Berandasehat.id – Jangan abaikan hipertensi, pasalnya tekanan darah tinggi tak terkontrol berpotensi memicu atrial fibrilasi (afib), kondisi gangguan irama jantung yang ditandai oleh kontraksi atrium yang tidak teratur dan cepat. 

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis aritmia dari Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), dr. Dony Yugo Hermanto Sp.JP Subsp Ar (K) FIHA, menyampaikan hipertensi tak terkontrol, akibat penderita tak mengetahui jika mengidap kondisi ini, bisa memicu afib.

“Kebanyakan hipertensi tak ada gejala. Pas cek ternyata tekanan darah tinggi. Sudah berapa lama? Nggak tahu karena sebelumnya tidak percah dicek,” ujar dr. Dony dalam temu media yang dihelat RS Pondok Indah di Jakarta, baru-baru ini.

Afib perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan gagal jantung dan stroke.

Untuk meminimalkan peluang afib, dia menyarankan agar setiap orang dengan hipertensi mengendalikan tekanan darah. “Kalau tekanan darah terkontrol umumnya tidak memicu afib,” imbuh dr. Dony.

Masalah kesehatan lain yang tak boleh diabaikan adalah gangguan tidur, khususnya obstruktif sleep apnea (OSA). “Kondisi ini ditandai dengan tidur ngorok. Tidur malam sepertinya cukup tapi siangnya ngantuk terus. Itu karena tidurnya tidak berkualitas. Itulah yabg berpotensi memicu afib,” bebernya.

Kesempatan sama, Dokter Spesialis Neurologi dari RSPI, dr. Andre Sp.N, menyampaikan orang dengan kondisi OSA umumnya sulit mencapai kedalaman tidur karena bolak balik terbangun akibat pasokan oksigen ke otak tidak cukup.

“Tidur bolak balik terbangun itu alarm, ngasih tahu kalau otak nggak dapat pasokan oksigen. Untuk itu, perlu cari solusi pemicu OSA dan ditangani,” beber dr. Andre.

Waspadai gejala afib

Gejala afib yang kemungkinan muncul dan dirasakan adalah berdebar, sensasi tidak nyaman layaknya lari terus menerus, dan mudah lelah. Hal ini terjadi karena adanya ‘korslet’ di bagian serambi jantung, yang sebabkan listrik jantung terganggu dan menyebabkan pompa jantung terganggu juga, menurut dr. Dony.

dr. Dony Yugo Hermanto Sp.JP Subsp Ar (K) FIHA

Sayangnya, deteksi dini afib di Indonesia masih sering diabaikan. Hal ini karena sifat gejalanya yang hilang timbul, sehingga tidak menjadi perhatian.

Dokter Andre mengungkap, afib menjadi salah satu penyebab utama kasus stroke dengan penyumbatan pembuluh darah atau stroke iskemik.

Perlu diketahui, afib memicu gumpalan darah karena jantung berdetak tidak teratur, membuat darah tidak terpompa sempurna. Aliran darah yang melambat atau menggenang di ruang atas jantung (atrium) sangat rentan membentuk gumpalan.

“Jika gumpalan darah ini masuk ke dalam bilik jantung dan dipompa ke seluruh tubuh terutama ke pembuluh darah otak, maka dapat menyebabkan stroke akut,” sebut dr. Andre.

Dia mengingatkan, stroke yang diakibatkan atrial fibrilasi biasanya lebih berat dan menyebabkan gejala sisa atau kecacatan yang lebih berat bahkan kematian jika dibandingkan dengan penyebab stroke lain.

Stroke merupakan kondisi medis darurat ketika pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang. Akibatnya, sel-sel otak mati dalam hitungan menit akibat kurangnya oksigen dan nutrisi.

dr. Andre Sp.N

“Stroke dapat terjadi tiba-tiba dan menyebabkan kecacatan, bahkan kematian, jika terjadi stroke berat,” ujarnya.

Waktu emas penanganan stroke

Lebih lanjut dr. Andre menekankan, stroke sumbatan harus ditangani  sesegera mungkin, waktu emas di bawah 4,5 jam untuk dimasukkan obat trombolisis. “Kecepatan respons dapat menentukan sejauh mana pasien dapat diselamatkan,” cetusnya.

Stroke dapat dicegah dengan melakukan kendali faktor risiko melalui pola hidup sehat, seperti mengontrol tekanan darah, olahraga ringan lima kali seminggu minimal 30 menit, makan makanan sehat, kontrol kolesterol dan pertahankan berat badan. (BS)