Berandasehat.id – Tidak semua penyakit menunjukkan gejala yang jelas sejak awal, sejumlah penyakit berkembang secara diam-diam dan tidak disadari saat mulai berdampak serius pada kesehatan. Sindrom metabolik (MetS) adalah salah satunya.

Sindrom metabolik bukanlah penyakit tunggal, melainkan kombinasi dari setidaknya tiga kondisi—termasuk tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, lemak perut berlebih, trigliserida tinggi, dan kolesterol HDL (kolesterol baik) yang rendah—yang secara bersama-sama meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.

Dalam sebuah studi terbaru yang diterbitkan di iScience, para peneliti berupaya menentukan jenis olahraga apa yang paling efektif untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan yang terkait dengan sindrom metabolik.

Mereka mengamati 10 jenis olahraga yang berbeda, mulai dari olahraga konvensional seperti berjalan kaki dan angkat beban hingga teknik yang lebih modern seperti high-intensity interval training (HIIT) dan praktik tradisional Tiongkok seperti tai chi.

Analisis tersebut mengungkapkan bahwa dalam hal mengatasi sindrom metabolik, tidak semua jenis olahraga memberikan hasil yang sama. Pilihan terbaik bergantung pada target yang ingin dicapai. Sebagai contoh, kombinasi antara latihan aerobik dan latihan ketahanan terbukti paling efektif untuk mengecilkan ukuran pinggang, menurunkan BMI, atau mengendalikan kadar kolesterol LDL dan gula darah.

Sementara itu, untuk meningkatkan kadar HDL (kolesterol baik) dan menurunkan tekanan darah sistolik, olahraga yang memadukan pikiran dan tubuh (mind-body exercises) seperti tai chi dan qigong terbukti paling unggul.

Menemukan jenis olahraga yang tepat

Kasus sindrom metabolik terus meningkat secara global. Sebuah studi tahun 2025 menemukan bahwa antara tahun 2000 hingga 2023, jumlah kasus pada wanita meningkat hampir dua kali lipat—dari 14,7% menjadi 31,0%—dan pada pria meningkat hampir tiga kali lipat—dari 9,0% menjadi 25,7%.

Per tahun 2023, diperkirakan terdapat 1,54 miliar orang dewasa di seluruh dunia yang hidup dengan kondisi ini.

Krisis global ini memerlukan perhatian segera karena risikonya sangat besar: orang dengan sindrom metabolik menghadapi risiko kematian akibat masalah kardiovaskular yang 64% lebih tinggi dan risiko kematian akibat penyebab apa pun yang 45% lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengidapnya.

Sindrom ini juga dikaitkan dengan penyakit perlemakan hati non-alkoholik, polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS) -sebelumnya dikenal dengan istilah PCOS, dan bahkan jenis kanker tertentu.

Meskipun obat-obatan dapat membantu menangani kondisi seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, lemak perut berlebih, dan kolesterol tinggi, obat-obatan tersebut menangani setiap masalah secara terpisah, bukan mengatasi akar permasalahan yang mendasari keterkaitan antar-kondisi tersebut.

Diet dan olahraga tetap menjadi pendekatan paling efektif karena keduanya mengatasi beberapa faktor risiko tersebut secara bersamaan.

Olahraga dikenal luas sebagai cara untuk melawan sindrom metabolik, namun dokter memiliki sedikit acuan dalam menentukan jenis latihan yang tepat untuk masalah spesifik seseorang.

Sebagian besar penelitian hingga saat ini hanya fokus pada beberapa jenis olahraga atau mengukur satu indikator kesehatan saja dalam satu waktu, sehingga gagal memberikan gambaran yang utuh.

Dalam penelitian ini, para peneliti menguji berbagai jenis latihan terhadap seluruh spektrum indikator sindrom metabolik untuk melihat mana yang paling efektif untuk kondisi tertentu.

Mereka melakukan tinjauan sistematis dengan menelusuri enam basis data medis global utama untuk menemukan semua penelitian relevan yang dipublikasikan mengenai olahraga dan sindrom metabolik.

Berawal dari 7.715 catatan, mereka mengerucutkan pilihan menjadi 53 uji coba terkontrol secara acak (RCT) yang melibatkan 2.948 partisipan.

Tim peneliti kemudian meneliti bagaimana 10 jenis olahraga berbeda—termasuk yoga, latihan ketahanan, dan latihan aerobik—memengaruhi indikator utama sindrom metabolik: BMI, ukuran pinggang, persentase lemak tubuh, kadar kolesterol, tekanan darah, dan kadar gula darah.

Penelitian tersebut menemukan bahwa tidak ada satu jenis olahraga pun yang unggul secara mutlak dalam semua aspek sindrom metabolik. Sebaliknya, jenis olahraga yang berbeda tampak lebih efektif untuk masalah kesehatan yang berbeda pula.

HIIT bervolume tinggi (melibatkan latihan intensitas tinggi selama lebih dari 15 menit) terbukti paling efektif dalam menurunkan persentase lemak tubuh. Sementara itu, HIIT bervolume rendah (melibatkan aktivitas intens dalam durasi singkat) memberikan hasil terbaik dalam menurunkan trigliserida, kolesterol total, dan tekanan darah diastolik.

Mengingat jenis olahraga yang berbeda tampaknya menyasar masalah yang berbeda, para peneliti menyarankan pendekatan olahraga yang lebih personal bagi penderita sindrom metabolik (MetS).

Alih-alih memberikan saran latihan yang sama kepada semua orang, dokter dapat merekomendasikan jenis olahraga spesifik berdasarkan masalah kesehatan utama individu tersebut.

Namun, para peneliti mencatat bahwa bukti keseluruhan untuk sebagian besar perbandingan dalam penelitian ini memiliki tingkat kepastian yang rendah atau sangat rendah. Hal ini merupakan hal yang lumrah dalam ilmu olahraga, di mana desain penelitian sering kali sangat bervariasi, sehingga hasilnya sulit untuk dibandingkan dan dipercaya.

Untuk memastikan sejauh mana temuan ini berlaku dalam situasi nyata, uji coba di masa mendatang perlu menguji jenis-jenis olahraga ini secara berdampingan dalam kondisi yang terstandarisasi, demikian laporan Science x Network. (BS)