Berandasehat.id – Bayi minum ASI yang menerima suplementasi zat besi menunjukkan lebih sedikit perilaku agresif pada usia 3 tahun dibandingkan dengan anak-anak yang tidak menerima suplementasi, menurut penelitian baru dari Universitas Umeå.

Namun, diperlukan lebih banyak penelitian sebelum suplementasi zat besi dapat direkomendasikan untuk semua bayi.

“Hasil studi kami cukup menjanjikan, namun penelitian yang dirancang dengan lebih baik diperlukan untuk memperhitungkan faktor-faktor seperti pengaruh genetik dan kondisi lingkungan selama masa kanak-kanak yang dapat mempengaruhi perilaku anak-anak,” kata Anna Chmielewska, profesor pediatri di Departemen Ilmu Klinis, Universitas Umeå.

Penelitian ini melibatkan 221 anak-anak yang sehat dan lahir cukup bulan di Swedia dan Polandia.

Separuh dari anak-anak tersebut secara acak menerima suplementasi zat besi dosis rendah setiap hari antara usia 4 dan 9 bulan, sementara separuh lainnya menerima plasebo.

Pada usia 3 tahun, anak-anak ditindaklanjuti dan dinilai atas perilaku agresif dan eksternalisasi, kesulitan perhatian, dan perilaku menarik diri.

Hasil studi menunjukkan kelompok yang menerima suplementasi zat besi menunjukkan lebih sedikit masalah perilaku dibandingkan kelompok plasebo (kontrol).

“Sungguh luar biasa bahwa kelompok yang menerima suplementasi zat besi tidak memiliki risiko kekurangan zat besi yang lebih rendah, namun mereka masih merasakan efek positif tertentu dari suplementasi tersebut,” kata Chmielewska.

Status zat besi biasanya dinilai melalui tes darah. Namun tes tersebut tidak mencerminkan ketersediaan zat besi di otak, dimana kekurangan zat besi dapat terjadi sebelum terdeteksi di dalam darah.

“Kita kekurangan biomarker yang dapat menunjukkan berapa banyak zat besi yang tersedia di otak. Pada saat yang sama, kita tahu bahwa zat besi sangat penting untuk perkembangan dan fungsi sel-sel otak,” kata Chmielewska.

Selanjutnya, kelompok peneliti Chmielewska akan melakukan penelitian lanjutan terhadap anak-anak yang sama pada usia 8 tahun untuk menentukan apakah efeknya bertahan lama.

Hipotesisnya adalah peningkatan ketersediaan zat besi di otak menyebabkan lebih sedikit masalah perilaku.

Tiga tahun pertama kehidupan sangat penting untuk perkembangan otak. Telah diketahui bahwa 1 dari 5 anak di bawah usia 5 tahun mengalami kekurangan zat besi.

“Saya berharap temuan kami akan berkontribusi pada rekomendasi yang membantu mencegah masalah perilaku serius pada anak-anak,” tandas Chmielewska. (BS)