Berandasehat.di – Penyakit jantung bukan hanya dialami orang dewasa. Faktanya, anak-anak, bahkan bayi, juga bisa mengalami sakit jantung, yang dikenal dengan istilah penyakit jantung bawaan (PJB).
Menurut Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan RS Pondok Indah, dr. Yovi Kurniawati, Sp. J.P, Subsp. K.Ped.P.J.B.(K), penyebab PJB belum diketahui secara pasti, bersifat multifaktoral, dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan.
“Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko antara lain kelainan kromosom, infeksi saat kehamilan, hingga penyakit tertentu pada ibu hamil. Salah satu yang paling sering dikaitkan adalah sindrom Down atau trisomi 21, meskipun tidak semua pasien penyakit jantung bawaan memiliki sindrom tertentu,” ujarnya di acara temu media yang dihelat RS Pondok Indah di Jakarta, baru-baru ini.
Lebih lanjut dr. Yovi menyampaikan, gejala penyakit jantung bawaan sangat beragam, ada yang muncul sejak lahir namun ada juga yang baru diketahui saat anak tumbuh besar atau bahkan dewasa. “Tanda yang perlu dicurigai antara lain berat badan sulit naik, mudah lelah saat menyusu, sering berkeringat, napas cepat, dan gangguan tumbuh kembang,” ujarnya.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah anak mengalami infeksi paru berulang seperti pneumonia. Saat anak menyusu juga bisa menjadi tanda ia mengalami masalah jantung. Pasalnya, aktivitas alami seperti menyusu pada bayi dengan kelainan jantung bisa menjadi hal berat. “Mereka sering berhenti karena sesak atau kelelahan,” terang dr. Yovi.

Untuk kasus PJB sianotik (PJB biru), tanda yang mungkin muncul dan mudah dikenali adalah tubuh anak terlihat kebiruan terutama di area bibir, lidah, kuku, dan ujung jari.
Gejala lain yang tampak adalah anak memiliki clubbing finger (jari tabuh), kondisi medis di mana ujung jari tangan atau kaki membengkak, membesar, dan kuku melengkung ke bawah seperti kaca arloji, akibat kekurangan oksigen kronis.
Apabila anak sering jongkok setelah bermain juga perlu diwaspadai ia mengidap PJB.
Apabila muncul tanda keburuan mendadak bertambah berat disertai gelisah atau penurunan kesadaran, harus selekasnya dibawa ke rumah sakit. “Kondisi ini termasuk gawat darurat, hypoxic spell, dan harus segera mendapat pertolongan medis,” ujar dr. Yovi.
Spell hypoxia atau cyanotic spell merupakan kondisi gawat darurat berupa serangan penurunan oksigen secara drastis pada anak dengan PJB biru (seperti Tetralogy of Fallot), ditandai dengan kulit, bibir, dan kuku yang membiru secara tiba-tiba akibat aliran darah ke paru yang berkurang drastis
Tak PJB terdiagnosis pada masa kanak-kanak. Menurut dr. Yovi, cukup banyak pasien baru mengetahuinya saat dewasa, misalnya Atrial Septal Defect (ASD), yaitu lubang pada sekat antara serambi kanan dan kiri jantung, Ventricular Septal Defect (VSD), kelainan jantung bawaan berupa lubang pada sekat antara bilik kiri dan kanan jantung, dan Patent Ductus Arteriosus (PDA), terjadi karena pembuluh darah ductus arteriosus tetap terbuka setelah lahir, yang seharusnya menutup dalam 12–24 jam.
Bila tidak ditangani, kelainan ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti gagal jantung, hipertensi paru, hingga endokarditis. Karena itu, pasien juga perlu memperhatikan kesehatan gigi dan mulut, karena infeksi dari gigi berlubang dapat memicu infeksi pada jantung.
Menggunakan metode zero fluoroscopy, dokter dapat melakukan prosedur penutupan ASD, VSD, maupun PDA tanpa paparan sinar-X sama sekali. Sebagai gantinya, dokter menggunakan panduan ekokardiografi secara real-time, termasuk Transesophageal Echocardiography (TEE) yang dimasukkan melalui kerongkongan untuk gambaran yang lebih presisi.
“Zero fluoroscopy dilakukan tanpa menggunakan radiasi. Semua dipandu dengan echocardiography sehingga lebih aman, terutama bagi anak-anak,” terang dr. Yovi.
Teknik tersebut dapat melindungi dokter dan tenaga medis yang rutin menjalankan prosedur intervensi jantung. Prosedur ini telah dilakukan rutin di RS Pondok Indah sebagai bagian dari pengembangan layanan kardiologi intervensi modern. (BS)