Berandasehat.id – Meskipun kurang populer dibandingkan kanker serviks dan ovarium, kanker endometrium menempati peringkat ketiga pada kanker reproduksi perempuan. Cukup meresahkan, karena dalam beberapa tahun terakhir insidennya meningkat hingga dua kali lipat.

Menurut dr. Renny Anggia Julianti, Sp. O.G, Subsp. Onk, Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, tumbuh di lapisan dalam rahim (endometrium), kanker endometrium menjadi salah satu jenis kanker rahim yang sering terjadi pada perempuan usia lanjut atau yang sudah memasuki masa menopause.

“Namun tidak menutup kemungkinan bahwa kondisi ini juga dapat terjadi pada pada perempuan muda,” ujarnya dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.

Data menunjukkan, insiden kanker endometrium sekira 2,1% dari keseluruhan kasus kanker yaitu 420.000 kasus baru setiap tahun, dengan angka kematian mencapai sekitar 29% dari jumlah kasus yang terjadi.

Kerap terlambat ditangani, gejala kanker endometrium kerap dianggap sebagai perubahan yang wajar menjelang maupun setelah menopause atau gangguan menstruasi biasa. “Umumnya pasien datang ke dokter saat kondisi sudah memburuk,” terang dr. Renny.

Penyebab pasti kanker endometrium hingga kini belum diketahui. Namun, kondisi ini sangat berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh. “Hormon estrogen yang terlalu tinggi dan tidak diimbangi oleh hormon progesteron dapat memicu penebalan dinding rahim yang berujung pada kanker,” bebernya.

dr. Renny Anggia Julianti, Sp. O.G, Subsp. Onk, Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi (dok. Berandasehat.id)

Risiko terkena kanker endometrium berpotensi meningkat bila memiliki sejumlah faktor, antara lain terbiasa mengonsumsi obat yang mengandung estrogen atau menstimulasi estrogen, kelebihan berat badan/gemuk, gaya hidup menetap kurang gerak, masalah infertilitas, sindrom metabolik, seperti diabetes melitus, hipertensi, hipertrigliseridemia hingga faktor genetik, seperti lynch syndrome atau mutasi gen BRCA.

Wasdapai tanda dan gejala

Lebih lanjut dr. Renny menyampaikan, gejala utama kanker endometrium mencakup pendarahan vagina setelah menopause (pascamenopause), perubahan pola menstruasi pada perempuan pramenopause, seperti pendarahan yang sangat hebat dan flek di luar jadwal haid.

Selain itu, kanker endometrium juga sering disertai dengan gejala tambahan, seperti keputihan encer atau bercampur darah, nyeri pada panggul dan perut bagian bawah, sakit saat berhubungan intim atau saat buang air kecil, serta ukuran rahim membesar padahal tidak hamil.

Diagnosis pasti kanker endometrium ditegakkan melalui pemeriksaan histopatologi yang merupakan pemeriksaan mikroskopis pada sampel jaringan tubuh yang diambil melalui biopsi (pengambilan sampel jaringan).

“Hasil pemeriksaan histopatologi menjadi dasar dalam menentukan diagnosis dan penanganan yang paling sesuai,” terangnya.

Kanker endometrium memiliki empat stadium, meliputi: Stadium I: Kanker belum menyebar ke luar rahim; Stadium II: Kanker berada di rahim tetapi juga telah menyebar ke leher rahim; Stadium III: Kanker telah menyebar ke vagina, indung telur, dan/atau kelenjar getah bening; Stadium IV: Kanker telah menyebar ke kandung kemih atau organ lain yang jauh dari rahim.

Penanganan kanker endometrium

Adapun penanganan kanker endometrium disesuaikan dengan stadium dan kondisi kesehatan pasien. Pilihan pengobatan kanker endometrium mencakup operasi (mengangkat rahim dan jaringan terkait untuk membuang sel kanker).

“Operasi adalah pengobatan utama yang umum dilakukan dan sering kali menjadi satu-satunya pilihan yang dibutuhkan pada kanker stadium awal,” beber dr. Renny.

Bagi sebagian orang yang masih ingin hamil atau pada kondisi pasien yang tidak cukup baik, operasi mungkin ditunda untuk sementara waktu, dan pengobatan lain dapat dicoba sebagai penggantinya.

Terapi lainnya adalah menggunakan sinar radiasi (radioterapi) berenergi tinggi untuk membunuh sel kanker. Prosedur ini digunakan setelah tindakan operasi untuk mencegah kanker datang kembali atau sebagai pengobatan utama jika pasien tidak bisa menjalani tindakan operasi.

Adapun kemoterapi merupakan terapi pengobatan yang bertujuan membunuh sel kanker yang berisiko menyebar ke bagian tubuh lain.

Penanganan lainnya adalah terapi hormonal bekerja dengan cara mengontrol kadar hormon di dalam tubuh guna memperlambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker. “Terapi ini dapat diberikan dalam bentuk obat minum, suntikan, atau IUD yang mengandung hormon sesuai indikasi dokter,” ujar dr. Renny.

Ada beberapa syarat untuk melakukan terapi ini, yaitu pasien berusia di bawah 40 tahun, derajat diferensiasi selnya baik, dan tidak ada penyebaran sel kanker ke otot rahim.

Peluang sembuh

Apakah kanker endometrium memiliki peluang untuk sembuh? Menurut dr. Renny, prognosis pasien kanker endometrium berbeda-beda pada setiap individu. “Peluang keberhasilan pengobatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti stadium kanker saat didiagnosis, kondisi kesehatan secara keseluruhan, serta respons pasien terhadap pengobatan yang diberikan,” terangnya.

Secara umum, kanker endometrium memiliki prognosis yang baik apabila terdeteksi dan ditangani sejak stadium awal. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini dan segera berkonsultasi dengan dokter sangat penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.

Ada sejumlah cara untuk mengurangi risiko kanker endometrium, di antaranya:

  1. Jaga berat badan ideal untuk mencegah penumpukan lemak tubuh yang dapat meningkatkan produksi hormon estrogen.
  2. Mengatur pola makan.
  3. Olahraga secara teratur, minimal 30 menit setiap hari, untuk membantu menjaga kebugaran dan keseimbangan hormon.
  4. Keloa penyakit penyerta, seperti diabetes melitus (DM) dan hipertensi.
  5. Konsultasi dengan dokter mengenai pilihan alat kontrasepsi yang sesuai. Pada kondisi tertentu, penggunaan pil KB kombinasi (estrogen dan progesteron) dapat memberikan efek perlindungan terhadap endometrium. (BS)