Berandasehat.id – Banyak orang memulai hari dengan secangkir kopi panas untuk menghilangkan rasa kantuk di pagi hari dan mengaktifkan otak. Secangkir espresso atau latte menjadi sumber kafein terkenal dapat meningkatkan kewaspadaan.
Namun, penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Neurophysiology mengungkapkan bahwa kopi mungkin melakukan lebih dari sekadar ‘membangunkan’ kita. Kopi dapat mengubah cara otak menghubungkan apa yang kita rasakan dengan cara kita bergerak.
Para peneliti yang dipimpin oleh tim dari Rumah Sakit Universitas Aarhus di Denmark ingin melihat bagaimana dosis kafein yang umum memengaruhi proses otak yang disebut inhibisi aferen latensi pendek (SAI). Sederhananya, ini adalah ketika sensasi di tubuh, seperti sentuhan di pergelangan tangan, mengurangi respons otak di korteks motorik, membantu mengontrol seberapa kuat otot diaktifkan.
Itu seperti sistem penyaringan yang menjaga gerakan tetap halus dan terkontrol, yang mencegah otak bereaksi berlebihan terhadap setiap sentuhan.
Dalam studi teranyar, para ilmuwan merekrut 20 orang dewasa sehat. Masing-masing peserta menerima 200 mg kafein (setara dengan konsumsi harian tipikal) yang diberikan dalam permen karet untuk penyerapan yang lebih cepat atau permen karet plasebo (sebagai kontrol).

Studi ini bersifat buta berganda, sehingga baik peserta maupun peneliti tidak mengetahui permen karet mana yang diberikan selama pengujian.
Selanjutnya, tim peneliti menstimulasi korteks motorik dengan denyut magnetik dan mengukur SAI menggunakan dua teknik berbeda. Metode tradisional (amplitudo konvensional, A-SAI) menggunakan denyut magnetik tetap dan mengukur ukuran kedutan yang dihasilkan. Teknik kedua (pelacakan ambang batas, T-SAI) secara otomatis menyesuaikan kekuatan denyut untuk mempertahankan respons otot yang konstan.
Dengan teknik pertama, para peneliti menemukan bahwa kafein meningkatkan kemampuan otak untuk mengurangi respons otot setelah sentuhan. Efek ini paling menonjol antara 19 dan 21 milidetik setelah stimulasi.
Dengan teknik kedua, tidak ada peningkatan kafein yang signifikan yang terdeteksi.
Kafein meningkatkan SAI seperti yang dievaluasi dengan protokol A-SAI konvensional, tetapi tidak dengan metode pelacakan ambang batas, menurut peneliti.
Tim peneliti percaya bahwa kafein kemungkinan bekerja dengan memblokir reseptor adenosin, yang dapat menyebabkan peningkatan asetilkolin, pembawa pesan kimia yang membantu mengontrol integrasi sensorimotor.
Efek kafein mungkin dihasilkan dari modulasinya terhadap sistem kolinergik, memberikan wawasan tentang aksi fisiologisnya dan patofisiologi gangguan otak.
Tim peneliti menyimpulkan bahwa salah satu minuman favorit dunia ini tidak hanya memberi kita dorongan energi di pagi hari, tapi juga secara halus mengubah bagaimana sinyal sensorik memengaruhi area motorik otak, dikutip Science x Network. (BS)