memberatkan perasaan Mami,” ujar Hada saat berbagi pengalaman mendampingi ibunda menjalani terapi kanker di acara pameran seni Close the Care Gap yang dihelat Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan MSD Indonesia di Indonesia Design District PIK 2, Kamis (1/2/2024)
Tak ada yang mengira jika orang terdekat mengidap kanker. Hada mengatakan, ibunda awalnya mengalami gejala batuk-batuk selama enam bulan. Bahkan tak kunjung sembuh meski sudah mengonsumsi obat batuk. Selain batuk, sang ibu juga mengalami gejala cepat lelah.

Akhirnya diputuskan untuk berkunjung ke dokter dan setelah dilakukan pemeriksaan diketahui ada kanker di mediastinum, yakni rongga antara paru dengan jantung. “Jadi posisinya agak dalam, biopsinya juga sulit,” kenang Hada.
Dia menambahkan, saat ditemukan ukuran kankernya sudah mencapai 8,4 cm dan menekan bagian vena cava superior yang membuat kepala ibunda bengkak.
Mendampingi dan menjadi caregiver bagi ibunda, Hada membekali diri dengan informasi-informasi yang tepat terkait kanker paru, serta terbuka dengan terapi kesehatan yang tersedia.
Meskipun diliputi kesedihan mendalam, sebagai caregiver Hada mencoba tegar dan tidak cengeng. Dia mengenang, ketika itu sang ibu berjuang untuk sembuh. Selama satu tahun mendampingi sang ibu menjadi momen keluarga untuk berkumpul dan saling menguatkan. “Satu tahun itu adalah satu-satunya momen keluarga kami paling sering ngumpul,” tuturnya.
Berdasar pengalaman sebagai pendamping pasien kanker, Hada menyadari bahwa penting untuk diperhatikan adalah kesehatan mental diri sendiri, dan juga pasien kanker.
Hada berbagi tips kepada para pendamping pasien kanker, yakni bersikap tegar dan tidak cengeng, memberikan servis terbaik, mengambil keputusan cepat, termasuk dalam mengupayakan pengobatan.
Kesempatan sama, Koordinator Bidang Humas YKI Pratiwi Astar mengatakan, hal yang mengkhawatirkan adalah pergeseran usia penderita kanker yang sebelumnya didominasi oleh pasien di atas usia 55 tahun, menjadi di bawah 50 tahun.
Mengutip temuan terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal akses terbuka British Medical Journal (BMJ) Oncology yang dirilis pada September 2023, menunjukkan bahwa kasus kanker baru pada usia di bawah 50 tahun mencapai 1,82 juta orang di dunia – meningkat 79 persen selama tiga dekade terakhir.
Pratiwi mengingatkan, diagnosis kanker bukanlah akhir dari segalanya. “Pasien kanker masih dapat sembuh, apalagi jika ditemukan saat stadium masih dini. Oleh sebab itu, sangatlah penting melakukan deteksi dini kanker melalui skrining,” terangnya.
Selain itu, baik pasien, keluarga dan masyarakat luas juga penting untuk membekali diri dengan pengetahuan mengenai ciri, ragam tes penunjang, hingga perawatan inovatif seputar kanker – termasuk perawatan paliatif.
Tak kalah penting, sebut Pratiwi, dukungan sosial melalui komunitas seperti Yayasan Kanker Indonesia membantu pasien dan penyintas kanker agar kualitas hidup dapat tetap terjaga, bahwa mereka tidak sendirian, dan dapat tetap aktif dalam berbagai kegiatan kreatif seperti pameran karya seni pejuang dan penyintas kanker ini, sehingga memberi harapan dan meningkatkan rasa percaya diri.
Kesungguhan dalam upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terkait kanker juga disampaikan George Stylianou, Managing Director MSD Indonesia. Menurutnya, di tengah kasus kanker yang masih terus meningkat, sayangnya masih kita temukan kesenjangan terkait pemahaman kanker di Indonesia.
Menurut George Stylianou, tiga tantangan utama yang kerap ditemukan antara lain misinformasi, keterlambatan penanganan, serta keengganan untuk melakukan terapi atau pengobatan. “Inilah mengapa, MSD bersama YKI melihat pentingnya edukasi terkait kanker untuk digaungkan dengan lebih luas lagi – mulai dari mengenal jenis, cara mendeteksi kanker dan tes penunjang untuk diagnosis kanker, hingga informasi seputar pengobatan kanker yang salah satunya adalah pengobatan inovatif yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Salah satu jenis pengobatan kanker inovatif yang tersedia adalah imunoterapi. Terapi ini menggunakan sistem kekebalan tubuh sendiri untuk melawan sel-sel kanker.
Pameran Seni Close the Care Gap
Pameran seni Close the Care Gap di IDD PIK 2 pada 2-4 Februari 2024 menampilkan lukisan, tipografi, dan berbagai jenis karya lainnya dari para penyintas kanker, sebagai wadah untuk menceritakan perjalanan perjuangan melawan kanker yang mereka jalani.

Lebih dari sekadar pameran karya seni, kegiatan ini juga diisi dengan berbagai talk show edukasi dan seminar kesehatan bertajuk ‘Ngobrolin Kanker’. Beberapa topik yang diangkat meliputi pemahaman tentang kanker paru, kanker payudara, kanker serviks, edukasi mengenai perjuangan awal dalam melawan kanker, mitos terkait kanker, hingga ragam tes penunjang untuk pasien kanker.
Untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi dan edukasi seputar kanker seperti jenis-jenis kanker, test penunjang, dan pengobatan kanker yang tersedia, MSD Indonesia menghadirkan @NgobrolinKanker.
“Harapan kami, melalui informasi yang tepat dari sumber tepercaya maka masyarakat akan lebih berwawasan dan lebih mampu berinisiatif untuk mengantisipasi hambatan dalam pengobatan kanker seperti keterlambatan dan keengganan untuk berobat,” tandas George. (BS)