Berandasehat.id – Minum kopi di malam hari telah memicu kontroversi selama bertahun-tahun. Beberapa orang tertidur tanpa kesulitan, sementara yang lain gelisah dan sulit memejamkan mata sepanjang malam.
Namun, riset yang dijalankan untuk menjawab pertanyaan ‘apakah kopi membuat orang lebih sulit untuk tertidur’ mungkin terlalu sederhana. Yang tampaknya jauh lebih penting adalah apa yang terjadi di otak selama tidur.
Para ilmuwan yang mempelajari efek kafein pada tidur, kini beralih ke EEG, atau elektroensefalografi, metode yang digunakan untuk merekam aktivitas listrik otak. Berkat EEG, dimungkinkan untuk mengamati tidak hanya durasi tidur atau momen bangun, tetapi juga kualitas biologis tidur itu sendiri.
“EEG memungkinkan para ilmuwan untuk melihat tidak hanya apakah seseorang sedang tidur, tetapi juga bagaimana otak tidur. Penilaian tidur klasik mengukur durasi tidur dan tahapannya, sedangkan analisis EEG kuantitatif mengungkapkan perubahan yang lebih halus, seperti penurunan aktivitas gelombang lambat, yang merupakan penanda penting kedalaman tidur dan karakter restoratifnya,” kata Prof. Donata Kurpas dari Departemen Keperawatan di Universitas Kedokteran Wroclaw.
Gelombang lambat adalah salah satu komponen kunci dari tidur nyenyak, fase yang bertanggung jawab untuk regenerasi tubuh, pemulihan sumber daya energi, dan fungsi otak yang tepat, dikutip MedicalXpress.
Kafein pemicu tidur ‘dangkal’
Penelitian yang diterbitkan dalam Nutrients menunjukkan bahwa efek kafein tidak selalu bermanifestasi sebagai durasi tidur yang lebih pendek atau kesulitan tidur. Lebih sering, perubahan tersebut berkaitan dengan kualitas istirahat malam hari.
“Kafein dapat mempersingkat waktu tidur atau membuat lebih sulit untuk tertidur. Namun, bahkan ketika durasi tidur tampak normal, kafein dapat mengurangi aktivitas gelombang lambat dan menggeser pola EEG ke arah otak yang lebih terjaga,” kata Kurpas.

Ini berarti tubuh mungkin menghabiskan delapan jam di tempat tidur, tetapi otak mungkin gagal untuk beregenerasi sepenuhnya. Orang sering tidak menyadari hal ini.
“Perasaan subjektif telah tidur nyenyak tidak selalu sesuai dengan apa yang diamati peneliti dalam rekaman neurofisiologis. Seseorang mungkin tertidur tanpa kesulitan besar dan tidak mengingat terbangun, sementara otak mungkin menunjukkan lebih sedikit ciri tidur nyenyak,” tambahnya.
Salah satu kesimpulan paling menarik yang muncul dari penelitian adalah variabilitas individu yang sangat besar dalam respons terhadap kafein. Genetika, laju metabolisme, usia, tingkat stres, dan kelelahan kronis semuanya berperan.
Bagi sebagian individu, bahkan kopi yang dikonsumsi di pagi hari pun dapat menjadi masalah. “Ini bukan hanya tentang kopi yang dikonsumsi tepat sebelum tidur. Bagi sebagian orang, jumlah total kafein yang dikonsumsi sepanjang hari dan apakah tubuh memiliki cukup waktu untuk memetabolisme kafein tersebut sebelum malam tiba, juga penting,” kata Kurpas.
Ini adalah informasi yang sangat penting bagi orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan intelektual, atlet, dan siapa pun yang secara teratur menggunakan kafein untuk meningkatkan kinerja dan konsentrasi.
‘Pinjam’ energi dari tubuh
Kafein meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa lelah, tetapi para ahli menunjukkan bahwa efeknya terkadang menyerupai ‘meminjam’ energi dengan mengorbankan regenerasi di malam hari.
“Jika kafein membantu seseorang berfungsi di siang hari sementara secara bersamaan memperburuk kualitas pemulihan di malam hari, lingkaran setan dapat berkembang: kelelahan yang lebih besar, kebutuhan stimulasi yang lebih besar, dan kualitas tidur yang lebih buruk,” kata Kurpas.
Oleh karena itu, penelitian tidur modern semakin menjauh dari pertanyaan sederhana tentang durasi tidur dan lebih berfokus pada bagaimana otak berfungsi selama istirahat malam.
“Kafein bukanlah sesuatu yang baik atau buruk. Ini adalah zat aktif secara biologis yang efeknya bergantung pada dosis, waktu, usia, gaya hidup, kualitas tidur, beban stres, dan sensitivitas individu,”tandasnya. (BS)