Berandasehat.id – Selama dua dekade, semangat generasi muda di bidang riset terus dirawat bersama melalui Indofood Riset Nugraha (IRN).
Program yang diprakarsai PT Indofood Sukses Makmur Tbk itu bukan sekadar memberi bantuan dana penelitian, melainkan juga ruang belajar, tempat bertemunya ide, keberanian bereksperimen, hingga awal perjalanan menjadi peneliti dan inovator yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Dalam rentang 20 tahun, IRN telah menerima lebih dari 8.300 proposal penelitian dan mendukung lebih dari 1.100 riset mahasiswa dari lebih 200 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Riset-riset tersebut dinilai sangat bermanfaat bagi pengembangan dan penguatan ekosistem pangan di Indonesia.
Ketua Tim Pakar IRN, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., mengatakan riset pangan tidak akan memberi dampak besar jika hanya berhenti di laboratorium. “Pangan itu hanya berdampak kalau dikonsumsi masyarakat. Karena itu riset harus diterjemahkan menjadi produk nyata,” tutur sosok akademisi yang aktif menjembatani dunia akademik dan industri pangan di acara perayaan 20 Tahun Perjalanan Indofood Riset Nugraha sekaligus temu alumni IRN di Jakarta, Selasa (19/5).
Oleh karena itu, sebutnya, IRN mendorong generasi muda menggali potensi pangan lokal yang selama ini belum dieksplorasi optimal. “Kita perlu membangkitkan rasa ingin tahu terhadap potensi lokal yang ada di sekitar kita,” bebernya.

Sejak 2006 hingga kini, IRN konsisten mendorong pengembangan pangan fungsional berbasis potensi dan kearifan lokal Indonesia. Mulai rempah, hasil laut, pangan tradisional, hingga komoditas khas daerah, berbagai penelitian mahasiswa lahir untuk menjawab tantangan pangan masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Purwiyatno menekankan, pangan harus aman dan bergizi, juga enak dari sisi rasa serta bisa dikonsumsi dinikmati dalam jumlah banyak agar bisa berdampak. “Peran riset menjadi sangat penting, dapat diterjemahkan oleh industri sebagai produk riil,” ujarnya.
Dalam perjalanannya, IRN mendorong mahasiswa untuk melakukan penelitian tentang pangan lokal. “Bukan hanya di laboratorium, tapi juga cara memasarkan pangan dilihat dari aspek sosial, bahkan sosiologi yang terbuka untuk diteliti,” tutur Ketua Tim Pakar IRN.
Dia menyoroti urgensi untuk eksplorasi potensi pangan lokal. Hal menarik yang patut diulik adalah eksplorasi sumber pangan baru, salah satunya menggunakan serangga yang bisa dimakan. “Ini bahan pangan lokal yang dikenal sebagai sumber gizi untuk kesehatan. Masyarakat di wilayah tertentu sudah terbiasa mengonsumsinya,” ujar Purwiyatno.
Berikutnya adalah perlu mengeksplorasi teknik produk pangan, misalnya menggunakan 3D printing sebagai teknologi mutakhir seperti mencetak kultur sel menggunakan teknologi fermentasi presisi. “Diharapkan dengan melakukan riset muncul ide dari mahasiswa yang out of the box, bukan hanya inovasi namun disrupsi,” bebernya.
Untuk mewujudkan visi Indonesia Emas, sebut Purwiyatno, diperlukan generasi peneliti yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi berani untuk bereksplorasi dan berinovasi, terutama dalam mengoptimalkan potensi serta kearifan lokal guna melahirkan solusi masa depan.
IRN dianggap menjadi jawaban karena program ini hadir bukan hanya mendukung riset akademik, tetapi juga turut membangun pola pikir yang kritis, kreatif, berani dan inovatif. “Program ini mendorong mahasiswa untuk berjejaring dan selalu mengembangkan kapasitasnya, agar mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat,” tandas Purwiyatno.
Bukan sekadar riset, buka cara pandang
Alumni IRN angkatan 2004, Prof. DR. Fenny Martha Dwivany, S.Si., M.Si., menjadi contoh nyata bagaimana pengalaman mengikuti program IRN membentuk perjalanan karier akademiknya. “Ikut IRN itu pengalaman luar biasa. Saat itu saya mengikuti IRN, yang saat itu namanya masih Program Bogasari Nugraha tahun 2004,” kenangnya.
Untuk diketahui, IRN hadir pertama kali pada 2006 sebagai kelanjutan dari Program Bogasari Nugraha yang sudah digagas Salim Group sejak 1998.
Peneliti biomolekuler dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan lugas mengakui IRN banyak berperan dalam perjalanan akademiknya, menjadikan dia seperti sekarang.
Ketika itu, Fenny baru kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi doktoral di bidang Biologi Molekuler di University of Melbourne. Tahun 2004, peneliti yang kini identik dengan riset tentang pisang ini mengajukan proposal berjudul Studi Molekular Pascapanen Pisang Asli Indonesia ke program IRN (dulu Program Bogasari Nugraha).
Riset tentang pisang itu membawa banyak pengalaman dan kolaborasi lintas disiplin, di antaranya melahirkan Banana Smart Village di Bali pada 2018. ‘Kampung Pisang’ itu menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis sains yang mengintegrasikan riset, pertanian, teknologi, dan pemasaran digital.
Menurut Fenny, di situ riset pisang diaplikasikan secara komprehensif, dari hulu ke hilir, mulai bibit, pengendalian penyakit, teknologi pascapanen, hingga pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah.
Fenny mengakui, pengalaman bersama IRN turut membekalinya untuk bertumbuh menjadi peneliti yang kritis, sistematis, dan selalu mengedepankan semangat kolaborasi untuk inovasi yang berdampak.
Kecintaan pada pisang mengantarkan Fenny menjadi Guru Besar Biologi Molekuler di ITB pada 2022. “Kalau dulu nggak ada IRN, mungkin saya nggak akan seperti Fenny yang sekarang,” tuturnya penuh haru.
Dia mendorong semua mahasiswa untuk mengajukan proposal IRN. “Saya encourage semua mahasiswa apply (IRN). Ikut program ini bisa bertemu banyak orang, menjalin jejaring di dalam dan luar negeri, melibatkan kolaborasi lintas disiplin,” pungkasnya.

Tak hanya Fenny, kisah serupa juga datang dari Mariska Priscilla, alumni IRN angkatan 2017 yang kini bergabung dalam tim R&D Indofood. Baginya, pendampingan bersama para pakar selama mengikuti IRN membuka cara pandang baru tentang riset. “Riset tidak hanya dipandang sebagai teori, tetapi juga solusi yang relevan bagi kebutuhan industri dan masyarakat,” ujarnya.
Jejaring alumni IRN kini telah tersebar di berbagai bidang dan wilayah, mulai dari akademisi, profesional, entrepreneur, hingga peneliti internasional. Salah satunya adalah Ratu Salsabila Astrakusuma, alumni IRN 2023 yang kini melanjutkan kiprahnya sebagai scientific research enthusiast di Lille, Prancis.
Ratu mengungkap IRN memberikan fondasi keberanian bagi dirinya untuk mengembangkan berbagai potensi pangan menjadi peluang inovasi yang berdaya saing.
Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana, mengatakan bahwa kolaborasi antara dunia usaha dan akademik menjadi elemen penting dalam membangun ekosistem riset yang berkelanjutan.”Kolaborasi dengan dunia akademik sebagai elemen penting dalam membangun ekosistem riset yang kredibel dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ke depan, Indofood berharap IRN dapat terus menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda Indonesia untuk menghadirkan inovasi pangan yang tidak hanya lahir di laboratorium, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat luas serta membuka peluang ekonomi baru berbasis kekayaan pangan lokal Indonesia. (BS)