Berandasehat.id – Kekuatan genggaman tangan sering digunakan sebagai indikator kekuatan otot secara keseluruhan, kapasitas fungsional, dan penuaan.

Para ilmuwan telah menemukan bahwa kekuatan genggaman tangan, kekuatan maksimum yang dapat diberikan seseorang dengan tangannya, dapat menjadi indikator risiko seseorang terkena depresi, menurut studi yang diterbitkan dalam Journal of Psychiatric Research.

Setelah mengumpulkan data dari 12 kelompok orang yang berbeda, yang mencakup hampir 500.000 peserta dari seluruh dunia, mereka menemukan bahwa orang dengan kekuatan genggaman tangan yang lebih rendah memiliki peluang 42% lebih tinggi untuk mengembangkan gejala depresi atau depresi dibandingkan dengan orang yang memiliki kekuatan genggaman yang lebih kuat.

Hubungan kekuatan genggaman tangan dengan depresi terbukti sangat konsisten, tidak dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, atau kebiasaan merokok.

Namun, temuan tersebut tidak menyiratkan bahwa genggaman yang lebih lemah menjamin seseorang akan mengalami depresi; hal itu hanya menunjukkan bahwa kekuatan genggaman yang lebih rendah dapat berfungsi sebagai tanda peringatan yang berguna bahwa seseorang mungkin lebih rentan terhadap tantangan kesehatan mental di masa depan.

Memprediksi hubungan kesehatan mental dan kekuatan otot

Gangguan depresi adalah masalah mental umum di mana orang dapat mengalami suasana hati yang tertekan, kehilangan minat pada aktivitas, atau merasa gembira dalam jangka waktu yang lama.

Ini adalah masalah pelik yang dapat memengaruhi siapa pun, terlepas dari usia, jenis kelamin, geografi, atau kondisi sosial. Ini jauh lebih umum daripada yang mungkin diasumsikan.

Secara global, diperkirakan 332 juta orang hidup dengan depresi, dan bebannya sangat tinggi di antara orang dewasa paruh baya (5%) dan orang dewasa yang lebih tua (5,7%).

Metode standar untuk mendiagnosis depresi atau memprediksi risikonya tidak selalu mudah diakses oleh orang-orang karena kurangnya ketersediaan ahli atau biaya yang terlibat.

Untuk itu para ilmuwan selalu mencari cara yang lebih hemat biaya untuk memprediksi risiko depresi menggunakan metode yang lebih sederhana.

Para peneliti dalam studi ini memutuskan untuk mengeksplorasi apakah pengukuran kekuatan genggaman tangan dapat membantu memprediksi gangguan depresi.

Alasan mereka memilih kekuatan genggaman tangan karena penelitian sebelumnya menemukan bahwa seberapa kuat seseorang dapat menggenggam tangannya bukan hanya indikator yang kuat dari kekuatan otot dan kapasitas fisik secara keseluruhan, tetapi juga kondisi seperti tekanan darah dan diabetes tipe 2.

Penelitian juga menemukan bahwa kekuatan genggaman tangan yang lebih tinggi dikaitkan dengan volume yang lebih besar di wilayah hipokampus kiri dan kanan yang terlibat dalam memori dan pengaturan emosi.

Keuntungan utama lain dari kekuatan genggaman tangan adalah dapat diukur dengan cepat, mudah, dan murah menggunakan perangkat genggam kecil yang disebut dinamometer.

Tim memulai pencarian studi untuk tinjauan sistematis dan meta-analisis dengan menelusuri lima basis data medis dan ilmiah utama untuk semua studi relevan yang diterbitkan hingga 4 Februari 2025.

Hanya studi kohort yang berlangsung setidaknya satu tahun yang menggunakan dinamometer genggaman tangan untuk mengukur kekuatan fisik yang disertakan. Peserta yang sudah mengalami depresi pada awal penelitian dikecualikan untuk memastikan mereka mengukur awal depresi.

Kekuatan genggaman tangan yang lebih rendah tampak sebagai tanda peringatan yang tenang, dan orang dengan genggaman yang lebih lemah lebih mungkin mengalami depresi, dengan risiko relatif sekitar 26% lebih tinggi.

Meskipun hubungan ini signifikan secara statistik, dampak klinisnya tetap relatif kecil. Para peneliti mengamati bahwa studi yang mengikuti peserta dalam jangka waktu yang lebih lama menunjukkan hubungan yang sedikit lebih kuat, meskipun efeknya tetap kecil.

Tim tersebut menyoroti bahwa kekuatan genggaman tangan adalah penanda luas dari kesehatan dan ketahanan secara keseluruhan yang terkait dengan depresi, bukan penyebab langsung atau prediktor yang kuat secara mandiri.

Bayang-bayang depresi sering kali membayangi hubungan pribadi dan profesional. Dampaknya bukan hanya emosional, melainkan juga dapat berkontribusi pada penurunan kesehatan fisik dan, dalam kasus yang parah, umur yang lebih pendek. Inilah mengapa deteksi dini sangat penting.

Setelah keandalannya ditetapkan melalui uji coba terkontrol secara acak, alat sederhana seperti tes kekuatan genggaman tangan dapat membantu mengidentifikasi orang-orang yang berisiko lebih tinggi sebelum depresi terjadi, membuka peluang untuk intervensi dan perawatan kesehatan tepat waktu, menurut laporan Science x Network. (BS)