Berandasehat.id – Tubuh manusia dihuni oleh triliunan mikroorganisme yang terdiri atas bakteri baik dan bakteri jahat. Keseimbangan keduanya menjadi kunci agar sistem pencernaan dapat bekerja secara optimal.

Untuk diketahui, sebagian besar bakteri baik berada di saluran pencernaan. Ketika keseimbangannya terganggu, berbagai masalah pencernaan dapat muncul, mulai dari perut tidak nyaman, diare, hingga konstipasi/sembelit.

Menurut dr. Miza Afrizal Azwir, Sp.A., BMedSci, MKes, gangguan pada sistem pencernaan dapat memicu berbagai dampak yang tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga mempengaruhi perilaku dan kondisi emosional anak.

“Ketika terjadi gangguan pada saluran pencernaan, dampaknya tidak hanya dirasakan di perut, tetapi juga dapat mempengaruhi mood anak, membuatnya lebih rewel, sulit makan, hingga mengganggu kualitas tumbuh kembangnya,” tutur dr. Miza di acara temu media LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka Jakarta, Jumat (5/6).

Pencernaan yang berfungsi dengan baik membantu gizi dari makanan terserap secara optimal oleh tubuh, mendukung anak untuk makan dengan lahap, tidur lebih nyenyak, dan bermain dengan percaya diri.

Untuk menjaga keseimbangan mikrobiota tersebut, dr. Miza menekankan pentingnya asupan prebiotik dan probiotik. Meskipun sekilas mirip, namun keduanya memiliki fungsi berbeda.

Peluncuran LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka Jakarta, Jumat (5/6) – dok. Berandasehat.id

Dia menjelaskan prebiotik berfungsi mendukung pertumbuhan dan aktivitas bakteri baik. Karena bekerja di usus besar, perannya sangat penting dalam menjaga konsistensi feses dan kesehatan saluran cerna bagian bawah.

Adapun probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan bagi tubuh. Salah satu probiotik yang paling banyak diteliti adalah Lactobacillus reuteri atau kerap disebut L. reuteri.

Lactobacillus reuteri merupakan salah satu probiotik pertama yang terekspos pada manusia, mulai dari dalam kandungan hingga setelah lahir.

Sejumlah penelitian telah dilakukan terhadap L. reuteri, dan manfaat bakteri baik itu didukung oleh berbagai studi ilmiah.

Penelitian L. reuteri telah dilakukan di lebih dari 290 publikasi klinis yang melibatkan sekitar 25.000 individu dari berbagai kelompok usia. “Berbagai penelitian ini menunjukkan bahwa L. reuteri terbukti klinis dapat bekerja di seluruh saluran pencernaan, membantu menjaga keseimbangan mikrobiota dan mendukung kenyamanan pencernaan untuk penyerapan gizi yang optimal,” tutur dr. Miza.

LACTOGROW Digestion Expert Lab

Selaras dengan semangat Hari Kesehatan Pencernaan Sedunia, LACTOGROW Digestion Expert Lab, pengalaman edukatif imersif pertama di Indonesia untuk pencernaan sehat anak, digelar di Mal Kota Kasablanka, Jakarta pada 5–7 Juni 2026, dan Transmart Makassar, 26–28 Juni 2026.

Anak didampingi ibu melakukan eksplorasi di LACTOGROW Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka Jakarta

Inisiatif ini mengajak orang tua dan anak memahami pentingnya pencernaan sehat untuk tumbuh kembang optimal melalui teknologi imersif, zona stimulasi edukatif, dan diskusi bersama dokter spesialis anak.

“Digestion Expert Lab merupakan wujud komitmen jangka panjang LACTOGROW dalam mendampingi orang tua memahami pentingnya pencernaan sehat bagi tumbuh kembang anak,” kata Vera Gozali, Category Marketing Manager PT Nestlé Indonesia.

Melalui LACTOGROW Digestion Expert Lab dan fitur digital terbaru Digestion Poop Check, acara ini hadirkan edukasi pencernaan yang interaktif, mudah dipahami, dan dekat dengan keseharian.

Tak dimungkiri, orang tua saat ini semakin teliti dan kritis dalam memilih asupan gizi untuk anak mereka, dan itu hal yang positif. “Untuk menjawab kebutuhan ini, LACTOGROW hadir sebagai pilihan gizi harian untuk mendukung pencernaan sehat anak, dengan formulasi 0 gram sukrosa,” tandas Vera. (BS)