Berandasehat.id – Katarak masih menjadi salah satu tantangan terbesar terkait kesehatan mata, bukan hanya global tapi juga di Indonesia.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut katarak memengaruhi lebih dari 100 juta orang di dunia pada 2020, dengan sekitar 17 juta di antaranya mengalami kebutaan.
Di Indonesia, katarak juga menjadi masalah kesehatan cukup serius. Hasil survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) 2014–2016 yang dilakukan oleh PERDAMI dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan di 15 provinsi mengungkap angka kebutaan pada populasi usia 50 tahun ke atas mencapai 3 persen, dengan katarak sebagai penyebab tertinggi, yaitu sekitar 81,2 persen.
Ini memiliki makna bahwa katarak bukan hanya isu klinis, tetapi juga isu kualitas hidup, produktivitas, dan kemandirian masyarakat, khususnya di kalangan kelompok berisiko tinggi, yakni orang dewasa dan lanjut usia.
Menurut dr. Nina Asrini Noor, SpM, Kepala Divisi Riset dan Pendidikan JEC Group, setiap orang perlu melakukan medical check up saat usia menginjak 40 tahun untuk mendeteksi katarak.

“Perlu medical check up mata usia 40 tahun, bukan hanya katarak tapi juga kondisi lain. Apakah ada penyakit penyerta lain seperti diabetes atau glaukoma,” tutur dr. Nina dalam temu media yang dihelat JEC Group di Jakarta, Rabu (20/5).
Pengecekan mata menjadi langkah penting mengingat tidak semua orang bisa mengenali tanda penglihatan, apalagi katarak yang perkembangannya sangat lambat.
Selain itu, keluarga dekat perlu mengenali perubahan perilaku anggota keluarga yang memasuki usia lansia. “Misalnya kalau jalan sering tersandung, atau nggak mau nyetir jauh dengan alasan nggak nyaman. Kalau ada hal seperti ini ajak untuk periksa mata. Jangan tunggu sampai (penglihatan) buram, karena bisa jadi sudah berat,” beber dr. Nina.
Secara visual, katarak dikenali dengan lensa mata yang awalnya jernih berubah menjadi keruh. “Pinggiran hitam di tengah putih pada lensa mata itu ciri katarak. Disinari dengan lampu senter kelihatan, ” ungkapnya.
Lensa mata yang keruh itu menyebabkan pandangan buram seperti melihat lewat kaca berembun.
Transformasi bedah katarak
Katarak bisa diatasi dengan operasi, terutama melalui teknologi Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS).
Menurut dr. Nina, melalui pendekatan ini, operasi katarak tidak lagi hanya dipahami sebagai tindakan untuk mengganti lensa mata yang keruh, tetapi sebagai bagian dari perencanaan penglihatan yang lebih menyeluruh, mulai dari pemeriksaan kondisi mata, pemilihan teknologi bedah, hingga penentuan lensa tanam atau intraocular lens (IOL) yang paling sesuai dengan kebutuhan pasien.
“Dulu, operasi katarak sering dipahami sebatas mengangkat lensa yang keruh. Kini, dengan teknologi modern seperti FLACS dan pilihan lensa tanam yang semakin beragam, pasien tidak hanya dibantu untuk melihat kembali, tetapi juga untuk mendapatkan kualitas penglihatan yang lebih sesuai dengan aktivitas dan gaya hidupnya,” ujarnya.
FLACS merupakan salah satu bentuk transformasi dalam bedah katarak.
Secara umum, teknologi ini menggunakan laser femtosecond yang dipandu komputer dan sistem pencitraan optik untuk membantu beberapa tahapan penting dalam operasi katarak, termasuk pembuatan sayatan kornea, pembukaan kapsul lensa, dan pemecahan lensa yang keruh sebelum kemudian diganti dengan lensa tanam.
Presisi inilah yang menjadi salah satu nilai penting FLACS, terutama ketika operasi katarak tidak hanya bertujuan menghilangkan kekeruhan lensa, tetapi juga mengoptimalkan penglihatan setelah tindakan.
“Dengan perencanaan yang lebih terukur, dokter dapat menyesuaikan tindakan dengan kondisi mata pasien, termasuk anatomi mata, tingkat katarak, kebutuhan penglihatan, serta pilihan lensa tanam yang akan digunakan,” ujarnya.
Namun, teknologi hanyalah satu bagian dari keseluruhan pengalaman pasien. Hal yang tidak kalah penting menurut dr. Nina adalah pemilihan lensa tanam (intraocular lens/IOL) yang tepat.
Pasalnya, lensa inilah yang akan menggantikan lensa alami mata yang keruh, sehingga sangat berperan dalam menentukan kualitas penglihatan pasien setelah operasi.
Mengapa lensa tanam penting? “Dalam operasi katarak, lensa alami mata yang keruh akan diangkat dan digantikan dengan lensa buatan berukuran kecil, yakni lensa tanam, lensa artifisial yang ditanamkan di dalam mata untuk menggantikan lensa alami yang telah diangkat saat operasi katarak,” terang dr. Nina.
Ragam pilihan lensa tanam
Seiring perkembangan teknologi, pilihan IOL kini semakin beragam, sehingga pasien memiliki opsi yang lebih personal sesuai kebutuhan aktivitas sehari-hari.
“Pemilihan lensa tanam yang tepat menjadi semakin penting karena kebutuhan penglihatan setiap orang berbeda,” sebut dr. Nina.
Orang yang banyak membaca, bekerja di depan laptop, dan aktif menggunakan gawai tentu memiliki kebutuhan visual yang berbeda dengan mereka yang lebih sering berkendara, bekerja di luar ruangan, atau menjalani aktivitas sosial yang tinggi.
Ada beragam pilihan lensa tanam, mencakup lensa monofokal, multifokal, extended depth of focus (EDOF) dan lensa tanam toric.
Lensa monofokal adalah lensa yang dirancang untuk membantu penglihatan pada satu jarak fokus tertentu, umumnya jarak jauh.
Lensa monofokal memiliki satu titik fokus, sehingga pasien biasanya tetap membutuhkan kacamata untuk aktivitas jarak dekat seperti membaca, tergantung target koreksi yang dipilih.
Lensa multifokal dirancang untuk membantu penglihatan pada beberapa jarak fokus, seperti jauh, menengah, dan dekat karena lensa ini memiliki tiga zona koreksi.
Pilihan ini cocok bagi pasien aktif yang ingin mengurangi ketergantungan pada kacamata untuk berbagai aktivitas, mulai dari membaca, bekerja di depan komputer, hingga berkendara.
Lensa EDOF dirancang untuk memperluas rentang fokus penglihatan, terutama dari jarak jauh hingga menengah.
Multifokal dan EDOF dikelompokkan sebagai lensa yang dapat membantu berbagai kombinasi penglihatan dekat, menengah, dan jauh.

Dalam praktiknya, lensa EDOF dapat menjadi pilihan bagi pasien yang menginginkan transisi penglihatan yang lebih natural, terutama untuk aktivitas modern seperti bekerja dengan layar, melihat dashboard kendaraan, atau berinteraksi dalam mobilitas harian.
Bagi pasien dengan astigmatisme atau mata silinder, lensa toric dapat membantu mengoreksi silinder bersamaan dengan tindakan operasi katarak
“Karena itu, konsultasi menyeluruh dengan dokter mata menjadi langkah penting sebelum operasi,” imbuhnya.
Melalui konsultasi ini, pasien dapat mengetahui kondisi matanya dan mengenali pilihan teknologi serta ragam lensa yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Tujuannya, setelah tindakan operasi katarak, pasien dapat terbebas dari kacamata.
“Di JEC Eye Hospitals and Clinics, ragam lensa tanam yang tersedia mencerminkan pendekatan yang personal dan komprehensif terhadap kebutuhan setiap pasien,” tandas dr. Nina. (BS)