Berandasehat.id – Siklus menstruasi adalah proses yang sudah ada sejak zaman manusia purba, namun masih banyak hal yang belum kita ketahui tentang siklus menstruasi wanita dan dampaknya terhadap seluruh tubuh.

Kini, tim peneliti dari Departemen Kedokteran Klinis di Universitas Aarhus, untuk pertama kalinya, telah menunjukkan bahwa siklus tersebut memengaruhi berbagai macam protein dalam tubuh wanita, menurut Profesor Madya Jonas Ghouse, salah satu peneliti di balik studi ini.

Studi ini menunjukkan bahwa blok pembangun tubuh, protein, berubah jauh lebih besar selama siklus menstruasi daripada yang sebelumnya diketahui, menurut tim peneliti dalam publikasi di jurnal Nature Medicine.

Ini adalah pertama kalinya variasi protein dalam darah dipetakan dalam skala besar di seluruh siklus menstruasi.

Secara total, para peneliti mengidentifikasi hampir 200 protein yang berubah secara sistematis sepanjang siklus tersebut.

“Ini memberikan gambaran yang sepenuhnya baru dan komprehensif tentang perubahan biologis yang terjadi di dalam tubuh selama satu siklus penuh,” kata Dr. Iben Riishede dari Departemen Ginekologi dan Obstetri di Rumah Sakit Universitas Aarhus, salah satu penulis studi.

Studi sebelumnya biasanya berskala kecil atau berfokus pada hormon individual. Studi teranyar itu menunjukkan bahwa siklus tersebut memengaruhi banyak sistem biologis, termasuk sistem kekebalan tubuh, dan bahwa perubahan ini juga terkait dengan penyakit tertentu.

Kaitan dengan endometriosis

Di antara hampir 200 protein yang diidentifikasi oleh para peneliti, beberapa dapat dikaitkan dengan kondisi seperti endometriosis, fibroid rahim, dan gangguan pendarahan.

“Hal itu mungkin memiliki implikasi tentang bagaimana kita memahami dan mengukur penyakit ini pada wanita di masa depan,” kata Ghouse.

Tim peneliti mengamati beberapa protein dikaitkan dengan kondisi ini, yang diderita oleh banyak wanita. Ini menunjukkan bahwa perubahan biologis sepanjang siklus mungkin berperan dalam mengapa beberapa wanita mengembangkan penyakit seperti endometriosis, yang dapat sangat melemahkan.

Studi ini secara signifikan memperluas pemahaman kita tentang siklus menstruasi dan bagaimana pengaruhnya terhadap tubuh. Oleh karena itu, Ghouse dan Riishede berharap untuk melanjutkan penelitian mereka guna mengeksplorasi efek siklus tersebut secara lebih mendalam.

“Penting bagi kita untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana tubuh wanita bekerja seiring dengan siklus menstruasi,ini relevan baik bagi peneliti maupun dokter yang bekerja dengan kesehatan wanita, kesuburan, dan kondisi seperti endometriosis,” ujar Ghouse.

Misalnya, penting untuk menyelidiki lebih lanjut apakah protein ini dapat digunakan sebagai biomarker untuk penyakit tertentu. (BS)