Berandasehat.id – Meningkatnya angka penyakit kronis, bertambahnya populasi lanjut usia, serta kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang semakin kompleks menjadikan inovasi bedah semakin penting, termasuk pengembangan layanan bedah robotik.
Layanan bedah robotik yang mudah diakses dapat mendukung pemulihan yang lebih optimal dan kualitas hidup yang lebih baik. Pemanfaatan teknologi kesehatan diyakini dapat meningkatkan kualitas layanan dan hasil klinis pasien di Indonesia
Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan, Yanti Herman menyampaikan penguatan kompetensi tenaga kesehatan, pengembangan layanan berbasis teknologi, serta kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang semakin aman, presisi, dan berkualitas.
“Inovasi bedah robotik tidak hanya mendorong kemajuan praktik bedah modern, tetapi juga memperkuat kapabilitas sistem kesehatan nasional agar masyarakat dapat mengakses layanan berstandar global lebih dekat dengan rumah,” ujarnya di sela Siloam Robotic Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (18/7).

Perkembangan tersebut sejalan dengan semakin kuatnya bukti ilmiah mengenai manfaat bedah robotik. Studi menunjukkan bahwa teknologi ini memungkinkan sayatan yang lebih kecil, nyeri pascaoperasi yang lebih ringan, masa rawat inap yang lebih singkat, serta risiko komplikasi yang lebih rendah dibandingkan pendekatan konvensional.
Siloam International Hospitals terus memperkuat kapabilitas klinis dan telah memelopori layanan bedah robotik selama setahun terakhir di berbagai disiplin, termasuk ortopedi, urologi, bedah digestif, dan neurologi.
Dengan tujuh sistem robotik yang beroperasi di Jakarta, Surabaya, Bali, dan Makassar, Siloam telah membangun salah satu ekosistem bedah robotik paling komprehensif di Indonesia, sehingga semakin banyak masyarakat dapat mengakses layanan bedah berteknologi tinggi tanpa harus berobat ke luar negeri.
Penguatan ekosistem dan kapabilitas klinis tersebut telah menghasilkan berbagai capaian yang terukur dalam praktik robotik di Siloam. “Berdasarkan evaluasi klinis internal Siloam, pemanfaatan bedah robotik menunjukkan manfaat yang terukur dalam aspek presisi, keselamatan, dan pemulihan pasien,” ujar Chief Medical Officer, Siloam International Hospitals Grace Frelita.
Melalui Siloam Knee Arthroplasty Registry yang membandingkan operasi lutut robotik dan konvensional dari empat rumah sakit Siloam, ditemukan tingkat keamanan yang setara, dengan 0% readmisi (pasien dirawat kembali) 30 hari dan 0% infeksi pada kedua kelompok.
Grace menuturkan, pasien yang menjalani prosedur robotik menunjukkan pemulihan lebih cepat dengan rata-rata lama rawat inap 4,5 hari dibandingkan 6,2 hari pada prosedur konvensional.
“Dari sisi presisi, hampir seluruh prosedur robotik yang dievaluasi mencapai target keseimbangan sendi lutut sesuai rencana operasi,” bebernya seraya menambahkan temuan ini sejalan dengan berbagai penelitian internasional yang menunjukkan bahwa teknologi robotik mendukung tingkat presisi yang tinggi dalam operasi penggantian sendi lutut.
Pada penggunaan sistem bedah robotik Da Vinci Xi, penelitian menunjukkan lama rawat inap hampir dua hari lebih singkat, risiko komplikasi pascaoperasi 44% lebih rendah, dan risiko kematian dalam 30 hari hingga 46% lebih rendah.
Dibandingkan laparoskopi konvensional, Da Vinci Xi juga menurunkan risiko konversi ke bedah terbuka sebesar 56% dan komplikasi pascaoperasi sebesar 10%.
Dengan tingkat presisi yang semakin tinggi, bedah robotik juga membantu dokter menangani kasus-kasus kompleks dengan akurasi yang lebih baik sehingga mendukung pemulihan pasien dan peningkatan kualitas hidup.
Center of Robotic & Minimally Invasive Surgery
Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem bedah robotik, Siloam Hospitals Kebon Jeruk dikembangkan sebagai Center of Robotic & Minimally Invasive Surgery, pusat unggulan untuk layanan, pendidikan, penelitian, dan pengembangan bedah robotik lintas disiplin.

Didukung oleh 10 dokter bedah robotik tersertifikasi, Siloam Hospitals Kebon Jeruk telah melakukan lebih dari 100 prosedur bedah robotik sejak mengoperasikan sistem Da Vinci Xi pada 2025, mencakup berbagai prosedur di bidang ortopedi, urologi, bedah digestif, dan spesialisasi lainnya.
Tonggak perjalanan tersebut dirayakan melalui penyelenggaraan Siloam Robotic Summit 2026 bertema Transforming Surgery Through Robotics: Advancing Precision Across Surgical Disciplines yang menghadirkan lebih dari 30 ahli bedah, dokter spesialis, akademisi, dan pakar teknologi medis dari dalam maupun luar negeri untuk mempercepat transfer pengetahuan, memperkuat kapabilitas klinis, serta mendorong adopsi inovasi bedah robotik berstandar global di Indonesia.
Grace menekankan bahwa kemajuan bedah robotik bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi tersebut diterjemahkan menjadi hasil klinis yang lebih baik, pemulihan yang lebih optimal, dan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien.
“Melalui kolaborasi dan pembelajaran yang berkelanjutan, kami berharap semakin banyak masyarakat Indonesia dapat mengakses layanan bedah berstandar global dan memperoleh manfaat dari inovasi ini di dalam negeri,” pungkasnya. (BS)