Berandasehat.id – Suara serak dalam jangka lama dan tidak kunjung sembuh, bisa jadi alarm tanda bahaya. Pasalnya, perubahan suara (serak) yang menetap bisa jadi menjadi tanda keganasan kanker tiroid.
Kanker tiroid terjadi ketika sel-sel abnormal pada jaringan tiroid tumbuh secara tidak terkendali dan membentuk tumor ganas. Sebagian besar kanker tiroid tumbuh lambat dan memiliki tingkat kesembuhan yang sangat tinggi, terutama jika dideteksi dan ditangani sejak dini.
Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Onkologi RS Pondok Indah, dr. Diani Kartini Sp.B., Subsp. Onk.(K, menyampaikan gejala kanker tiroid sering kali tidak khas dan dapat menyerupai kondisi lain yang lebih ringan, sehingga kerap diabaikan.
Ada sejumlah tanda yang perlu diwaspadai terkait kanker tiroid, yakni benjolan di leher yang ikut bergerak saat menelan, rasa mengganjal atau sulit menelan makanan, sesak napas atau batuk yang tidak kunjung sembuh, serta perubahan suara serak yang menetap.
Diani mengatakan, suara serak pada kanker tiroid berbeda dengan serak biasa akibat flu atau iritasi tenggorokan. “Kalau serak pada kanker tiroid, biasanya terjadi karena kanker sudah menginfiltrasi saraf pita suara yang letaknya dekat dengan tiroid. Jadi seraknya menetap dan tidak membaik seperti serak biasa meskipun sudah diberi obat untuk faringitis,” terangnya dalam diskusi media yang dihelat RS Pondok Indah di Jakarta, baru-baru ini.

Kanker tiroid bisa menyebabkan suara serak karena tumor yang membesar menekan atau menyerang saraf laring berulang (saraf laring rekuren), yaitu saraf yang mengontrol pita suara.
Untuk diketahui, kelenjar tiroid dengan bentuk menyerupai kupu-kupu terletak di pangkal leher, tepat di depan dan mengelilingi batang tenggorokan (trakea), posisinya sangat dekat dengan saraf pita suara. Apabila sel kanker tumbuh dan membentuk benjolan besar (nodul tiroid), tumor ini mendesak jaringan atau organ di sekitarnya, termasuk saraf laring.
Nah, dalam beberapa kasus yang lebih lanjut, sel kanker bisa menginfiltrasi (menyusup ke dalam) saraf tersebut, melumpuhkan pita suara, sehingga terdengar serak.
Meskipun suara serak tak selalu mengindikasikan kanker tiroid, jika serak yang tidak kunjung membaik, disertai benjolan di leher atau kesulitan menelan, segera konsultasikan dengan dokter.
Diani menyampaikan, kanker tiroid lebih sering terjadi pada wanita, bahkan hingga empat kali lipat dibandingkan pria, dengan mayoritas kasus ditemukan pada usia produktif sekitar 50–54 tahun. “Kasus kanker tiroid pada perempuan berkaitan dengan pengaruh hormon estrogen yang dapat memengaruhi pertumbuhan sel tiroid,” ujarnya.
Selain itu, perempuan juga lebih rentan mengalami gangguan hormonal dan penyakit autoimun pada tiroid, seperti Hashimoto dan Graves, yang diduga ikut meningkatkan risiko terjadinya kanker tiroid.
Penanganan kanker tiroid
Jika tidak ditangani dengan baik, kanker tiroid dapat menyebar ke jaringan di sekitarnya maupun ke organ lain. Lebih lanjut Diani menjelaskan, operasi masih menjadi terapi utama dalam penanganan kanker toroid. “Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat sebagian atau seluruh kelenjar tiroid yang terkena kanker,” ujarnya.
Operasi sangat penting karena terapi lain, termasuk terapi yodium radioaktif (radioactive iodine/RAI), tidak dapat bekerja optimal jika jaringan kanker utama belum diangkat. “Kalau tiroidnya belum dioperasi, yodium radioaktif justru akan terserap ke jaringan tiroid normal sehingga target terapinya tidak tercapai,” tandasnya.
Teknik operasi tiroid juga terus berkembang. Selain operasi terbuka, tersedia pula metode minimal invasif menggunakan endoskopi yang dapat dilakukan melalui ketiak bahkan lewat mulut. “Teknik ini hanya digunakan pada kasus tertentu dengan ukuran tumor yang relatif kecil,” ujar Diani.
Kanker tiroid terbilang unik. Pasalnya, banyak orang mengira hasil pemeriksaan hormon tiroid yang normal berarti tidak memiliki masalah serius pada kelenjar tiroid. Kondisi tersebut tidak selalu berlaku pada kanker tiroid.
Menurut Diani, cukup banyak pasien kanker tiroid yang justru memiliki hasil tes darah normal, sehingga pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan bila ditemukan benjolan atau gejala mencurigakan.

Pemeriksaan biasanya diawali dengan USG tiroid untuk melihat karakteristik benjolan, apakah berbentuk padat atau berisi cairan, serta bagaimana batas dan aliran pembuluh darahnya.
Adapun pemeriksaan biopsi jarum halus (fine needle aspiration biopsy/FNAB) menjadi salah satu prosedur penting untuk memastikan apakah benjolan bersifat jinak atau ganas. Namun demikian, diagnosis pasti kanker tiroid tetap ditentukan melalui pemeriksaan patologi anatomi setelah operasi.
Kanker tiroid merupakan salah satu penyakit yang paling bisa disembuhkan dengan peluang kesembuhan yang sangat tinggi, jika terdeteksi sejak awal.
Pada beberapa kasus, kanker tiroid dapat muncul kembali setelah pengobatan. Dokter akan memantau tanda-tanda kekambuhan penyakit melalui tes darah dan pemeriksaan pemindaian seluruh tubuh. (BS)