Berandasehat.id – Kemasan modern, aroma buah, dan citra yang dianggap lebih aman membuat vape semakin mudah diterima di lingkungan anak muda, padahal tetap mengandung nikotin adiktif dan berbagai zat kimia yang berpotensi merusak kesehatan paru.

Yayasan Kanker Indonesia (YKI) memperingatkan bahwa semakin banyak remaja terpapar nikotin melalui rokok elektrik (vape) tanpa disadari oleh orang tua.

Wakil Ketua Umum II Yayasan Kanker Indonesia sekaligus Ketua Bidang Sosial dan Masyarakat YKI, Murniati Widodo, menyampaikan Indonesia saat ini masih menghadapi beban besar konsumsi produk tembakau, dengan sekitar 70 juta perokok aktif.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi merokok pada anak dan remaja usia 10–18 tahun masih mencapai 7,4 persen, menandakan tantangan serius dalam melindungi generasi muda dari paparan nikotin.

“Masyarakat tidak boleh tertipu oleh kemasan modern vape yang menutupi risiko kesehatan sebenarnya,” ujar Murniati.

YKI menilai ancaman vape kini semakin sulit dikenali. Berbeda dengan rokok konvensional yang memiliki bau khas, vape hadir dalam berbagai aroma manis dan bentuk menyerupai perangkat elektronik sehingga penggunaannya sering luput dari perhatian keluarga maupun lingkungan sekitar.

Murniati menekankan, yang paling mengkhawatirkan bukan hanya meningkatnya penggunaan vape, tetapi banyak orang tua yang tidak menyadari anaknya sudah terpapar nikotin. “Karena aromanya manis dan tidak meninggalkan bau seperti rokok konvensional, penggunaan vape sering luput dari perhatian keluarga,” tandasnya.

Selain itu, normalisasi vape di media sosial dan pergaulan sehari-hari membuat banyak remaja menganggap penggunaan vape sebagai sesuatu yang wajar dan tidak berisiko.

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa vape tetap mengandung zat adiktif yang dapat memicu ketergantungan nikotin dan berdampak buruk bagi kesehatan.

Menurutnya, persepsi bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional merupakan kesalahpahaman yang perlu diluruskan. “Jangan tertipu kemasan modern dan aroma manis,” sebutnya. “Paru-paru tidak mengenal istilah ‘lebih aman’. Yang masuk tetap bahan kimia.”

Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2026, YKI mengangkat tema “Ini Bahaya, Bukan Gaya!” sebagai ajakan kepada masyarakat untuk lebih waspada terhadap berbagai bentuk paparan nikotin, termasuk melalui rokok elektrik.

Ketua Umum Komisi Pengendalian Tembakau, Prof. DR. dr. Hasbullah Thabrany, mengatakan bahwa baik rokok maupun vape sama-sama mengandung nikotin yang bersifat adiktif dan berbahaya bagi kesehatan.

“Baik rokok maupun vape mengandung nikotin yang dapat menyebabkan ketergantungan dan berdampak buruk bagi kesehatan,” ujarnya. “Karena itu masyarakat perlu menghindari keduanya untuk melindungi kesehatan diri dan keluarga.”

Mewaspadai potensi bahaya EVALI

YKI juga mengingatkan adanya risiko gangguan paru serius yang dikenal sebagai EVALI (E-cigarette or Vaping Product Use-Associated Lung Injury).

Kondisi itu dapat menimbulkan sesak napas, batuk berkepanjangan, nyeri dada, hingga memerlukan perawatan intensif.

Sebagai bagian dari upaya edukasi publik, YKI menghadirkan pembahasan khusus mengenai bahaya vape melalui YKI TV dengan menghadirkan para ahli kesehatan untuk membantu masyarakat memahami fakta medis di balik rokok elektrik dan dampaknya terhadap kesehatan paru. (BS)